Presiden KSPI Said Iqbal mencatat, ini adalah peristiwa keempat kalinya dimana buruh Freeport meninggal akibat kecelakaan yang disebankan oleh kelalaian manajemen dalam mengelola keselamatan kerja.

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengutuk keras peristiwa tanah longsor yang terjadi di tambang emas Grasberg, milik Freeport di Papua. Apalagi kejadian itu mengakibatkan tewasnya empat orang pekerja Freeport. Kejadian seperti itu juga bukan yang pertama kali terjadi di tambang milik perusahaan asal negeri Abang Sam itu.

Presiden KSPI Said Iqbal mencatat, ini adalah peristiwa keempat kalinya dimana buruh Freeport meninggal akibat kecelakaan yang disebankan oleh kelalaian manajemen dalam mengelola keselamatan kerja. Dan selama itu pula, kata Iqbal, tidak ada sanksi apapun dari pemerintah.

Oleh karena itu KSPI menuntut Presiden Direktur dan jajaran direksi Freeport bertanggung jawab atas kejadian tersebut. "Pidanakan dan tangkap presdir dan direksi PT Freeport karena telah menghilangkan nyawa orang akibat kelalaian dan melanggar UU No 1/1970 tentang keselamatan dan kesehatan kerja," ujar Said Iqbal kepada Gresnews.com, Senin (29/9).

Said menuding ada unsur suap yang dilakukan pihak Freeport kepada oknum-oknum tertentu. Karena kejadian ini selalu berulang kali terjadi dan tanpa ada sanksi apapun dari pemerintah. Ia meminta, DPR dan KPK memeriksa sejumlah pihak seperti petinggi PT Freeport, Pemda Timika, Kementerian ESDM, serta oknum penegak hukum untuk mengklarifikasi hal tersebut.

Kejadian ini, menurut Said seharusnya menjadi cambuk bagi pemerintah. Untuk itu pemerintah harus mendesak direksi PT Freeport tunduk pada undang-undang di Indonesia yaitu melindungi nyawa dan kesehatan para pekerja, bikin smelter/pengolahan tambang di Freeport. Serta melarang perusahaan tersebut mengekspor bahan tambang mentah karena merugikan negara dan rakyat indonesia.

"Bila hal ini tidak direspon oleh PT Freeport dan pemerintah, maka KSPI akan melakukan gugatan class action ke pengadilan, kampanye nasional dan internasional melawan PT Freeport yang menjalankan bisnisnya melawan hukum, serta aksi demonstrasi ribuan buruh pada 2 Oktober 2014 nanti," tegasnya.

Peristiwa yang terjadi pada Sabtu (27/9) lalu itu mengakibatkan empat orang meninggal dunia dan lima lainnya mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit Tembagapura. Selain itu, aktivitas di tambang terbuka Grasberg dihentikan sementara untuk proses investigasi.

Vice President Corporate Communications Freeport Indonesia Daisy Primayanti menjelaskan, kecelakaan terjadi sekitar pukul 07.24 WIT. Insiden itu melibatkan satu unit kendaraan ringan untuk kegiatan operasi dan satu unit Haul Truck.

"Kecelakaan terjadi di jalan tambang terbuka Grasberg. Setelah insiden terjadi, tim tanggap darurat Grasberg Mine Rescue segera diterjunkan untuk memberikan pertolongan dan melakukan proses evakuasi," kata Daisy dalam siaran pers di Jakarta, Sabtu (27/9) kemarin.

Dia melanjutkan, kendaraan ringan jenis Toyota itu berisi delapan orang penumpang dan satu sopir. Sedangkan, Haul Truck dengan nomor HT#220-CAT785 dikendarai oleh satu orang operator. Dari sembilan orang yang ada di kendaraan ringan, sebanyak lima pekerja yang selamat dievakuasi ke Rumah Sakit Tembagapura. Namun, empat orang lainnya dinyatakan meninggal dunia.

"Keselamatan kerja merupakan prioritas utama kami. Untuk itu, aktivitas di tambang terbuka Grasberg saat ini dihentikan sementara untuk kegiatan konsolidasi dan proses investigasi," ujarnya.

Freeport Indonesia telah melaporkan insiden ini kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Pihaknya juga menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga korban yang ditinggalkan. "Doa kami menyertai almarhum yang telah menjadi bagian Keluarga Besar PTFI dan keluarga yang ditinggalkan," katanya.

Insiden sebelumnya terjadi di area West Muck Bay di area tambang bawah tanah Grasberg Block Cave pada 12 September lalu. Ground failure di area West Muck Bay menyebabkan reruntuhan material yang terdiri dari bebatuan dan tanah. Sebagian badan dari alat jumbo drill yang berada di lokasi kejadian juga turut tertimbun material yang berjatuhan.

Ketika peristiwa terjadi, terdapat dua pekerja yang berada di lokasi itu, yakni operator bernama Brad Skinner, dan operator tambang bernama Boby Hermawan. Brad berhasil menyelamatkan diri, Boby meninggal dunia tertimbun material yang berjatuhan.