Misteri Sumber Uang Suap Andi Narogong

Minggu, 19 Maret 2017, 09:00:00 WIB - Hukum

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif (kedua kiri) menerima lentera yang diserahkan oleh Wakil Ketua Forum Rektor Asep Saefuddin (kanan) sebagai simbol dukungan kepada KPK usai pertemuan di Gedung KPK Jakarta, Jumat (17/3). Forum Rektor dan Guru Besar Antikorupsi memberikan dukungan kepada KPK guna menuntaskan kasus korupsi e-KTP serta menolak revisi UU KPK. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan telah mengetahui darimana asal uang yang digunakan pengusana Andi Agustinus alias Andi Narogong yang diduga untuk menyuap para pejabat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan juga puluhan anggota dewan terkait dengan perkara korupsi pengadaan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP). Dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum KPK pada mantan Dirjen Dukcapil Kemendagri Irman dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Sugiharto dalam kasus korupsi e-KTP, Andi Narogong berkedudukan sebagai seorang pengusaha yang ditunjukt untuk mengerjakan proyek tersebut.

Hanya saja, KPK belum mau mengungkapkan siapa "penyandang dana" yang telah menyediakan duit sebesar Rp2,3 triliun itu kepada Andi Narogong untuk menyuap itu. "Saya tidak bisa kemukakan tapi kami mengetahui," kata Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif di kantornya, Jumat (17/3) petang.

Syarif memang masih menutup rapat mengenai informasi tersebut dengan alasan informasi tersebut masih harus ditindaklanjuti dalam proses penyidikan. "Saya tidak bisa kemukakan soal informasi yang masih dalam proses," tutur Syarif.

Dana "talangan" yang dikeluarkan Andi memang cukup fantastis. Sebelum ia mendapat pembayaran dari proyek e-KTP, Andi sudah membagi-bagikan uang baik kepada para anggota dewan maupun pejabat Kemendagri.

Mantan Sekjen Kemendagri Diah Anggraini pun mengakui mendapat uang dari Andi Narogong sebesar US$200 ribu. "Setelah Irman baru Andi Narogong, 2013 US$200 ribu," kata Diah saat bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Kamis (15/3).

Namun dalam dakwaan Jaksa KPK, pemberian itu terealisasi pada 2012. Selain pejabat Kemendagri, dalam surat dakwaan juga disebut pembagian uang kepada anggota dewan dengan total Rp240 miliar.

Memang menjadi pertanyaan tersendiri darimana asal muasal uang yang digunakan Andi untuk memberikan suap kepada anggota dewan dan pejabat Kemendagri. Dari informasi yang diperoleh gresnews.com, Andi memang tidak sendirian, ia diduga dibantu donatur dari pihak-pihak tertentu.

Andi diketahui merupakan pengendali PT Lautan Makmur Perkasa dan PT Adhitama Mitra Kencana Indonesia yang berlokasi di Pertokoan Graha Mas, Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan. Namun namanya tidak tertera dalam struktur perusahaan tersebut karena diwakili adiknya, Vidi Gunawan yang menjabat sebagai Direktur Utama di PT Adhitama.

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menyebut apa yang dilakukan oleh Andi ini terbilang cukup nekat. Pasalnya pembagian uang dilakukan sebelum dana proyek e-KTP cair ke tangan para pemenang tender.

Menurut Fahri, proyek pengadaan e-KTP ini terjadi untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara pada 2011. Pidato anggaran itu diputuskan terjadi pada 16 Agustus 2010. Nah pemberian suap sudah dilakukan sejak September-Oktober 2010. "Ini ada orang gila berani ngeluarin uang Rp2 triliun. Ini penasaran saya," ujar Fahri di kompleks parlemen, DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (16/3).

Politisi Partai Keadilan Sejahtera ini menambahkan, pembayaran proyek e-KTP sampai dibuatkan adendum hingga sembilan kali dengan total Rp5,5 triliun. Fahri pun heran mengapa pengusaha ini bisa mengeluarkan uang hampir 50 persen dari nilai itu tetapi anggaran belum cair.

"Ini ada adendum. Ini adendumnya sembilan kali. Nilai kontrak sampai adendum ke-9, berubah dari Rp5,8 triliun menjadi Rp5,5 triliun. Yang telah dibayarkan ke konsorsium PNRI sebesar Rp5,4 triliun, terdiri atas lingkup pekerjaan tahun 2011 Rp1,8 triliun, tahun 2012 Rp3,4 triliun, tahun 2013 Rp829 miliar. Jadi tiga kali," ujar Fahri.

Hal tersebut, kata Fahri berarti Andi Narogong belum menerima uang dari pembayaran proyek. "Tapi gimana cara orang ini ambil untung 50 persen. Ini yang bikin kita penasaran. Jadi ini ada orang yang luar biasa ini," tuturnya.


Baca selanjutnya: 1 2

Komentar