Fredi Budiman Mati Menyeret Polisi

Minggu, 31 Juli 2016, 18:00:00 WIB - Hukum

Sejumlah kerabat dan keluarga memanggul peti jenazah terpidana mati kasus penyalahgunaan narkoba berkewarganegaraan Indonesia, Freddy Budiman ke Tempat Pemakaman Umum Mbah Ratu, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (29/7). Freddy Budiman merupakan satu dari empat terpidana mati kasus narkotika yang dieksekusi di Lapas Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Harimau mati meninggalkan belang, Fredi Budiman mati meninggalkan kegegeran publik. Pasalnya, gembong penyelundup narkoba yang sudah menjalani eksekusi mati pada Jumat (29/7) dini hari itu, sempat meninggalkan pengakuan yang menghebohkan kepada kepada Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang Dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar.

Haris sendiri mengakui adanya kesaksian Fredi yang disampaikan kepadanya pada tahun 2014 itu. Dalam keterangan Haris, Fredi menguak fakta keterlibatan sejumlah oknum di beberapa instansi negara yang diduga ikut membekingi aksi penyelundupan narkoba yang dilakukannya.

Haris mengatakan, berdasarkan keterangan Fredi, dia telah memberikan uang ke oknum Badan Narkotika Nasional (BNN) sebesar Rp450 miliar dan Rp90 miliar ke pejabat tertentu di Mabes Polri. Selain itu, penyelundup 1,4 juta butir ekstasi ini juga mengaku, harga per butir ekstasi dari pabrik di China Rp5 ribu.

Kemudian dia bekerja sama dengan oknum-oknum mulai dari perizinan masuk barang sampai penegak hukum. Mereka kerap menitip harga mulai dari Rp10 ribu sampai Rp20 ribu per butir. 'Fredi mengaku dia bisa menjual Rp200 ribu per butir, dan dia tak masalah ketika oknum Bea Cukai, oknum polisi, dan oknum BNN ikut menitip harga per butirnya,' ujar Haris, dalam konferensi persnya di Kontras, Jakarta Pusat, Jumat (29/7).



Tak hanya itu saja, ketika barang narkoba miliknya disita, Fredi mengaku barang itu malah ada yang dijual ke pasar narkoba oleh oknum penegak hukum. Dia juga menyetor miliaran rupiah ke oknum penegak hukum. Fredi bahkan mengaku bisa bebas menyetir mobil berisi narkoba menggunakan kendaraan oknum perwira tinggi militer. Si jenderal itu, ujar Fredi, bahkan duduk menemani di sampingnya.

Sayangnya, pengakuan itu, kata Haris, tidak ditindaklanjuti dengan maksimal oleh penegak hukum. Haris menjelaskan, setelah adanya pengakuan Fredi itu, penindakan peredaran narkoba oleh penegak hukum tetap dilakukan setengah hati. Sejumlah oknum pejabat yang disebutkan Fredi, tetap tidak tersentuh hukum.

'Saya juga menyesal, Senin saya sudah ngomong ke Johan Budi walaupun Johan Budi sudah ngomong ke Jaksa Agung tapi tidak ada kebijakan optimal. Ini bukan soal menyelamatkan Fredi tapi menyelamatkan institusi negara yang dipakai untuk memfasilitasi pengedar, bandar,' kata Haris

Sebelumnya Jokowi begitu bersemangat berbicara soal pemberantasan kasus narkoba. Dengan adanya pengakuan Fredi ini, kata Haris, presiden-lah kini yang harus mengambil alih tanggungjawab untuk meninjau kembali informasi yang disebutkan Fredi itu.

Haris mengaku sudah menyampaikan informasi tersebut kepada Johan Budi pada Senin (25/7) dengan harapan akan disampaikan kepada presiden. Namun pihak pemerintah, menurut Haris, tidak merespons sedikit pun dari informasi yang disampaikannya, hingga hari Kamis (28/7). Padahal jika pemerintah benar berkomitmen memberantas peredaran Narkoba, maka eksekusi terhadap Fredi bisa saja ditangguhkan untuk menggali lebih jauh lagi keterlibatan oknum BNN, Kepolisian dalam kasus Fredi.

'Tapi kenapa ketika ada informasi dari Fredi tentang keterlibatan oknum institusi negara, enggak kelihatan gesturnya?' ujar Haris kecewa.

Lebih lanjut Haris menyayangkan tindakan pemerintah yang tak mempertimbangkan eksekusi hukuman mati terhadap Fredi Budiman. Menurut dia, kalau pemerintah mengeksekusi Fredi, maka pemerintah sebenarnya 'melindungi' oknum pejabat negara yang terlibat dalam kasus tersebut.

'Kalau eksekusi orang ini (Fredi Budiman-red) maka akan berpotensi menghilangkan keterangan signifikan untuk membongkar kejahatan yang melibat sejumlah pejabat di institusi negara dan sejumlah ratusan miliaran suap-menyuap,' ungkap Haris.

Haris menilai kasus Fredi, bisa menjadi momentum untuk mengungkapkan fakta jaringan mafia Narkoba. 'Meskipun pengakuan Fredi tidak menyebut nama oknum namun petunjuk-petunjuk itu bisa dilacak untuk penegak hukum,' ujar Haris.

Dia menantang pemerintah mengungkap keterlibatan oknum petinggi instansi BNN, Kepolisian dan TNI seperti pengakuan Fredi Budiman padanya. Menurut Haris sebenarnya bisa menelusuri dari indikasi-indikasinya. Dalam percakapan bersama Fredi, Haris sempat menanyakan nama-nama oknum tersebut. 'Cek saja di pleidoi (nota pembelaan-red) saya,' kata Haris meniru kata Fredi.

Baca selanjutnya: 1 2 3 4

Komentar