Satu Sikap Hadapi Pelecehan Pancasila Oleh Militer Australia

Sabtu, 07 Januari 2017, 15:00:00 WIB - Internasional

Prajurit TNI AD dari Yonif 403/Wirasada Pratista mengecek senjata di atas Kapal KRI Teluk Amboina, sebelum pemberangkatan menuju ke Kalimantan, di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (23/12). Sebanyak 350 prajurit yang diberangkatkan ke perbatasan RI-Malaysia tersebut akan bertugas selama sembilan bulan dengan tugas mencegah penyelundupan narkoba, perdagangan manusia, dan "Ilegal Logging". (ANTARA)


PESAN PEMERINTAH — Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengklarifikasi rencana penghentian kerja sama militer antara Indonesia dan Australia. Menurutnya, kerja sama militer itu diputus karena insiden soal penghinaan terhadap tokoh TNI dan lambang negara Indonesia. Gatot menegaskan, penghinaan terhadap lambang negara dengan memplesetkan Pancasila menjadi Pancagila tidak bisa ditolerir.

"Pada saat mengajar di sana, ditemukan hal tidak etis sebagai negara sahabat yang mendiskreditkan TNI dan bangsa Indonesia, bahkan ideologi bangsa Indonesia," kata Gatot, Kamis (5/1).

Lantaran insiden itulah TNI kemudian memutuskan untuk menunda kerja sama pendidikan dengan pihak Australia. Pihak Australia sendiri, menurut Gatot, sudah berjanji akan melakukan evaluasi.

Selain itu, Gatot juga mengaku bahwa pihaknya sudah menerima surat penjelasan sekaligus permohonan maaf terkait dengan insiden tersebut. Namun demikian, TNI memutuskan untuk tetap menghentikan sementara kerja sama pendidikan.


"Surat tersebut dikirim Kepala Angkatan Udara Australia Marsekal Mark Binskin. Saya dengan Marsekal AU Mark Binskin bersahabat. Akhirnya beliau mengirim surat kepada saya, permohonan maaf," kata Gatot.

Sementara itu, dalam keterangan yang diterima gresnews.com, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto menyatakan sikap resminya mengenai sikap yang diambil TNI terkait insiden di Australia. Wiranto mengatakan, pemutusan hubungan kerjasama itu bukanlah pemutusan kerjasama pertahanan secara menyeluruh.

"Penghentian kerjasama tersebut di atas hanya bersifat sementara, dan akan dilanjutkan kembali setelah pihak Australia telah melakukan langkah-langkah penyelesaian dari kasus yang terjadi," ujar Wiranto.

Wiranto menegaskan, masalah tersebut tidak akan mengganggu hubungan bilateral kedua negara yang telah berjalan baik selama ini."Dengan penjelasan ini, diharapkan tidak ada pemberitaan-pemberitaan di luar konteks yang justru akan membingungkan masyarakat dan mengganggu hubungan bilateral kedua negara," tegasnya. (Gresnews.com/Zulkifli Songyanan)


Baca selanjutnya: 1 2 3

Komentar