Indonesia kini tengah diguncang badai, memang bukan bencana alam dalam arti sesungguhnya tapi dampaknya sama dahsyatnya dengan bencana alam. Badai dollar bila tak diantisipasi dengan baik dapat meluluhlantakkan rupiah bahkan perekonomian negeri ini.

Memang sejak setahun belakangan ini kondisi rupiah terus tertekan. Bahkan, rupiah sempat hampir menyentuh nilai Rp 15.000 beberapa waktu lalu. Ini merupakan posisi terendah rupiah terhadap dolar sejak Juli 1998, setelah krisis keuangan melanda Asia.

Gejolak rupiah dalam sepekan terakhir ini sejatinya tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia. Mengutip penilaian Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution melihat fundamental yang ada rupiah mestinya berada di kisaran Rp 13.500 - Rp 13.600 per dolar AS. Seharusnya tak ada alasan yang membuat rupiah berubah secara signifikan.

Lantas apa yang membuat rupiah terombang ambing dollar. Setidaknya ada faktor eksternal dan internal. Pelemahan rupiah terjadi karena imbas penguatan tajam dolar AS yang dipicu oleh meningkatnya imbal hasil (yield US Tressury Bills) surat berharga AS dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga di Negeri Paman Sam Fed Fund Rate (FFR) lebih dari tiga kali selama 2018.

Sementara kondisi internal juga ikut berperan pada pelemahan rupiah. Faktor internal yang dimaksud yaitu terkait kinerja neraca perdagangan yang masih defisit. Pada Mei lalu, defisit neraca dagang mencapai US$ 1,52 miliar. Dengan demikian, secara kumulatif, defisit neraca perdagangan sepanjang lima bulan pertama tahun ini telah mencapai US$ 2,83 miliar.

Defisit itu semakin membengkak di bulan Juli. Meski angka sementara, Badan Pusat Statistik mencatat defisit neraca perdagangan periode tersebut US$ 2,03 miliar. Defisit itu disumbang dari sektor migas US$ 1,19 miliar Jadi, Januari hingga Juli, defisit mencapai US$ 3,09 miliar.

Dari itu semua yang paling berbahaya adalah munculnya upaya mempolitisasi pelemahan rupiah. Meskipun banyak faktor yang menyebabkan pelemahan rupiah namun salah satu faktor yang tak kalah penting adalah menjaga perilaku para spekulan valuta asing. Jangan sampai terjadi kepanikan di pasar hingga spekulan memborong dollar Amerika, lalu menjualnya dengan harga tinggi sehingga nilai mata uang rupiah makin terpuruk.

Pegangan dari spekulan adalah dengan menggoreng isu-isu yang beredar. Terlebih dari para politikus yang berlagak tahu mengenai ekonomi hingga berimbas menakuti pasar. Alih-alih rupiah menguat bila itu yang terjadi rupiah makin jeblok dan krisis pun bakal diambang pintu. Kalau sudah begitu semua merugi, satu bangsa bukan hanya pemerintah saja dan tak pula menguntungkan oposisi.

Maka dari itu perlu kita apresiasi ajakan Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno yang mengajak menjual dollar. Begitu pula pada Menko Kemaritiman Luhut Pandjaitan yang siap menukar asetnya berbentuk dollar ke rupiah. Kini saatnya pemerintah dan oposisi bergandengan tangan, bahu membahu kembali melakukan aksi gotong royong mengatasi masalah bangsa demi kemaslahatan masyarakat.