Jurus Berkelit Emirsyah Satar tak Goyahkan KPK

Sabtu, 18 Februari 2017, 12:00:00 WIB - Hukum

Mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar (tengah) berjalan keluar gedung KPK seusai menjalani pemeriksaan di Jakarta, Jumat (17/2). KPK memeriksa Emirsyah Satar sebagai tersangka terkait dugaan suap dalam bentuk transfer uang dan pengadaan mesin Rolls-Royce untuk pesawat Airbus milik Garuda Indonesia pada periode 2005-2014 yang nilainya diduga lebih dari 4 juta dollar AS, atau setara dengan Rp 52 miliar dari perusahaan asal Inggris Rolls-Royce. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali memeriksa Chairman mataharimall.com yang juga mantan Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar. Emirsyah diperiksa dalam kapasitasnya sebagai tersangka dalam kasus pengadaan dan pembelian mesin pesawat Garuda Indonesia pada saat dirinya menjabat sebagai dirut di maskapai penerbangan milik negara itu.

Emirsyah datang cukup pagi di Gedung Baru KPK, Jalan Kuningan Persada, Kavling K4, Jakarta Selatan sekitar pukul 09.00 WIB. Ia diperiksa sekitar hampir 9 jam oleh tim penyidik mengenai kasus yang membelitnya. Setelah keluar pemeriksaan sekitar Pukul 17.45, Emir memberikan keterangan kepada wartawan.

"Kita Kooperatif apa adanya agar proses ini bisa lebih cepat. Jadi inilah yang kami inginkan dan tentunya kami harapkan ini enggak mengganggu Garuda sendiri ya," kata Emirsyah di Gedung KPK, Jumat (17/2).

Sementara itu pengacara Emirsyah, Luhut Pangaribuan membantah segala keterlibatan kliennya dalam perkara ini, termasuk mengenai adanya aliran suap yang disangkakan oleh KPK senilai lebih dari Rp20 miliar untuk pengadaan mesin pesawat dari Rolls Royce. "Ya itu tidak ada. Tidak ada. Sama sekali tidak ada. Itu sudah disampaikan tadi," kata Luhut yang mendampingi kliennya.

Saat ditanya mengenai pengadilan Inggris yang telah menjatuhi hukuman kepada Rolls Royce karena terbukti melakukan suap di berbagai negara termasuk kepada Emirsyah pada saat pengadaan mesin pesawat, Luhut enggan mengomentarinya. Ia berdalih jika hal tersebut tidak ada hubungan dengan kliennya. "Ya itu urusan Rolls Royce lah kalau yang itukan tidak ada hubungannya," tutur Luhut.

Pengadilan Inggris diketahui menjatuhkan hukuman denda sebesar Rp11 triliun kepada Rolls Royce karena memberi suap para pejabat di berbagai negara termasuk Indonesia. Luhut bersikukuh, pengadaan mesin pesawat Trent 700 untuk Garuda telah sesuai dengan prosedur yang ada.

Emirsyah, kata Luhut, sama sekali tidak melakukan pelanggaran apapun apalagi menerima suap selama kepemimpinannya di perusahaan BUMN itu dalam kurun waktu 2005-2014.

Terkait perkara ini, sebelumnya KPK juga sudah memeriksa mantan Direktur Teknik Garuda Indonesia Hadinoto Soedigno. Hanya saja yang bersangkutan memilih bungkam setelah diperiksa KPK. Hadinoto meninggalkan gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (16/2/2017) sekitar pukul 19.10 WIB. Dia enggan menjawab pertanyaan wartawan yang telah menunggunya.

Selain Hadinoto, KPK sebenarnya memanggil Vice President Aircraft Maintenance Management Garuda Indonesia Batara Silaban, namun tidak hadir. "Pemeriksaan hari ini, saksi Batara Silaban untuk tersangka ESA (Emirsyah Satar) tidak hadir," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah.

Sebagai informasi, KPK telah meminta Imigrasi mencegah Hadinoto untuk bepergian ke luar negeri. Permintaan cegah itu berlaku dari 16 Januari 2017 hingga 6 bulan ke depan karena, apabila sewaktu-waktu KPK memerlukan keterangannya, yang bersangkutan tidak berada di luar negeri.

KPK telah menetapkan Emirsyah Satar dan Dirut PT Mugi Rekso Abadi, Soetikno Soedarjo, sebagai tersangka. KPK memastikan kasus itu berkaitan dengan individu, bukan korporasi.


Baca selanjutnya: 1 2 3

Komentar