Toko Buku versus Cafe

Selasa, 21 November 2017, 12:00:00 WIB - Opini

Sejumlah siswa sekolah dasar membaca buku pada mobil perpustakaan keliling yang berkunjung ke sekolahnya di Desa Labuan, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Senin (20/11). (ANTARA)

Oleh: A'an Efendi*

Beberapa hari lalu ditemani istri, saya ke toko buku langganan sejak kuliah strata satu dulu. Membeli beberapa buku hukum sekaligus mengecek apakah buku-buku karya saya terjual. Suatu kebahagian bagi penulis adalah ketika bukunya diminati oleh pembaca. Hukum itu pun berlaku bagi saya. Sudah lama saya tidak ke toko buku ini. Bukan sebab saya sudah berhenti membaca. Tentu saja tidak. Tidak boleh saya merasa sudah banyak membaca buku dan kemudian ‘pensiun’ dari aktivitas mulia itu. Sombong sekali kalau saya berani memutuskan untuk purna membaca buku.

Tidak banyaknya pemasukan saya sebagai pengajar membuat berkurangnya aktivitas belanja buku. Hadirnya si kecil yang pastinya lebih ‘menguras’ keuangan keluarga kian menghalangi saya untuk sering-sering berkunjung ke toko buku. Untunglah ada internet yang menyediakan buku-buku digital yang dapat saya peroleh dengan gratis. Terselamatkanlah saya dari ketinggalan wawasan karena tidak mampu untuk sering membeli buku.

Sekian waktu tak ke toko buku yang bosnya seorang ibu-ibu ini, ternyata sudah banyak yang berubah. Sebagian bangunan telah 'disulap' menjadi cafe yaitu pada bagian yang menjual alat tulis kantor. Cafe menjadi pilihan supaya toko tidak rugi karena sepinya para konsumen buku.

'Harapannya orang datang membeli buku kemudian melepaskan dahaga atau laparnya di cafe atau boleh hanya menikmati makan dan minum saja sambil memperoleh akses internetan gratis yang disediakan cafe,' demikian tutur ibu-ibu penjaga toko buku yang sudah saya kenal baik sejak tahun 2001 silam. 'Toko buku hanya ramai saat saat tahun ajaran baru dan setelah itu pun sepi,' penjaga toko yang suka membaca di kala tidak ada pengunjung itu menutup ceritanya.



Dari toko buku paling banyak koleksi buku saya berasal ini kemudian saya dan istri bergerak ke toko buku lainnya yang jauhnya kira-kira hanya sekitar 1 km. Tidak berbeda, toko buku yang bersebelahan persis dengan rumah pahlawan nasional H.O.S. Tjokroaminoto ini pun sebagian bangunannya telah 'dipermak' menjadi cafe. Tidak ingin saya mencari sebabnya tetapi hanya menduga-duga alasannya seperti toko buku yang pertama tadi. Mudah-mudahan ini bukan gejala bahwa suatu saat ini yang namanya toko buku tinggal kenangan belaka digantikan cafe-cafe itu.

Dari dua toko buku yang saya kunjungi, perjalanan saya lanjutkan menuju cafe yang lokasinya dekat SMA favorit di Surabaya, di mana dulu istri saya bersekolah. Teriknya matahari ‘memaksa’ saya mencari sesuatu yang menyegarkan tenggorakan. Air atau apa saja yang penting dapat segera menyingkirkan rasa haus yang sudah tidak terbendung. Di cafe ini berjubel para pengunjung. Bahkan saya harus antri untuk memperoleh tempat duduk sambil menahan keringnya tenggorakan yang terasa tak sabar untuk ‘diguyur’ sesuatu yang menyegarkan.

Setelah mendapatkan tempat duduk yang posisinya sebenarnya saya tidak suka plus memesan beberapa minuman dan makanan ringan, saya perhatikan para pengunjung cafe yang kian membludak. Beragam orang yang datang. Orang tua yang mengajak serta anaknya tetapi didominasi para remaja yang sebagian besar mahasiswa dan mereka yang berseragam SMA serta SMP.

Dari apa yang saya lihat itu, berpikirlah saya inikah mungkin biang keladi sepinya pengunjung toko buku. Mahasiswa dan pelajar lebih suka membuka buku menu daripada katalog judul-judul buku baru. Lebih senang mencicipi manisnya produk-produk cafe dibandingkan menikmati asyiknya ‘bertamasya’ dalam lembaran-lembaran yang mencerahkan. Lebih bergengsi ke cafe melahap menu kebarat-baratan yang enaknya cuma sekejap di kerongkongan itu dibandingkan ke toko buku untuk membeli buku menambah kualitas isi kepala. Pada akhirnya simpulan saya, jika toko buku harus melawan cafe, si toko buku akan keok.

Dari pikiran saya itu tidak bermaksud ingin mengatakan tidak baik berkunjung ke cafe bagi mahasiswa atau pelajar. Siapapun termasuk mahasiswa dan pelajar dapat pergi ke cafe untuk bertemu kawan, santai, atau sekedar melepaskan diri dari penat akibat berjibunnya akitivitas. Tidak baik untuk mahasiswa dan pelajar adalah menjadikan cafe sebagai tempat aktivitas rutin sehari-hari. Tidak boleh menomorsatukan urusan cafe seraya mengabaikan kebutuhan primer mahasiswa dan pelajar: membaca literatur. Apa yang terjadi kalau mahasiswa dan pelajar tidak suka membaca dan lebih senang ke cafe? Generasi cangkrukan yang akan dihasilkan. Generasi yang hanya bersenang-senang yang tertinggal jauh oleh ilmu pengetahuan.

Mudah-mudahan yang saya khawatirkan itu tidak ada karena hanya hasil pikiran sesaat bukan kebenaran yang terbukti lewat suatu penelitian. Mahasiswa dan pelajar kita ke cafe karena sudah membeli buku dan membacanya. Jika tidak, mereka telah beralih ke buku-buku digital yang memang lebih murah dan mudah untuk menyimpannya. Mudah-mudahan dan saya sangat berharap.

Merencanakan Penyesalan

Apakah benar penyesalan selalu di belakang seperti yang sering kita dengar? Mungkin saja iya. Penyesalan buntut dari diperbuatnya atau tidak dilakukannya perbuatan tertentu pada masa lalu. Menanam saat ini menuai diwaktu yang akan datang.

Namun demikian, sesungguhnya tidaklah seperti itu juga. Benar sesal ada di buntut tetapi prosesnya telah ‘diprogramkan’ sejak semula. Orang tahu kalau ia lapar harus segera makan. Selalu ada saja orang yang telah lapar menunda makan karena bermacam-macam alasan. Datanglah sakit maag dan menyesal mengapa tadi tidak segera makan tetapi lebih memilih atau memaksakan melakukan aktivitas lainnya.

Pelajar dan mahasiswa pasti mafhum kalau tugas pokok mereka adalah membaca. Tidak sedikit dari mereka yang menjatuhkan pilihan untuk tidak berkawan dengan buku. Ini adalah rencana sejak semula untuk bercita-cita menjadi pelajar dan mahasiswa tidak berkualitas. Kalau mereka mengerti bahwa penyesalan telah dibangun sejak awal mengapa tidak sejak awal pula tidak berencana untuk menyesal? Jangan-jangan memang benar-benar menunggu untuk menyesal. Semoga tidak demikian.

*) Pengajar Hukum Tata Negara Universitas Jember

Komentar