Menjerat Penulis "Jokowi Undercover" dengan UU Diskriminasi Rasial

Senin, 02 Januari 2017, 21:00:30 WIB - Hukum

Buku Jokowi Undercover karangan Bambang Tri Mulyono.

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Penulis buku "Jokowi Undercover: Melacak Jejak Sang Pemalsu Jatidiri-Prolog Revolusi Kembali ke UUD 45" Bambang Tri Mulyono akhirnya ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka atas tuduhan pencemaran nama baik dan fitnah oleh Mabes Polri.

Menanggapi kontroversi soal terbitnya buku tersebut, anggota Komisi III DPR Hendrawan Supratikno menilai perdebatan soal itu tak perlu diperpanjang. Sebab hanya akan menghabiskan energi untuk hal yang tidak perlu dan dungu. Menurutnya berdasar apa yang diberitakan media akhir-akhir ini, buku Jokowi Undercover tak ubahnya buku fiksi.

"Dari berita yang beredar, kita tahu ternyata itu buku fiksi dan halusinasi penulisnya. Itu bukan karya jurnalisme dengan standar yang kita kenal. Jadi itu hasil karya ideologi gombalisme dan gembelisme," kata Hendrawan kepada gresnews.com, Senin (2/1).

Hendrawan mengaku tak habis pikir buku semacam itu masih ditulis, sedang pemerintahan Presiden Joko Widodo sendiri sudah memasuki tahun ketiga. Hal itu, menurutnya, karena ada pihak-pihak yang ingin mereguk popularitas dan mendapat panggung.



Untuk itu Hendrawan menghimbau, pemberitaan mengenai hal itu tidak perlu diporsir terus menerus."Menurut saya, tak berharga untuk diulas panjang lebar. Energi kita jangan dihabiskan untuk hal-hal yang konyol dan dungu," katanya.

Berita bahwa Jokowi adalah keturunan Cina dan komunis bukanlah barang baru. Hal itu sempat juga mengemuka pada Pilpres 2014 lalu. Saat itu, lewat tabloid Obor Rakyat, Jokowi sudah dihantam dengan isu dan tuduhan serupa. Terkait hal itu, pengamat politik Universitas Paramadina Hendro Satrio merasa heran mengapa hal serupa masih terjadi.

"Saya bingung (Jokowi terus menerus diisukan sebagai keturunan Cina dan komunis—red). Mungkin karena belum ada pihak yang berkepentingan membantah dan meluruskan isu tersebut, kata Hendro kepada gresnews.com, Senin (2/1).

Sebagai perbandingan, meski materinya berbeda, serangan yang dilakukan seorang penulis terhadap kepala negara pernah juga terjadi sebelum Jokowi menjadi presiden RI. Pada 2009 lalu, nama George Yunus Aditjondro menjadi pembicaraan publik setelah menulis buku Gurita Cikeas yang menyeret nama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun demikian, menurut Hendro, pembicaraan tentang hal itu pelan-pelan mereda setelah ada pihak-pihak yang mencoba menghalau berbagai tuduhan terhadap SBY. Sedang dalam kasus Jokowi Undercover maupun Obor Rakyat, Jokowi sendiri lebih terkesan memilih bersikap no comment hingga isu-isu seperti itu menjadi semacam misteri yang mudah terus diproduksi.

Namun demikian, Hendro tetap melihat bahwa upaya menjatuhkan Jokowi dengan cara seperti itu tidak lagi relevan untuk saat ini. Lebih-lebih Jokowi sudah kadung menjadi presiden RI. "Gak sehat perdebatan ini sekarang. Kalau pun mau diributin, mestinya dari sebelum Jokowi mengikuti pemilihan walikota Solo," pungkasnya.

Baca selanjutnya: 1 2

Komentar