"Tendang" Militer Australia Karena Menghina Pancasila

Kamis, 05 Januari 2017, 21:00:00 WIB - Internasional

Sejumlah prajurit TNI AD Yonif 116/GS Meulaboh membawa alat renang ponco sebelum latihan Rawa Laut Sungai dan Pantai (Ralasuntai) di Pantai Desa Gampong Teungoh, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Kamis (22/12). Sebanyak 185 prajurit mengikuti latihan tersebut untuk meningkatkan kemampuan satuan tempur. (ANTARA)

AUSTRALIA MENYESAL - Terkait masalah ini, pemerintah Australia telah menyatakan penyesalan dan menjanjikan penyelidikan menyeluruh atas material pelatihan yang menghina Indonesia, yang ditemukan di pangkalan militer di Perth. Temuan material pelatihan itu memicu Indonesia menghentikan sementara kerja sama militer dengan Australia.

Menteri Pertahanan (Menhan) Australia Marise Payne hari ini menyatakan, penyelidikan atas material ofensif yang ditemukan di Barak Campbell di kota Perth, Australia barat, akan segera selesai. 'Kami telah menyatakan penyesalan kami bahwa ini terjadi dan bahwa kesalahan telah terjadi. Saya pikir sudah tepat ketika mitra penting menyampaikan kekhawatiran mereka pada Anda,' ujar Payne kepada para wartawan di Sydney, Australia seperti dilansir kantor berita Reuters, Kamis (5/1).

Dikatakan Payne, Australia akan menyampaikan hasil penyelidikan atas masalah ini kepada pemerintah dan militer Indonesia. Payne menolak menjelaskan lebih detail mengenai material yang menghina tersebut. Namun disebut-sebut salah satunya adalah mengenai poster yang mempertanyakan kedaulatan Indonesia atas Papua Barat.

Menurut Payne, material yang menghina tersebut telah disingkirkan dan semua dokumen pelatihan akan 'sesuai dengan budaya'.'Kami, tentu saja... mengakui kedaulatan dan integritas wilayah Indonesia dan itu merupakan sikap tegas dan jelas kami,' tandas Payne.

Selain soal penghinaan, Australia juga membantah isu akan mereksrut tentara terbaik Indonesia. Hal itu ditegaskan terkait tayangan ABC pada Kamis (5/1) pagi yang merekam kuliah yang diberikan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo pada November 2016 lalu. Isinya menyuarakan kekhawatiran Australia berupaya merekrut anggota TNI yang dikirim ke Australia untuk pelatihan.

'Setiap kali ada program pelatihan, lima terbaik atau 10 prajurit terbaik akan dikirim ke Australia. Itu terjadi sebelum saya menjadi panglima jadi saya membiarkannya terjadi,' ucap Jenderal Gatot saat itu seperti ditayangkan ABC.

'Begitu saya menjadi Panglima TNI, itu tidak akan terjadi lagi. Mereka tentu akan direkrut. Mereka tentu akan direkrut,' imbuhnya.

Menanggapi hal itu, Marise Payne membantah pihaknya menargetkan TNI sebagai agen potensial untuk militer Australia. 'Tidak, bukan itu masalahnya dan tentu, itu hal yang tidak bisa kita terima,' tegasnya.

Payne menambahkan, penyelidikan soal material pelatihan yang memicu ketegangan hubungan bilateral Australia-Indonesia, hampir rampung. Ditegaskan Payne, Australia menanggapi persoalan ini dengan serius.

'Kami bekerja dengan saksama bersama mitra-mitra kami, baik level militer maupun level politik untuk menangani setiap kekhawatiran, untuk mengatasi setiap kekhawatiran dan untuk melanjutkan hubungan secara keseluruhan sesegera mungkin,' terang Payne. (dtc)


Baca selanjutnya: 1 2 3

Komentar