Membayangkan Indonesia tanpa HMI sama dengan membayangkan Indonesia tanpa TNI. Sebab, kedua institusi yang menjadi penopang dari rumah bernama Indonesia ini merupakan dua unsur yang berperan penting dalam sejarah Indonesia, khususnya, peran HMI di masa PKI membayangi perjalanan bangsa ini dan ketika Orde Baru masih merangkak.

Oleh: Rudy Gani *)

Membayangkan Indonesia tanpa HMI sama dengan membayangkan Indonesia tanpa TNI. Sebab, kedua institusi yang menjadi penopang dari rumah bernama Indonesia ini merupakan dua unsur yang berperan penting dalam sejarah Indonesia, khususnya, peran HMI di masa PKI membayangi perjalanan bangsa ini dan ketika Orde Baru masih merangkak.

Sejarah adalah catatan. Maka dengan catatan itulah kita membaca HMI pasca pernyataan Wakil Ketua KPK Saut Situmorang yang heboh itu terkait HMI sebagai "ladang penjahat" bernama koruptor.

HMI melalui PB (Pengurus Besar) HMI secara resmi telah mengadukan Saut ke Bareskrim Mabes Polri. Tidak hanya Pengurus Besar (tingkat pusat), pengurus Cabang HMI dan Alumni di seluruh daerah juga melakukan hal yang sama mempolisikan Saut.

Itu artinya proses hukum Saut secara prosedural sudah berjalan dan diproses pihak kepolisian. Meski kemarin (9/5) Saut telah menyatakan permintaan maafnya kepada keluarga besar HMI, namun permintaan maaf itu tidak menggugurkan proses hukum yang dilakukan oleh HMI.

Hanya saja, mengutip pernyataan Ketua Umum PB HMI, Mulyadi P Tamsir, sebagai umat Islam, secara pribadi HMI telah memaafkan Saut atas pernyataannya. Namun, karena ini negara hukum, biarlah proses hukum berjalan dan memutuskan nasib Saut nantinya.

DIGANGGU DAN MARAH - HMI marah itu wajar. Sebab, siapapun di Republik ini tidak bisa menafikan peranan HMI dalam sejarah panjang NKRI. Apalagi sampai memfitnah dengan omongan yang tidak memiliki referensi apapun dalam sejarah.

HMI lahir tahun 1947. Jauh sebelum Saut lahir ke Indonesia (Saut lahir tahun 1959). Di masa itu HMI memiliki peran mempertahankan Republik Indonesia dari Agresi Belanda kedua. Selain mengenyam status Mahasiswa, anggota HMI tergabung dalam tentara pelajar.

Di masa itu, anggota HMI membawa buku dan bambu (senjata). Sebuah bentuk dari dwifungsi mahasiswa yang kemudian "menginspirasi" TNI untuk melakukan hal yang sama di tahun-tahun selanjutnya.

Tahun 1965, tragedi berdarah PKI terjadi. HMI yang pada masa itu menjadi satu-satunya representasi mahasiswa Islam (kelompok Intelektual) Indonesia mendapat tantangan sengit dari kelompok Komunis.

Beberapa tahun sebelum Kudeta terjadi, PKI melalui CGMI (Corps Gerakan Mahasiswa Indonesia) sebagai underbow PKI di kalangan mahasiswa melakukan serangan kepada HMI. Bahkan, mereka melobi Presiden Soekarno saat itu untuk membubarkan HMI.

Persaingan sengit CGMI dan HMI di kampus pun terjadi. CGMI merasa bahwa HMI menjadi bagian yang menghalangi tegaknya cita-cita terbentuknya negara Komunis di Indonesia selain dari beberapa organisasi Islam lainnya. Karena itu, CGMI mati-matian "membunuh" HMI di kampus-kampus.

Sayangnya nasib berkata lain. HMI yang kata Jenderal Soedirman, Harapan Masyarakat Indonesia, terbukti bertahan dan keluar sebagai pemenang. PKI tumbang yang kemudian ikut menyeret CGMI ke liang lahat untuk selama-lamanya. PKI mati. CGMI pun turut mati.

Sejarah lalu membuktikan hingga tahun 1967, di mana Orde Baru mulai menancapkan taring kekuasaannya, kiprah HMI bertumbuh subur dan ikut menghantarkan kesuksesan Orde Baru di masa-masa itu.

Dari beberapa nama-nama besar tokoh HMI di republik ini, Islam mendapatkan porsi yang besar dalam perjalanan Orde Baru.Tahun 1970-an, kiprah Nurcholish Madjid atau akrab disapa Cak Nur, mendominasi ruang intelektual Islam dalam kajian Islam dan Indonesia. Tidak sedikit sumbangan Cak Nur bagi pengetahuan Islam yang modern dan mencerahkan. Islam menjadi primadona di kampus-kampus, di masjid serta mal (Lihat Buku karangan Nurcholish Madjid).

Timbulnya antusiasme masyarakat akan Islam "modern" yang mendapatkan ruang besar di masyarakat mesti diakui sebagai salah satu sumbangsih pikiran alumni HMI. Hingga puncaknya, Cak Nur bersama dengan murid dan teman-temannya mendirikan Paramadina yang saat itu menjadi wadah pengkajian Islam modern yang dikampanyekan Cak Nur. Dari "rangsangan" pikiran Cak Nur itulah kemudian menginspirasi ribuan aktivis Islam untuk memodernkan Islam di Indonesia dengan bertumbuh suburnya kelompok kajian Islam dan Keindonesiaan di era 80-an.

Karena besarnya pengaruh HMI dalam kajian Islam dan Keindonesiaan, maka HMI saat itu menjadi organisasi Mahasiswa Islam yang sangat "seksi", baik di mata mahasiswa itu sendiri dan Pemerintah.

Hal itu terbukti dengan bertebarannya alumni HMI di berbagai bidang pekerjaan, mulai dari lembaga pendidikan di tingkat SD hingga kampus. Mulai dari PNS berpangkat rendah hingga menteri. Dari ustaz kampung hingga ustaz kota. Dari wartawan biasa hingga penulis terkemuka. Dari pengusaha klontong, hingga pengusaha kaya raya. Dari pegawai biasa hingga profesional berkelas dunia. Semua ada dan lahir dari HMI. Karena, boleh diakui atau tidak, dari dulu hingga sekarang HMI merupakan organisasi pengkaderan bagi pemimpin bangsa Indonesia dalam segala bidang (tidak hanya politik!).

Melalui rahim HMI, tercetaklah kader-kader bangsa yang di dalam dirinya bersemayam Roh Islam dan Keindonesiaan. Maka, ketika Saut menuding HMI sebagai pencetak pejabat koruptor, Saut telah melakukan fintah kepada lembaga ini. Sebab, Saut hanya mengukur HMI dari satu dua orang yang terlibat kasus korupsi di KPK, tetapi tidak melihat ratusan bahkan jutaan kader HMI yang membangun bangsa "dalam sunyi" tanpa tergila-gila pada publikasi dan jabatan struktural di seluruh penjuru negeri ini. Di situlah bentuk perlawanan serta amarah kader dan alumni HMI menemukan titik temunya. 

HMI DARI MASA KE MASA - Difitnah seperti apapun sejarah sudah membuktikan bahwa HMI akan tetap ada di
Republik ini. Hanya saja, memang secara internal HMI perlu melakukan otokritik di tengah usia HMI yang tidak lagi muda. Sebagai saksi sejarah dan pemilik saham di Republik ini, kiprah HMI perlu dipertajam dengan makin "kerasnya" HMI terhadap rezim penguasa yang sewenang-wenang terhadap rakyat dan umat Islam.

Sebagai contoh beberapa kasus kekinian yang perlu mendapat perhatian HMI seperti kasus penggusuran warga Luar Batang, penyerobotan tanah oleh perusahaan, RUU yang menyampingkan kepentingan nasional, keberadaan warga asing tanpa izin dan lain sebagainya.

Singkatnya, momentum Saut harus dilihat dari kacamata positif. Bahwa hari ini HMI kompak dan solid menanggapi kasus "alam bawah sadar" ala Saut.

Nah, apakah kekompakan dan solidaritas itu bertahan sepanjang waktu terutama dalam mencermati perjalanan bangsa di masa-masa selanjutnya? Akankah HMI dan Alumninya kompak ketika menghadapi penguasa korup dan sewenang-wenang sebagaimana yang sering dimunculkan media massa akhir-akhir ini? Dan apakah HMI akan "galak" pada koruptor yang pernah mengikuti LK-1 di HMI?

Mari kita lihat dan tungggu saja kiprah HMI memberantas penyakit bernama "korupsi" tersebut.

*) Penulis adalah Ketua Umum Badko HMI Jabodetabek Banten 2010-2012