Babak Baru Kasus Cessie Victoria

Minggu, 18 Desember 2016, 16:00:00 WIB - Hukum

Jaksa Agung HM Prasetyo (kiri) menyampaikan pendapatnya saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi III DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (6/12).(ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Kejaksaan Agung akhirnya menyita lahan seluas seluas 1.055 hektar, milik Victoria Securities International Corporation (VSIC) di Karawang, Jawa Barat. Penyitaan itu dilakukan sebagai barang bukti untuk mempercepat penyidikan kasus dugaan korupsi penjualan hak tagih utang (Cessie) PT Adyesta Ciptatama (AC) di Bank BTN pada Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) kepada PT Victoria Securities International Corporation (VSIC).

Penyitaan lahan yang tepat berlokasi di sisi jalan Tol Karawang tersebut dilakukan pada Jumat (16/12) dipimpin Jaksa Mukri dan Gery Yasid. Penyitaan dilakukan setelah mendapat izin dari Pengadilan Negeri Karawang. Saat penyitaan dilakukan langsung disaksikan kepala desa setempat dengan pengawalan aparat kepolisian.

Direktur Penyidikan Fadil Zumhana membenarkan tim penyidiknya telah menyita lahan milik VSIC tersebut. Saat ini lahan tersebut telah dalam status sita. "Sudah kita sita, luasnya 1.055 hektar," kata Fadil dikonfirmasi soal penyitaan lahan milik VSIC, Minggu (18/12).

Dihubungi terpisah, Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Arminsyah mengatakan, dengan penyitaan lahan di Karawang, kasus ini akan segera dibawa ke pengadilan. Kejagung telah mengantongi kerugian negara dalam kasus ini mencapai Rp419 miliar.

Dengan penyitaan lahan ini, kata mantan Jaksa Agung Muda Intelijen, itu makin meyakinkan tim penyidik jika kasus ini telah terjadi tindak pidana korupsi dalam kasus itu. "Tim penyidik secepatnya untuk menyelesaikan pemberkasan terhadap empat tersangka dan limpah ke pengadilan," jelas Armin.

Kasus itu berawal saat PT Adyasta Ciptama (AC) mengajukan kredit senilai Rp469 miliar untuk membangun perumahan seluas 1.200 hektare di Karawang, Jawa Barat, ke salah satu bank pemerintah. Saat krisis moneter, bank yang memberikan pinjaman itu termasuk program penyehatan BPPN sehingga asetnya yang terkait kredit macet dilelang termasuk PT AC yang dibeli PT VS Indonesia (VSIC) senilai Rp26 miliar.

Namun, ketika PT AC akan membeli kembali, PT VS Indonesia menetapkan harga senilai Rp2,1 triliun. Akhirnya, PT AC melaporkan dugaan permainan dalam transaksi ini ke Kejaksaan Agung.

Salah satu kuasa hukum VSIC Irfan mengatakan jika kasus ini masalah bisnis bukan ranah pidana. "Kenapa hubungan business to business dibawa ke ranah korupsi?" kata Irfan dalam diskusi publik 'Membongkar Kasus Cessie di Tengah Ancaman Krisis' di Hotel Sahid, Jakarta Pusat, belum lama ini.


Baca selanjutnya: 1 2

Komentar