Mafia bukan hanya ada dalam film fiksi, dalam dunia nyata pun ada. Misalnya, mafia Jepang Yakuza, yang telah menjadi mafia legendaris. Mafia dalam dunia olahraga seperti sepak bola pun juga nyata adanya.

Lebih miris lagi mafia juga telah lama menghinggapi dunia sepak bola Indonesia. Adalah Manajer Madura FC Januar Herwanto yang mengungkapkan sempat ditelepon anggota Executive Committee (Exco) Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Pusat Hidayat untuk mengalah saat melawan PSS Sleman. Januar ditawari uang Rp110 juta bila setuju timnya mengalah dan duit pun langsung masuk kantongnya.

Terbongkarnya skandal pengaturan skor yang dilakukan anggota Komite Eksekutif PSSI Hidayat seharusnya dijadikan momentum baik untuk membongkar mafia sepakbola Indonesia. Apalagi, Komite Disiplin PSSI secara resmi telah memutuskan Hidayat bersalah menjatuhkan sanksi berupa larangan berkecimpung di dunia sepak bola nasional selama dua tahun dan denda Rp150 juta.

Tentu saja kasus itu menambah pekerjaan rumah yang tak kunjung dituntaskan PSSI. Dari gelagatnya, PSSI kali ini juga tidak menjadikan kasus itu sebagai pintu masuk untuk membongkar mafia sepak bola yang selama ini terjadi.

Setidaknya itu bisa terlihat dari terhentinya kasus ini pada Hidayat semata. Padahal pengaturan skor tentu saja tak bisa terjadi dan dilakukan Hidayat seorang diri. Tentu ada pemodalnya, pelobi, serta pelaksana di lapangan.

Alasan lainnya bahwa PSSI tak sungguh-sungguh nampak dari ringannya hukuman yang diberikan pada Hidayat. Padahal pengaturan skor ini termasuk dalam tindak pidana suap. Ada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap yang tidak hanya menyasar penyelenggara negara saja. Aturan ini juga didalamnya memuat pasal yang menjerat penerima suap.

Sikap PSSI juga menggelikan lantaran begitu kasus ini terungkap maka langsung mengklaim telah melakukan investigasi sejak empat bulan lalu. Salah satu petinggi PSSI bahkan menyatakan Indonesia sudah menjalin kerja sama dengan lembaga swasta untuk mencatat data-data pertandingan sepakbola di liga tanah air. Dari data tersebut bisa dianalisis untuk mendeteksi apakah ada kecurangan atau tidak.

Lembaga yang dimaksud adalah Geniussports yang bertempat di 16 negara dengan kantor pusat di London, Inggris. Namun yang perlu publik tahu selain bekerja sama dengan badan olahraga, Geniussports juga bekerja dengan situs perjudian resmi di dunia seperti bet365.

Dan bukan kali ini saja PSSI menjalin kerjasama dengan lembaga analisis data semacam Geniussports. Pada 2014, Indonesia juga pernah menggandeng lembaga analisis data sepakbola bola Sportradar. Kerjasama PSSI dan Sportradar tak ada hasilnya. Alih-alih mempublikasikan temuannya bahkan hingga saat ini pun pengaturan pertandingan ternyata masih ada.

Beruntung Kepolisian cukup sigap dengan langsung membentuk satgas khusus. Guna mengusut dugaan pengaturan skor dalam persepakbolaan di Indonesia dibentuk Satgas Anti Mafia Bola yang dipimpin oleh dua jenderal bintang satu. Yakni Brigjen Hendro Pandowo sebagai Kasatgas dan wakilnya Brigjen Krishna Murti.

Tak mau tanggung, Satgas itu terdiri dari 145 orang anggota yang mulai bekerja dengan memanggil wasit hingga Exco PSSI. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian pun akan memberikan akses kepada orang yang mengerti soal mafia ini dan mau memberi informasi. Kerahasiaan mereka pun akan dijaga agar kasus ini dapat terungkap tuntas.

Langkah sigap Kepolisian ini patut diapresiasi, publik sepak bola pun sangat mendukung agar kasus pengaturan skor tak lagi terjadi di Indonesia. Harapannya tentu agar kompetisi sepak bola di Indonesia menjadi lebih baik hingga bisa menghasilkan kompetisi dan pemain yang berkualitas.