JAKARTA, GRESNEWS.COM – Idul Fitri adalah momen untuk merajut kembali tali silahturahmi tidak hanya bagi kaum muslim tetapi juga terhadap umat lainnya. Idul Fitri yang kerap diistilahkan dengan Lebaran juga membuka kesempatan untuk membangun dan membangkitkan kembali persaudaraan yang sebelumnya ditutupi prasangka dan curiga.

Setidaknya itulah yang dipahami Sekretaris Eksekutif Komisi Kerasulan Awam (Kerawam) bidang sosial, kemasyarakatan, dan politik Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) Romo Guido Suprapto dalam mengartikan momen Lebaran.

Menurutnya, melalui adanya rasa persaudaraan ini, manusia dinilai akan bisa merespons dan memberikan solusi bagi persoalan sosial yang terjadi di masyarakat. "Sehingga akan menghilangkan rasa curiga, prasangka, dan keinginan mementingkan kelompok dan diri sendiri," ujarnya kepada gresnews.com.

Romo Guido mengatakan Idul Fitri merupakan kesempatan untuk membangun tali silaturahmi yang bukan hanya secara fisik tapi juga emosional. Sehingga memunculkan rasa persaudaraan, saling menghargai, dan menghormati.

"Jadi makna Lebaran yang paling dalam adalah kesempatan untuk membangun kembali tali silaturami yang mengakrabkan persaudaraan satu dengan yang lain," tutur Romo Guido.

MENGHORMATI PERBEDAAN - Apalagi Indonesia merupakan negara yang kaya dalam perbedaan baik dalam hal beriman dan berkepercayaan. Di tengah perbedaan ini terdapat tantangan agar siap membangun diri menghormati perbedaan yang ada. Sehingga perbedaan bisa dikemas menjadi sesuatu yang indah. Menurutnya, momen Lebaran membuka kesempatan untuk membangun dan membangkitkan kembali persaudaraan yang sebelumnya ditutupi prasangka dan curiga.

Selanjutnya, melalui rasa persaudaraan dan rasa saling mengasihi, bisa digunakan untuk menyikapi dan merespon berbagai masalah sosial yang terjadi di masyarakat seperti kriminalitas dan korupsi. Sebagai umat beriman, menurutnya, kita harus mau membuka hati dan membantu menemukan solusi terhadap permasalahan sosial yang ada.

Ia mencontohkan,  dalam fenomena korupsi yang memprihatinkan, paling tidak sebagai umat yang beragama dan beriman jangan sampai kita terjerat. Lalu tak jarang terdapat permasalahan sosial yang muncul akibat perspektif kelompok dan kepentingan sendiri. "Padahal seharusnya yang dimunculkan adalah semangat bersama untuk membangun bangsa dan negara," tambahnya.

Selanjutnya, untuk membangun bangsa dan negara, dari segi politik, kiprah perpolitikan di Indonesia mendapatkan pencerahan. Sebab kecenderungan politik saat ini memang seakan digunakan sebagai sarana keuntungan. Untuk itu perlu diimbau bagi pihak yang terjun di dunia politik agar sungguh-sungguh memahami tugas dan tanggung jawab serta tujuan dari politik adalah untuk kemaslahatan bangsa. Sehingga jangan sampai ada sesat niat atau motivasi.

Ia menilai dalam konteks perpolitikan ini, perlu kiranya dikedepankan etika politik dan kemauan untuk memantapkan integritas diri. Pemantapan integritas bisa dibangun dengan sebuah kesadaran iman seseorang. Menurutnya ketika seseorang membangun relasi dengan Tuhan akan memberikan inspirasi sebagai manusia untuk melakukan hal yang baik untuk sesama.

Kualitas seseorang, menurutnya, memang tidak bisa dilepaskan dengan bagaimana keberimanan dan keberagamaan orang yang bersangkutan. Hal tersebut akan menjadi pondasi untuk membangun integritas diri. Sebab sebenarnya keberimanan mampu membentengi diri dari urusan yang sekadar urusan duniawi.