Kasus Penganiayaan Taruna dan Kekerasan Dunia Pendidikan

Jum'at, 19 Mei 2017, 17:00:41 WIB - Hukum

Akademi Kepolisian Semarang (twitter.com)


KEKERASAN DUNIA PENDIDIKAN MEMPRIHATINKAN - Kasus kekerasan dan penganiayaan di lingkungan pendidikan sepertinya terus saja terjadi. Kejadian di Akademi Kepolisian Semarang dan sejumlah lembaga pendidikan lainnya sepertinya tak pernah menjadi pelajaran, untuk memperbaiki diri.

Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) pun mengecam keras aksi kekerasan yang menyebabkan meninggalnya Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang Tingkat II, Brigadir Dua Taruna (Brigdatar) Mohammad Adam. Ia diduga tewas setelah dipukuli para seniornya yang menurut dugaan awal, karena korban melakukan kesalahan disiplin.

JPPI menilai kekerasan anak di sekolah di berbagai daerah di Indonesia sudah memasuki tahap memprihatinkan. Merujuk hasil penelitian JPPI dalam indeks layanan pendidikan di Indonesia atau Right to Education Index (RTEI), ada 3 Problem Utama Pendidikan Indonesia: 1). Kualitas Guru Rendah, 2). Sekolah Tidak Ramah Anak, dan 3). Diskriminasi Kelompok Marjinal

Menanggapi aksi kekerasan di Akpol Semarang, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) memandang, bahwa kekerasan masih dianggap sebagai bagian dari cara pembelajaran, misalnya untuk pendisiplinan, hal ini dinilai tidak tepat. "Semestinya pendidikan ditanam melalui penyadaran, bukan ancaman," ujar Nailul Faruq, Koordinator Advokasi JPPI dalam keterangannya kepada gresnews.com.


Selain itu pengawasan pemerintah dan dewan pendidikan juga dinilai lengah. Relasi senior dan junior masih menjadi tradisi di sekolah yang diwariskan turun temurun. Sementara sangsi atas pelaku pelanggaran kekerasan di sekolah masih belum mengenai semua pihak yang terlibat, tapi hanya pelaku lapangan.

Disisi lain lemahnya peran komite sekolah dan partisipasi masyarakat dalam pengawasan dan pelaporan atas kasus-kasus pendidikan. Untuk itu pelaku kekerasan harus diusut tuntas dan dihukum berat sesuai pasal yang berlaku, sehingga ada efek jera. (dtc)


Baca selanjutnya: 1 2

Komentar