Soal Yerusalem, Veto AS Bikin Panas

Rabu, 20 Desember 2017, 10:00:00 WIB - Internasional

Sejumlah pengunjuk rasa dari gabungan Ormas Islam di Aceh membakar bendera Israel dan Amerika Serika saat aksi damai membela Palestina Merdeka di gedung DPR Aceh, Banda Aceh, Senin (18/12). Sebanyak 23 Ormas Islam di Aceh mengutuk presiden Amerika Serikat, Donald Trump atas pernyataan sepihak mengakui Yerussalem sebagai ibukota Israel, dan mendesak umat Islam di seluruh dunia termasuk Indonesia bersatu memperjuangkan kemerdekaan Palestina dari zionis Israel. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Amerika Serikat memveto draf Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang menolak keputusan Presiden Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, mengatakan draf resolusi tersebut merupakan 'penghinaan'. Dia juga mewanti-wanti bahwa AS tidak akan melupakan pengajuan draf semacam itu.

'Ini adalah bukti tambahan bahwa PBB melakukan lebih banyak mudarat ketimbang manfaat dalam menangani konflik Israel-Palestina. Hari ini, hanya karena menentukan di mana kami akan meletakkan kedutaan besar saja, Amerika Serikat dipaksa membela kedaulatannya. Catatan akan menunjukkan bahwa kami melakukan ini dengan bangga,' ujarnya, Dalam voting DK PBB pada Senin (18/12) waktu setempat.

Hak veto yang dikeluarkan Amerika Serikat (AS) atas draf Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menipiskan peluang terjadinya perdamaian di Palestina. Veto AS itu juga berpotensi membuat situsi dunia makin panas karena persoalan Yerusalem ini.

Draf resolusi penolakan pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel diajukan oleh Mesir. Sebagaimana dilaporkan wartawan BBC di New York, Nada Tawfik, draf tersebut menghindari penyebutan AS atau Trump secara gamblang agar bisa disokong secara penuh. Alih-alih mengajak negara-negara mengecam AS, draf itu mendesak 'semua negara menahan diri untuk tidak menetapkan perwakilan diplomatik di kota suci Yerusalem'.



Draf tersebut juga menghendaki 'semua negara patuh pada resolusi-resolusi Dewan Keamanan mengenai Kota Suci Yerusalem dan tidak menyetujui aksi atau tindakan apapun yang berlawanan dengan resolusi-resolusi itu'. Kecuali AS, draf itu disetujui empat anggota permanen DK PBB: Cina, Prancis, Rusia, dan Inggris beserta 10 anggota nonpermanen lainnya.

Langkah veto AS terhadap draf resolusi DK PBB mendapat sanjungan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Secara khusus dia memuji Nikki Haley melalui Twitter. 'Terima kasih Dubes Haley,' tulis Netanyahu di akun resmi Twitter miliknya. 'Kebenaran mengalahkan kebohongan. Terima kasih, Presiden Trump. Terima kasih, Nikki Haley,' imbuhnya.

Namun, juru bicara Presiden Otorita Palestina, Mahmoud Abbas, menyebut tindakan AS 'tidak bisa diterima dan mengancam stabilitas komunitas internasional karena negara itu tidak menghormatinya'. 'Komunitas internasional kini harus berupaya melindungi rakyat Palestina,' kata Nabil Abu Rudeina, jubir Mahmoud Abbas, kepada kantor berita AFP.

Menteri Luar Negeri Palestina, Riyad al-Maliki, mengatakan dirinya akan menyerukan pertemuan darurat Majelis Umum PBB untuk mendiskusikan masalah Yerusalem. Sementara itu, Nabil Abu Rudeina, juru bicara Presiden Palestina Mahmud Abbas mengatakan, veto AS tersebut tak bisa diterima dan mengancam stabilitas komunitas internasional.

Nabil Abu Rudeina mengatakan, dukungan atas resolusi tersebut menunjukkan pengucilan Amerika. 'Komunitas internasional harus kini bekerja untuk melindungi rakyat Palestina,' tegasnya seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (19/12).

Kecaman senada juga disampaikan kelompok Hamas yang menguasai wilayah Jalur Gaza. Dalam pernyataan tertulisnya, Hamas menegaskan bahwa Yerusalem merupakan ibu kota Palestina selamanya, dan keputusan AS dan Israel tak akan mengubah fakta tersebut.

Hamas pun menyerukan komunitas internasional dan dunia Arab dan Islam untuk bertindak guna melindungi Yerusalem dan tempat-tempat suci, serta mengingatkan Israel untuk tidak mengambil langkah-langkah mengubah status Yerusalem.

Baca selanjutnya: 1 2 3

Komentar