Komoditas Syariah di Layar Kaca

Minggu, 18 Agustus 2013, 00:01:00 WIB - Opini

Komoditas Syariah di Layar Kaca (remotivi.or.id)

Barangkali kita tercenung begitu mendapati Felix Siauw, seorang pendakwah Islam yang sedang naik daun, lebih memilih dipanggil sebagai "motivator" ketimbang "ustad". Felix memang tidak punya "setelan" ustad. Wajahnya bersih tanpa kumis atau pun jenggot lebat. Ia tidak pernah menggunakan peci atau sorban, sehingga kepalanya yang hanya ditutupi rambut cepak dapat menghirup udara bebas. Alih-alih berbusana gamis atau baju muslim, ia justru lebih sering memakai kemeja batik. Dalam ceramah-ceramahnya, Felix selalu gencar mempropagandakan "hidup sukses dengan syar’i". Maka, wajarlah bila ia memilih gelar "motivator".

Gimmick segar inilah yang ditawarkan oleh Inspirasi Iman, talkshow yang menampilkan Felix sebagai narasumber tetap dan Oki Setiana Dewi sebagai pemandu acara, yang tayang di TVRI setiap hari Kamis pukul 23.00. Tayangan ini biasanya dibuka dengan penampilan sebuah band yang memainkan musik lirih namun ampuh untuk mengukuhkan suasana yang sedang dibangun (dalam salah satu episodenya, seorang kibordis memainkan sebuah nomor dari Led Zeppelin, Stairway to Heaven, lagu yang kerap diasosiasikan dengan satanisme). Selepas band bermain, Felix mulai berceramah. Cara bertuturnya berapi-api, penuh dengan bunga kata yang membesarkan hati.

Berbeda dari ustad-ustad pada umumnya yang tidak telaten bercerita dan menutupinya dengan eksploitasi seruan-seruan moral secara banal, Felix tahu benar bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa pencerita. Ia pandai mengelaborasikan pesan-pesan motivasional di dalam cerita sehingga pemirsa tidak merasa digurui, namun malah terpikat dalam suasana haru dari adegan-adegan peristiwa yang ia lukiskan dengan kata-kata.

Tapi Plato pun tahu, salah satu jenis orang yang patut dicurigai adalah orang yang mahir bermain dengan kata-kata. Di balik ceramah-ceramahnya yang mempesona, Felix mengidap kesesatan berpikir akut. Seruannya pun sering bertumpu pada asumsi tanpa dasar. Simak saja ceramah Felix dalam Inspirasi Iman episode Sudah, Putusin Aja! (21 Maret 2013):

"Sialnya, kita hidup dalam era kapitalisme yang mengajarkan laki-laki dan wanita masa kini untuk memperhatikan fisik, bukan isi. Perhatikan badan, bukan iman. Kapitalisme sukses menjadikan kebahagiaan materialistis sebagai tujuan tertinggi. Lelaki yang tidak lulus ujian tanggung jawab dan komitmenlah yang akhirnya masuk dalam jurusan pacaran. Cinta disempitkan dalam arti pacaran. Terbatas pada rayuan palsu dan gandengan tangan. Padahal pendamping yang saleh tidak pernah didapatkan dari proses pacaran, karena kesalehan dan kebatilan jelas bertentangan."

Argumentasi Felix bisa diringkas dalam tiga poin. Pertama, kapitalisme membuat manusia menilai segala sesuatu berdasarkan kebahagiaan material, bukan iman. Kedua, lelaki yang tidak bisa berkomitmen mereduksi cinta menjadi pacaran. Ketiga, pacaran adalah batil, oleh karena itu tidak mungkin kita mendapat pendamping soleh/soleha darinya.

Secara formal, tidak ada, dan Felix tidak memberikan, keterhubungan logis dari ketiga premis tersebut. Apakah kapitalisme membuat laki-laki tidak bisa berkomitmen dan malah berpacaran? Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Kenapa pacaran adalah batil? Apakah tidak mungkin dua orang saleh berpacaran? Dalam logika material, paragraf tersebut lebih bermasalah lagi. Kita bisa bertanya: apakah pacaran adalah fenomena spesifik kapitalisme—apakah dalam negara sosialis, fasis, atau zaman pra-kolonial Indonesia, misalnya, tidak ada relasi interpersonal yang serupa dengan pacaran? Apakah benar pacaran adalah aktivitas laki-laki yang tidak bisa berkomitmen, sementara perempuan atau orang yang berkomitmen tidak berpacaran? Bukankah pacaran adalah salah satu bentuk komitmen?


Baca selanjutnya: 1 2 3 4

Komentar