Menguak Peran Setya Novanto dan Anas Urbaningrum di Kasus E KTP

Rabu, 11 Januari 2017, 09:00:00 WIB - Hukum

Ketua DPR Setya Novanto (tengah) berjalan keluar gedung KPK seusai menjalani pemeriksaan di Jakarta, Selasa (10/1). Setya Novanto diperiksa sebagai saksi terkait dugaan korupsi pengadaan kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP). (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Ketua DPR Setya Novanto kembali diperiksa tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kapasitasnya sebagai saksi pada perkara dugaan korupsi pengadaan Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP). Hampir 4 jam diperiksa, Novanto akhirnya keluar dari gedung KPK. Kepada wartawan, ia mengaku diperiksa saat menjadi Ketua Fraksi Partai Golkar.

'Itu hanya klarifikasi yang berkaitan saya sebagai Ketua Fraksi, tentu ada pertemuan dengan pimpinan Komisi II tentu Komisi II menyampaikan tapi tentu yang disampaikan normatif,' kata Novanto usai menjalani pemeriksaan, Selasa (10/1).

Novanto mengaku tidak mengetahui banyak tentang kasus ini. Dan pertemuan tersebut, katanya, hanya sebatas menjalankan fungsi saat dirinya menjadi ketua fraksi. 'Itu semua Komisi II dan departemen itu saya tahu normatif saja,' pungkas Ketua Umum Partai Golkar ini.

Munculnya, nama Setya Novanto dalam perkara e-KTP ini sendiri memang tidak terlepas dari adanya kesaksian mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M. Nazaruddin. Usai diperiksa KPK pada Jumat 30 September lalu, Nazaruddin mengungkap peran Novanto dalam kasus E-KTP. 'Pembagian uangnya dikoordinasikan Setya Novanto,' ujar Nazar ketika itu.

Dari informasi yang diperoleh wartawan, Novanto disebut memerintahkan beberapa pemberian uang untuk mempermulus proyek ini. Selain itu ada berbagai pertemuan yang dihadiri Novanto untuk membahas proyek yang bernilai sekitar Rp6 triliun ini.

Pertama, di kediaman Novanto pada 30 November 2010. Pertemuan ini dihadiri Ketua Komisi II DPR RI Chairuman Harahap, Andi Septinus, seluruh direktur konsorsium perusahaan yang mengerjakan E-KTP, dan juga Nazaruddin untuk membicarakan finalisasi fee.

Pertemuan kedua berlangsung di Equity Tower yang disebut-sebut salah satu kantor milik Novanto. Yang hadir dalam pertemuan ini adalah Novanto sendiri, Andi Septinus, Paulus Tanos, Chairuman, Anas Urbaningrum, Nazaruddin, dan seluruh direktur utama konsorsium untuk membicarakan finalisasi commitment fee.

Selanjutnya pada sekitar November 2013, pertemuan kembali diadakan di Plaza Senayan, Jakarta, yang dihadiri Anas Urbaningrum, Setya Novanto, Andi Septinus serta Nazaruddin yang membahas tentang penyerahan uang akan dilaporkan pada sekitar November 2013.

Sebelumnya juga diadakan pertemuan pada sekitar Maret 2010 di Restoran Nippon-Kan, Hotel Sultan, Jakarta, yang dihadiri Nazar, Novanto, dan Andi Septinus. Pada pertemuan ini Nazar menerima US$500 ribu sebagai fee 2,5 persen dari nilai kontrak E-KTP.

Novanto juga disebut memerintahkan pemberian uang realisasi fee sebesar US$500 ribu kepada Mirwan Amir oleh Andi Septinus. Selain itu, juga disebut ada aliran uang US$1 juta kepada Olly Dondokambey, US$500 ribu untuk Melchias Mekeng yang juga oleh Andi Septinus atas perintah Novanto. Mirwan dan Olly kala itu merupakan anggota Badan Anggaran DPR RI.

KPK sendiri mengakui, pemeriksaan terhadap Novanto memang terkait dengan adanya pengakuan Nazaruddin tersebut. Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, ada beberapa hal yang dikonfirmasi kepada Setya Novanto terkait kasus dugaan korupsi pengadaan proyek e-KTP. KPK menyebut ada pertemuan-pertemuan di DPR dan sejumlah hotel di Jakarta yang perlu dimintakan konfirmasi kepada Novanto.

'Kami ingin sampaikan terkait pemeriksaan Setya Novanto ini lebih didalami dan dikonfirmasi lagi terkait pertemuan yang dihadiri saksi di sejumlah tempat di Jakarta. Ada pertemuan di kantor DPR dan juga di sejumlah hotel. Kemudian kita konfirmasi kembali ke saksi Setya Novanto,' ujar Febri Diansyah di kantornya, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (10/1).

Selain itu, KPK mempertemukan Novanto dengan seorang pihak terkait dalam kasus dugaan korupsi pengadaan proyek e-KTP. Pertemuan itu untuk mencocokkan apakah Novanto benar-benar hadir pada pertemuan tersebut atau tidak.

'Selain itu, terkait dengan upaya mengkonfirmasi dan mengklarifikasi beberapa pertemuan tersebut, saksi juga dipertemukan dalam proses pemeriksaan dengan salah satu pihak yang terkait dengan penyidikan proyek e-KTP ini. Tapi mohon maaf, tak bisa kami sebutkan saat ini siapa pihak yang dipertemukan tersebut,' jelas Febri.

'Pada prinsipnya, penyidik mempertemukan saksi SN dengan salah satu pihak yang terkait dengan e-KTP ini untuk memastikan apakah pertemuan tersebut dihadiri oleh yang bersangkutan atau tidak,' sambungnya.

Namun Febri enggan membeberkan di mana pertemuan itu dan tanggal pastinya. 'Tanggalnya di masa pembahasan e-KTP tersebut. Bisa terjadi di antara sebelum itu. Tapi kita konfirmasi pertemuan tersebut terjadi di kantor dan sejumlah hotel,' ucapnya.


Baca selanjutnya: 1 2 3

Komentar