Oknum Polisi Lubuk Linggau Bunuh Hak Asasi Untuk Hidup

Selasa, 25 April 2017, 09:00:00 WIB - Hukum

Pewarta mengambil gambar kondisi mobil yang menjadi barang bukti kasus penembakan mobil oleh polisi di Lubuk Linggau, di Mapolda Sumsel, Palembang, Jumat (21/4). Barang bukti tersebut diserahkan kepada Direktorat Khusus Kriminal Umum Polda Sumsel untuk diperiksa sebagai bahan penyelidikan kasus penembakan oleh polisi yang mengakibatkan satu korban tewas dan enam korban luka-luka. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Kasus penembakan satu keluarga yang tengah mengendarai mobil di Lubuk Linggau Sumatera Selatan, Selasa (18/4) lalu, dinilai sebagai bentuk nyata matinya hak asasi manusia untuk hidup dan dilindungi oleh negara. Oknum polisi yang melakukan penembakan kearah mobil tersebut telah melanggar Perkapolri Nomor 1 tahun 2009 tentang penggunaan kekuatan dalam tindakan kepolisian dan Perkapolri Nomor 8 tahun 2009 tentang implementasi prinsip dan standar hak asasi manusia dalam penyelenggaraab tugas kepolisian negara republik indonesia.

Ketua Badan Pengurus Nasional Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (BPN PBHI) Totok Yulianto mengatakan, atas dasar apapun, penembakan itu menjadi tanda hancurnya penegakan Hak Asasi Manusia di Lubuk Linggau. "Tiada maaf atas kepongahan serta kesombongan oknum polisi tanpa rasa kemanusiaan tersebut, tidak ada hak polisi mencabut nyawa manusia dengan timah panas yang dibeli dari pajak rakyat yang juga dibayar oleh korban penembakan," katanya dalam pernyataan tertulis yang diterima gresnews.com, Senin (24/4).

Kasus ini, kata Totok, mirip dengan kasus penembakan terhadap Iwan Mulyadi, warga Pasaman Barat, Sumatera Barat. Kasus penembakan atas Iwan terjadi pada tahun 2016 lalu, saat dia berusia 16 tahun. Ketika itu Iwan menjadi korban penembakan yang dilakukan oleh oknum polisi Briptu Novrizal. Penembakan tersebut terjadi di ladang Jorong IV, Koto Selatan, Kenagarian Kinali, Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat.

Akibat tembakan yang menembus pinggang kiri hingga ke tulang rusuknya itu, Iwan kini lumpuh. Naasnya, uang kompensasi sebesar Rp300 juta yang harusnya dibayarkan pihak kepolisian, tak kunjung diberikan kepada Iwan. Padahal, Iwan sangat membutuhkannya untuk modal membuka usaha setelah tak bisa lagi bekerja di kebun akibat kelumpuhannya.

"Hanya orang gila yang menembak warga negara Indonesia tanpa merasa bersalah dan tanpa evaluasi menyeluruh, apalagi korban bukan penjahat atau koruptor," kata Totok.

Karena itu, pihak PBHI mendesal agar Polri menindak tegas dengan mengevaluasi oknum polisi pelaku penembakan. "Hasil evaluasi wajib menyelesaikan kasus ini dengan pemecatan dan hukuman penjara tanpa pembelaan oleh pihak polri. Jangan sampai polri membela anggotanya dan menolak putusan pengadilan. Cukup Iwan Mulyadi yang menjadi korban yang dihina oleh negara dengan berkelit untuk memenuhi putusan pengadilan," kata Totok.

PBHI juga mendesak agar Perkapolri Nomor 1 tahun 2009 jo Perkapolri Nomor 8 tahun 2009. Revisi itu harus mencakup ketentuan teknis serta penjelasan penggunaan senjata api untuk mengurangi potensi penyalahgunaan senjata untuk membunuh warga yang tak bersalah. PBHI juga meminta media untuk terus memantau dan mengawal kasus Lubuk Linggau berdarah agar tidak ada yang ditutup-tutupi oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.

Sementara itu, satu orang korban penembakan, Indrayani (33), akhirnya mengembuskan nafas terakhir di RS M Hoesin Palembang, Senin (24/4) pagi. Dengan demikian, korban tewa dari kasus penembakan itu bertambah menjadi 2 orang. Korban tewas lainnya adalah Surini (54) yang tewas ditempat kejadian karena mencoba melindungi cucunya.

Kabar kematian Indra itu disampaikan Ujang, kerabat korban. "Saya dihubungi pihak Polres Lubuklinggau tadi pagi. Saat ini sudah dalam perjalanan menuju kediaman," kata Ujang.

Indra meninggal sekitar pukul 05.00 WIB. Jenazah langsung dipulangkan ke rumah duka di Desa Belitar Curup, Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Indra mengembuskan nafas terakhir setelah menjalani perawatan selama 6 hari di RS. Pria tersebut terluka tembak di bagian leher dan menembus tulang belakang.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Agung Budi Maryoto membenarkan hal tersebut. Menurut dia, jenazah dilepas Polda Sumsel dan Kapolresta Palembang Kombes Wahyu Bintono Hari Bawono sekitar pukul 07.00 WIB. "Tadi saya sempat datang ke rumah sakit untuk melepas keberangkatan jenazah. Sesuai permintaan pihak keluarga, jenazah langsung diberangkatkan ke kediamannya di Bengkulu," ujar jenderal bintang dua tersebut.

Brigadir K dijadikan tersangka dalam kejadian ini. Dia dianggap lalai dalam bertugas sehingga menyebabkan meninggalnya orang lain. Anggota Polres Lubuklinggau ini ditahan di Polda Sumsel.


Baca selanjutnya: 1 2

Komentar