Dakwaan KPK dan Hobi Golf Patrialis Akbar

Selasa, 13 Juni 2017, 16:16:00 WIB - Hukum

Terdakwa kasus dugaan suap ´judicial review´ di Mahkamah Konstitusi Patrialis Akbar (tengah) meninggalkan ruangan usai mengikuti sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (13/6). Mantan Hakim Mahkamah Konstitusi itu didakwa menerima hadiah berupa uang sejumlah 70 ribu USD dan dijanjikan Rp2 miliar, dari pengusaha Basuki Hariman dan sekretarisnya Ng Fenny melalui Kamaludin terkait pemulusan judicial review Undang Undang No 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Mantan hakim konstitusi Patrialis Akbar didakwa menerima uang US$ 70 ribu dalam kasus suap hakim MK dari Basuki Hariman dan Ng Fenny melalui Kamaludin berkaitan dengan uji materi Undang-Undang Nomor 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Terungkap dalam dakwaan jaksa, Patrialis menggunakan uang tersebut untuk bermain golf dan umrah.

Patrialis didakwa menerima uang itu dimaksud untuk mempengaruhi putusan perkara uji materi Undang Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Atas perbuatan itu, Patrialis diancam pidana pasal 12 huruf c jo pasal 18 undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi jo Pasal 55 ayat 1 dan pasal 64 ayat 1 KUHP.

Sedangkan Basuki Hariman merupakan beneficial owner (pemilik sebenarnya) dari PT Impexindo Pratama, PT Cahaya Timur Utama, PT Cahaya Sakti Utama dan CV Sumber Laut Perkara. Sementara Ng Fenny merupakan pegawai Basuki yang berprofesi sebagai General Manager PT Impexindo Pratama.

Atas perbuatannya, Basuki dan Ng Fenny didakwa melanggar Pasal 6 ayat 1 huruf a Undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 dan Pasal 64 ayat 1 KUHP. Mereka juga didakwa melanggar Pasal 13 Undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 dan Pasal 64 ayat 1 KUHP.



Jaksa KPK Lie Putra Setiawan menjelaskan jalannya kronologi kasus ini. Sebelumnya ada pertemuan antara Kamaludin dengan Basuki dan Fenny di Plaza UOB pada 7 Oktober 2016. Kamaludin merupakan perantara keduanya untuk bertemu dengan Patrialis.

Ketiganya lalu bertemu Patrialis di sebuah vila milik Patrialis di Cisarua, Bogor. Mereka lalu membahas bisnis dan kebijakan impor daging sapi. Basuki menegaskan kepada Patrialis agar membantunya untuk mengabulkan permohonan uji materi perkara nomor 129/PUU-XIII/2015 yang diajukan oleh para pemohon.
Pada kesempatan tersebut Patrialis Akbar menyampaikan akan mengupayakan membantu, namun jumlah majelis hakim ada sembilan orang dan keputusannya bersifat kolektif kolegial sehingga perlu kesepakatan bersama.

Setelah itu untuk menindaklanjuti pembicaraan, Basuki, Kamaludin, dan Patrialis bertemu kembali pada 19 Oktober 2016 di tempat parkir Jakarta Golf Club Rawamangun. Saat itu, Patrialis menyarankan agar Basuki juga melakukan pendekatan kepada hakim MK lainnya yaitu I Dewa Gede Palguna dan Manahan MP Sitompul.

"Patrialis menjawab bahwa supaya permohonan uji materi dapat dikabulkan harus memperoleh persetujuan dari dua hakim MK yang masih menolak yaitu I Dewa Gede Palguna dan Manahan MP Sitompul. Selain itu, hakim yang setuju yaitu, dirinya, Anwar Usman dan Wahidin, sedangkan Suhartoyo dan Hakim Ketua MK Arief Hidayat belum berpendapat," kata jaksa KPK Lie Putra Setiawan saat membacakan dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Selasa (13/6).

Dalam pertemuan itu, jaksa mengatakan Kamaludin memberi informasi kepada Basuki Hariman dan Ng Fenny bahwa Patrialis akan berangkat umrah. Patrialis pun membenarkan keberangkatan umrah tersebut.

"Selesai pertemuan, Patrialis meninggalkan lokasi, Kamaludin kemudian meminta uang kepada Basuki Hariman untuk keperluan berlibur dan keperluan Patrialis yang akan pergi umrah," kata jaksa.

Kemudian, jaksa menyatakan Basuki menyanggupi permintaan Kamaludin dan meminta Ng Fenny menyiapkan uang US$ 20 ribu untuk diberikan kepada Kamaludin. Setelah itu dalam kesempatan menelepon, Kamaludin menyampaikan belum ada kabar mengenai pemberian uang dari Basuki dan Patrialis pun memahaminya.

"Ng Fenny menelepon Darsono sopirnya untuk mengambil uang yang ada pada Kumala Dewi Sumartono (Staf CV Sumber Laut Perkasa) di kantor guna diserahkan kepada Kamaludin. Selanjutnya, Darsono menyerahkan uang US$ 20 ribu kepada Kamaludin di area parkir Plaza Buaran," kata jaksa.

Setelah menerima uang, kata jaksa, Kamaludin menelepon Patrialis. Saat itu, Patrialis meminta Kamaludin untuk datang ke rumahnya di daerah Cipinang, Jakarta Timur. "Lalu Kamaludin memberikan setengah dari uang sebelumnya dari Basuki Hariman yaitu sejumlah US$ 10 ribu agar dapat dipergunakan Patrialis untuk keperluan umrah. Ada pun sisa uang US$ 10 ribu digunakan Kamaludin untuk keperluan pribadinya," kata dia.

Baca selanjutnya: 1 2 3

Komentar