Teriakan bersusulan menyebut-nyebut "Prabowo Presiden" terus bergema di halaman rumah Prabowo Subianto, Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Mereka seperti tidak peduli dengan hasil hitung cepat (quick count) yang dilakukan sejumlah lembaga survei yang memenangkan pasangan 01, Joko Widodo- Ma’ruf Amin.

Prabowo bahkan sampai tiga kali menyatakan dirinya menang dengan meraih suara lebih dari 60 persen. Terakhir kali didampingi calon wakil presidennya Sandiaga Uno yang terlihat lesu karena sakit. Kubu Prabowo-Sandiaga tak ada tanda-tanda untuk mengibarkan bendera putih dan mengakui kekalahan. Bahkan dalam pidatonya di depan massa pendukung pada Rabu petang, Prabowo menuding ada kecurangan hingga upaya penggiringan opini soal kekalahannya. 

Sikap Prabowo ini mengingatkan kita pada pemilu 2014 lalu. Waktu itu Prabowo juga sempat melakukan sujud syukur sebagai luapan rasa senangnya lantaran mengklaim telah menang. Kali ini pun terulang, hanya berselang sekitar tiga jam dari pidato pertama, Prabowo kembali naik panggung. 

Dia kembali menyatakan kemenangan dan memberikan angka perolehan suara yang lebih `meyakinkan` lagi menang dengan perolehan 62 persen. Meski hasil perhitungan resmi versi Komisi Pemilihan Umum (KPU) masih lama, kemenangan seolah sudah ada di Kartanegara. 

Klaim tersebut menjadi persoalan lantaran angka yang disampaikan Prabowo ini bukan hanya jauh beda dengan hasil hitung cepat sebagian besar lembaga survei, tapi bisa dibilang berlawanan. Berdasarkan hitung cepat lembaga survei seperti Charta Politika, Indo Barometer, LSI Denny JA dan CSIS-Cyrus Network, Prabowo-Sandiaga kalah lumayan jauh dari Jokowi-Ma`ruf Amin. Terakhir sudah ada 12 lembaga yang melakukan hitung cepat telah rampung 100 persen dan hasilnya dimenangkan pasangan Jokowi-Ma,ruf Amin. 

Tudingan Prabowo ini tentu membuat berang penyelenggara hitung cepat. Mereka menegaskan pihak yang membuat poling (pollster) bekerja secara profesional dan bersedia diaudit atas rilis survei yang dibuat. Lembaga survei yang ada di bawah Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) tidak pernah mengeluarkan hitung cepat dengan data bohong. Para lembaga survai ini kompak menyebut kemenangan ditangan Jokowi. 

Meski mayoritas lembaga survei menyebut keunggulan Jokowi, tak lantas ia mengklaim kemenangannya. Jokowi tetap meminta para pendukungnya untuk tetap sabar menunggu hasil hitung riil dari KPU pada 22 Mei mendatang. Selaku presiden, Jokowi juga mendapatkan ucapan selamat atas terlaksanana pemilu dengan baik. Seperti dari Perdana Menteri Malaysia Mahathir Muhammad dan Perdana Menteri Turki Erdogan.

Jokowi juga tidak menunjukkan gelagat gembira yang meluap-luap. Tidak ada pula pernyataan bahwa dirinya pasti akan menjadi presiden selanjutnya. hanya seyum tipis Jokowi yang terlihat di hadapan publik. Padahal, mayoritas lembaga survei menyatakan Jokowi-Ma`ruf unggul sementara.

Ada tiga poin utama dalam pernyataan Jokowi. Pertama dan utama, Jokowi justru mengucapkan terima kasih kepada lembaga-lembaga penyelenggara pemilu terlebih dahulu, antara lain KPU, Bawaslu, dan DKPP. Ucapan apresiasi juga diberikan kepada aparat keamanan yang telah menjaga situasi tetap kondusif.

Prabowo sebagai salah satu kontestan pemilu selayaknya ia membuat situasi perpolitikan tanah air lebih kondusif. Seharusnya Prabowo bisa mendidik masyarakat luas cara berpolitik yang santun dan negarawan. Bukan justru semakin mengeruhkan dunia politik lewat pengerahan massa menunggangi alumni 212. Saat ini dengan manuver politik  yang dilakukan Prabowo kesan yang muncul ia belum siap hidup berdemokrasi untuk siap menang dan juga siap kalah.