Suhu panas jagad politik Indonesia menjelang pemilihan presiden 2019 mendadak dingin untuk sesaat ketika Yudani Kusumah Hanifan mengajak Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto berpelukan bersama berselubung bendera merah putih. Aksi peraih emas Pencak Silat kategori Mens Class C 55 Kg to 60 Kg itu menuai banyak pujian dan menunjukkan bahwa olahraga ampuh melesapkan perbedaan dan meneguhkan persatuan.

Pertandingan final cabang olahraga Pencak Silat Asian Games 2018 kemarin telah terjadi momen berharga. Seluruh rakyat negeri ini bisa menyaksikan Prabowo dan Jokowi, dua kontestan yang siap berlaga dalam pilpres 2019 saling berpelukan. Ya, satu pelukan saja membuat sejenak melupakan persaingan dan manuver politik kedua pihak. Tensi politik menurun seketika. Sekat perbedaan runtuh sekejap. Narasi yang mengemuka adalah Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda, namun tetap satu jua.

Momen berpelukannya itu mendapat sambutan hangat dari gemuruh tepuk tangan di Padepokan Pencak Silat TMII, dan viralnya video tersebut dalam sekejap. Ini menunjukkan rakyat sejatinya mengharapkan persatuan. Rakyat muak melihat aksi para politikus memproduksi hoaks, mempelintir fakta maupun menggelar politik identitas demi meraup suara.

Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games ke-18 ini patut berbangga hati mampu melampaui target 10 besar. Namun pesta olahraga ini bukan hanya unjuk kekuatan semata melainkan juga harus diwujudkan untuk kebangkitan dan persatuan bangsa. Pelukan Jokowi dan Prabowo di ajang pesta olahraga ini telah mengawali itu.

Sihir olahraga selama Asian Games berlangsung begitu terasa. Medali demi medali yang diraih para atlet menjadi kegembiraan bersama, tak ada lagi perkubuan semua melesap menjadi satu. Masyarakat yang beberapa waktu lalu begitu sensitif dengan isu Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA), tak lagi meributkan latar belakang peraih medali semuanya ialah putra-putri terbaik bangsa. Iringan doa terus didaraskan ketika bertanding dan dielukan ketika menang.

Pekan depan gemerlap pesta olahraga ini akan berakhir. Tentu saja penting untuk tetap menjaga semangat persatuan seperti yang dicontohkan kedua pemimpin kita di tribun VVIP. Saatnya kita membuktikan jika spontanitas berpelukan itu bukanlah sekadar show semata tapi benar niat tulus untuk menjaga persatuan bangsa.

Tentu saja itu harus diturunkan pada para tim sukses masing-masing kubu hingga simpatisan di akar rumput. Jangan sampai membuat bangsa ini di ambang krisis persatuan, apalagi sampai menjajakan politik identitas demi kekuasaan semata. Bersaing lah dengan sehat layaknya para atlet yang berlaga di Asian Games.

Sebagai bangsa religius, kita percaya spontanitas dari Hanifan bukan datang dari ruang hampa. Ada tangan tak kasat mata yang mengaturnya, menjaga bangsa ini dari perpecahan dengan mengirimkan sinyal. Tinggal kita sebagai bangsa sudahkah bersyukur dengan mengambil hikmah dari setiap kejadian?

"Ya, jadi pelukan Pak Prabowo dan Pak Jokowi itu inisiatif dari salah satu atlet yang berprestasi. Ia ingin menunjukkan bahwa Negeri ini sesungguhnya bisa tenang, damai, dan akur. Meskipun ada kontestasi dan ada persaingan dalam Pilpres 2019," kata Fungsionaris Partai Gerindra Anggawira dalam siaran pers yang diterima Gresnews.com.