Holcim, Kasus Blitar dan Pendanaan ISIS

Selasa, 02 Mei 2017, 21:00:00 WIB - Internasional

Seorang pria yang mengaku sebagai pengungsi Suriah berbicara mendukung keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melakukan penyerangan dengan target Suriah, dalam aksi demo oleh Koalisi Hentikan Perang di pusat kota London, Inggris, Jumat (7/4). (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Direktur Eksekutif Sitas Desa Farhan Mahfudzi mengingatkan, kasus yang terkait dengan perusahaan semen raksana LafargeHolcim, bukan hanya isu keterkaitannya dengan pendanaan terhadap kelompok ISIS. Menurut Farhan, anak perusahaan LafargeHolcim yang beroperasi di Indonesia juga masih terlibat dalam konflik atau sengketa dengan masyarakat lokal.

"Salah satunya dengan masyarakat desa Ringinrejo, Blitar, yang sampai saat ini juga belum dapat diselesaikan secara penuh," kata Farhan dalam pernyataan tertulis yang diterima gresnews.com, Selasa (2/5).

Di Blitar, masyarakat desa Ringinrejo yang menguasai dan mengelola lahan seluas lebih kurang 724,23 hektare, dikelola oleh lebih kurang 826 Kepala Keluarga terancam digusur. Pasalnya, lahan yang dikelola warga sejak tahun 1997 telah ditunjuk sebagai kawasan hutan oleh Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.

"Lahan yang dikelola warga tersebut, tanpa sepengetahuan masyarakat desa telah dibeli PT Holcim Indonesia dan dijadikan sebagai lahan pengganti (dijadikan hutan), karena Holcim menggunakan kawasan hutan di Tuban untuk penambangan dan pabrik semen," terang Farhan.

Penunjukan areal kelola warga Ringinrejo sebagai kawasan hutan dilakukan dengan cara yang tidak transparan dan tidak melibatkan masyarakat yang akan menjadi korban. Bahkan proses ganti rugi atau kompensasi dilakukan Holcim justru diberikan kepada warga pendatang, bukan warga asli Desa Ringinrejo, yang notabene mengalami dampak langsung dari penunjukkan kawasan hutan tersebut.

Karena itulah, kata Farhan, pihak Sitas Desa yang selama ini mendampingi masyarakat Ringinrejo, terkejut dengan adanya berita LafargeHolcim mendanai ISIS untuk menjaga pabrik mereka di Suriah. "Ketimbang LafargeHolcim menghabiskan jutaan dolar anggarannya untuk mendukung kegiatan terorisme, ada baiknya LafargeHolcim mendedikasikan anggaran dan kerja-kerjanya untuk menyelesaikan konfli-konflik yang terjadi, khususnya yang ada di wilayah desa Ringinrejo, Kabupaten Blitar," imbaunya.

Farhan menilai, LafargeHolcim sebaiknya duduk dan berdiskusi untuk mencari solusi agar masyarakat desa Ringinrejo mendapatkan hak-hak atas tanahnya. "Sehingga, komunikasi antara LafargeHolcim dengan masyarakat desa Ringinrejo dapat dilakukan secara lancar dan memberikan manfaat yang besar buat LafargeHolcim dan masyarakat desa Ringinrejo," tegasnya.

Sebelumnya diketahui, CEO LaFargeHolcim--perusahan semen berjaringan luas di dunia yang berbasis di Swiss--Eric Olsen yang mengundurkan diri karena diduga terlibat dalam aktivitas ilegal, yaitu terlibat dalam pendanaan kelompok teroris di Suriah. Eric Olsen mengundurkan diri setelah hasil penyelidikan internal menunjukkan keterlibatan perusahaannya dalam mendukung aktivitas kelompok teroris ISIS dan Al Qaeda.

Penyelidikan awal tahun ini menegaskan, produsen semen terbesar di dunia itu telah membayar kelompok ekstremis agar pabrik semen LafargeHolcim di Aleppo, Suriah utara, bisa terus beroperasi. Salah satu lembaga swadaya masyarakat di Jerman, Sherpa, telah mengajukan tuduhan yang kuat bawah perusahaan semen LafargeHolcim telah berbisnis dengan ISIS.


Baca selanjutnya: 1 2

Komentar