Vonis Uang Pengganti Kepada DGI, Sejarah Baru Menghukum Korporasi di Kasus Korupsi

Senin, 04 Desember 2017, 10:00:00 WIB - Peristiwa

Terdakwa kasus korupsi proyek pengadaan alat kesehatan di RS Pendidikan Khusus Penyakit Infeksi dan Pariwisata Universitas Udayana, Bali serta proyek Wisma Atlet Palembang, Sumatera Selatan Dudung Purwadi meninggalkan ruangan seusai menjalani sidang putusan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (27/11). (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Peneliti Institute for Criminal Jutice Reform (ICJR) Dirga Sustira mengatakan, putusan hakim Pengadilan Tipikor Jakarta membebankan kewajiban membayar uang pengganti kepada korporasi, yaitu PT Duta Graha Indah (DGI) yang telah berubah nama menjadi PT Nusa Konstruksi Enjiniring (NKE) merupakan putusan bersejarah. 'Ini merupakan putusan yang cukup bersejarah, ini putusan pertama terhadap korporasi yang ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK yang di hukum untuk membayarkan pidana uang pengganti kepada negara,' kepada gresnews.com, Senin (4/12).

Seperti diketahui, Pengadilan Tipikor Jakarta pada Senin, 27 November 2017, menghukum membebankan kewajiban membayar uang pengganti kepada PT DGI atau PT NKE Rp14,4 miliar untuk proyek pembangunan RS Pendidikan Khusus Universitas Udayana tahun 2009 dan 2010 serta sebesar Rp33,4 miliar untuk proyek pembangunan wisma atlet dan gedung serbaguna Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Vonis ini merupakan bagian dari putusan yang dibacakan atas kasus korupsi dengan terdakwa Dudung Purwadi selaku Mantan Direktur Utama PT DGI.

ICJR, kata Dirga, mengapresiasi putusan ini. 'Sebelumnya telah ada putusan terhadap korporasi dalam kasus tindak pidana korupsi namun diajukan bukan oleh KPK, melainkan oleh Kejaksaan yakni dalam kasus PT Giri Jaladhi Wana,' ujarnya.

Menurut pandangan ICJR, perlu dicatat mengenai alasan hakim yang memutuskan uang pengganti diwajibkan dibayar oleh korporasi PT NKE. Hakim menilai, selama persidangan berlangsung Dudung Purwadi tidak terbukti melakukan tindakan memperkaya diri sendiri, namun dirinya terbukti memperkaya orang lain dan korporasi. Majelis hakim juga menilai bahwa, besaran uang pengganti harus dihitung dengan uang-uang yang telah diserahkan atau dititipkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi.



'Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) mendukung atas putusan tersebut guna menjadi rujukan maupun preseden bagi kasus korupsi lainnya yang melibatkan korporasi serta langkah yang efektif untuk mencegah dan memberantas tindak pidana korupsi,' tegas Dirga.

Dalam UU Pemberantasan Tipikor (UU Nomor 31 tahun 1999 jo. UU Nomor 20 tahun 2001) tidak memuat pengertian secara definitif mengenai uang pengganti. Namun, dalam Pasal 18 Ayat (1) UU Pemberantasan Tipikor, secara tersirat dapat diartikan bahwa uang pengganti adalah pidana tambahan selain pidana tambahan yang dimaksud dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana, yang jumlahnya sebanyak-banyaknya sama dengan harta benda yang diperoleh dari tindak pidana korupsi.

Catatan penting atas putusan ini adalah bahwa putusan atas kewajiban membayar uang pengganti yang dibebankan kepada korporasi sesuai dengan PERMA No. 13 tahun 2016 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Tindak Pidana oleh Korporasi. Selain itu putusan tersebut juga telah sesuai dengan PERMA No. 5 tahun 2014 tentang Pidana Tambahan Uang Pengganti dalam Tindak Pidana Korupsi, terutama sebagaimana tercantum dalam Pasal 7 Ayat (1) yang menyatakan bahwa korporasi dapat dikenakan pidana tambahan pembayaran uang pengganti.

'Dengan hadirnya putusan tersebut, agar dapat menjadi rujukan bagi KPK untuk segera mengambil langkah cepat dan responsif bagi kasus pidana korupsi lainnya yang melibatkan korporasi. Diharapkan dengan hadirnya putusan ini KPK tidak ragu-ragu lagi dalam menuntut korporasi sebagai terdakwa korupsi di Indonesia,' pungkasnya. (mag)

Komentar