Menulis Populer Turunkan Sikap Radikalis

Sabtu, 14 Oktober 2017, 11:00:00 WIB - Peristiwa

Presiden Joko Widodo (tengah) berfoto bersama para rektor dalam aksi kebangsaan perguruan tinggi melawan radikalisme di Pulau Peninsula Nusa Dua, Bali, Selasa (26/9). (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM – Wakil Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Dr. Waryono, M.Ag., menegaskan, gerakan menulis populer di kalangan akademisi dan peneliti, dipastikan mampu menurunkan penyebaran sikap radikalis di kalangan peneliti.

"Pelatihan menulis populer dan opini mampu menurunkan penyebaran sikap radikalis di kalangan masyarakat Indonesias," ujar Waryono, dalam siaran pers yang diterima gresnews.com, Sabtu (14/10).

Ia menjelaskan, dengan menulis populer yang didasarkan pada data-data dan karya tulis ilmiah, maka pemberitaan yang beredar di masyarakat diwarnai oleh informasi yang akurat. Sebab setiap tulisan ilmiah yang dilakukan peneliti telah melewati saringan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Dampaknya, jelas Waryono, masyarakat tidak serta merta menggunakan pendekatan keagamaan untuk membenarkan tindakannya. Dengan demikian, tindakan radikalisme dapat diminimalisasi. "Ada pencerahan yang didapatkan masyarakat dari penulisan populer," papar dia.

Selain itu, penyebaran tulisan populer berdasarkan karya ilmiah juga dapat meningkatkan kecerdasan masyarakat yang membacanya. Sehingga bisa lebih selektif dalam memilah informasi yang perlu dibaca dan yang tidak.

"Menulis populer juga dapat menurunkan penyebaran hoax atau berita palsu yang beredar di masyarakat Indonesia. Sehingga masyarakat tidak terpengaruh untuk bertindak yang tidak tepat," papar dia.

Menurutnya, penulisan populer sangat penting bagi kalangan mahasiswa sebagai bagian dari kalangan akademisi dan peneliti. Apalagi mahasiswa merupakan tulang punggung bangsa yang harus berjuang bagi penyebaran berita-berita produktif dan edukatif.

"Kebiasaan untuk menulis populer akan mendorong mahasiswa untuk menyebarkan informasi berbasis data yang akurat. Hal itu tentunya akan mencegah penyebaran berita hoax dan sifat radikal di kalangan kampus. Dan kami menyambut baik kegiatan ini sebagai upaya perguruan tinggi mengantisipasi penyebaran gerakan radikalisme dan hoax," tandas dia. (mag)

Komentar