Pesan untuk Sutradara Isu Komunisme

Senin, 16 Mei 2016, 06:43:00 WIB - Opini

Foto: ANTARA

Oleh: Taswa Witular (Kang Away) *)

Sebuah dongeng, ada dua orang anak manusia yang sedang memperebutkan kursi kerajaan. Seperti biasa, seseorang yang mengikuti kontestasi politik akan menggunakan jasa konsultan politik untuk membuat fondasi kampanye. Menariknya, kedua calon pejabat itu, tanpa saling mengetahui, sama-sama menggunakan jasa konsultan yang sama: Tukimin Wijoyo.

Sang konsultan tersebut memanfaatkan momen itu bukan untuk mengumpulkan koin, terbukti dari keengganannya menerima kompensasi finansial dari kedua calon. Tukimin juga menampikan etika politik. Dengan alasan bahwa dia orang yang punya kewajiban belajar, Tukimin menerima dengan tangan terbuka kedatangan si A dan si B.

Kepada si A, Tukimin menyarankan agar membangun isu yang membuat rakyat "ketakutan". Gunakan peristiwa-peristiwa masa lalu yang terjadi dalam sejarah sebagai sesuatu hal menakutkan dan hanya si A yang bisa membuat rakyat nyaman, karena si A akan mampu mengusir ketakutan itu. Sementara kepada si B, Tukimin menyarankan agar menampilkan diri sebagai sosok yang imajinatif, kreatif, sehingga rakyat terhipnotis untuk merasakan optimisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tukimin melakukan percobaan demi ilmu yang dia tekuni. Hasilnya, si B berhasil memenangkan persaingan itu. Si A yang mengalami kekalahan meskipun tipis, hanya bisa menggaruk kepala. Tukimin berkesimpulan, isu yang diusung si B tidak efektif dan tidak relevan dalam menjalankan sebuah misi.

Tulisan ini mencoba memahami tentang apa yang dipikirkan oleh masyarakat bawah (yaitu yang memiliki tingkat pendapatan dan/atau pendidikan rendah, bercirikan pasif dalam diskusi lebih dari dua orang serta diabaikan keberadaanya dalam komunitasnya), atas fenomena yang terjadi saat ini. Bagi kalangan menengah ke atas, argumentasi biasanya lebih mendasar. Sehingga diharapkan mereka yang mendengar mampu menerima serta meyakini kebenaran argumentasinya. Dipastikan, lagi-lagi masyarakat kalangan bawah akan menjadi korban saja.

Dalam prolog kali ini, penulis menampilkan cerita sang konsultan politik dalam memerankan diri sebagai sutradara peraih kemenangan. Kerap terjadi dalam sebuah momen kontestasi perebutan kekuasaan, muncul isu yang menakutkan yang diusung oleh seorang calon. Di sisi lain, muncul isu yang lebih relevan dan membawa gairah atau harapan. Silakan pembaca ingat-ingat, kapan saja hal tersebut terjadi? Meskipun bukan "kunci pas" untuk dijadikan analogi fenomena saat ini, namun setidaknya penulis berkeyakinan prolog di atas dapat menjadi "kunci inggrisnya" atau mungkin bisa menjadi inspirasi.

Pembaca yang budiman, ada sebabnya penulis menyeret anda lewat prolog untuk berpikir pula tentang manfaat dari sebuah strategi. Pernahkah anda mengalami sakit di masa lalu? Apakah yang anda pikirkan ketika ingat masa-masa sakit itu? Kita akan lebih hati-hati dalam mengkonsumsi makanan sebagai aktualisasi dari rasa takut terulangnya sakit yang pernah menimpa itu. Kita juga tidak akan terus berdiskusi dengan keluarga tentang penyakit kita. Sesekali saja wajar, karena itu adalah bagian dari perjalanan hidup. Terus-terusan membeli obat sebagaimana dokter resepkan di saat dulu kita sakit pun tidak mungkin. Masih banyak biaya hidup yang harus diperhatikan, atau bahkan kita akan lebih memilih membeli obat satu picis saja untuk mengobati pasangan hidup kita yang sedang meriang.

Saat ini bangsa Indonesia dibanjiri pemberitaan tentang isu komunis. Ironisnya, kisah-kisah anekdotal yang terangkat tidak kontekstual. Penulis tidak mengatakan absurd, hanya saja bukan tidak mungkin fenomena saat ini sengaja diciptakan oleh seorang sutradara yang memiliki misi tertentu. Contohnya, kita lupa akan bahaya laten KOrupsi hanya karena historia KOmunisme. Sementara dari sudut lain bukan tidak mungkin sesosok manusia tengah melakukan kuda-kuda untuk menggiring kita dalam sebuah lubang jebakan.

Tidak ada kepentingan bagi seorang ustaz untuk mendapat keuntungan ekonomi yang sebesar-besarnya ketika menjalani kehidupan. Tidak ada kepentingan lain bagi seorang artis selain popularitasnya makin mengkilap. Tidak ada kepentingan lain bagi seorang politisi selain kekuasaan. Tidak ada kepentingan penjajah selain menaklukan bangsa Indonesia dari sektor ekonomi, bukan geografisnya (hukum internasional akan melindungi setiap negara), bukan pula pada perubahan asas negaranya. Penaklukan ekonomi yang mungkin dilakukan adalah dengan menjadikan bangsa ini bergantung terhadap mereka. Hal ini sangat relevan, karena jika pun misi komunisme itu ada (untuk menjadikan Indonesia sebagai Negara Komunis), maka akan sangat mudah ketika kita bergantung secara ekonomi kepada penjajah. "Raja bagi yang berutang adalah orang yang memberinya pinjaman." Kira-kira itulah pepatah yang penulis suguhkan kepada anda.

Jika ada sahabat kita ketakutan pada komunisme maka itu bukanlah hal yang perlu ditertawakan. Terhadap para pesohor yang menulis atau menyatakan ketakutan tersebut tidak masuk akal, pun kita harus memaklumi karena posisi kita berdiri berbeda.

Pada tulisan yang diramu dengan singkat dan sederhana ini, penulis berpesan kepada sutradara perancang munculnya fenomena di atas, sebaiknya melakukan revisi strategi. Misi yang diusung tidak akan berhasil, penulis yakin, justru akan membuat bangsa Indonesia lebih cerdas dalam berpikir. Atau memang sudah siap masuk dalam zona "kekalahan"?

Kepada tokoh publik, dalam mengeluarkan pernyataan hendaknya tidak menyinggung masyarakat yang merasa ketakutan akan munculnya kembali komunisme. Banyak kalangan meyakini, Orde Baru berhasil menjadikan komunisme menjadi mimpi buruk bagi rakyat. Itu artinya, tidak mudah membuat bangsa ini terlepas dari historia tersebut.

Masyarakat harus meyakini bahwa peraturan perundangan yang berlaku saat ini menutup celah berkembangnya komunisme. Peran serta tetap dibutuhkan dalam upaya menjauhkan paham komunisme dengan menindaklanjuti hal-hal yang kiranya mengarah pada pengembangan paham tersebut. Tataplah ke depan, meski saat ini kita berutang segunung, namun bangsa ini memiliki potensi untuk menghasilkan harta segunung bahkan beberapa gunung.

Believe all your dreams, and follow your conscience that will lead you, grab all of your identity.

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh!

*) Penulis dikenal sebagai Konsultan Politik dari Subang, Jawa Barat

Komentar