Kasus Kredit Fiktif, Kejaksaan Gencar Bidik Direksi Bank DKI

Jum'at, 08 April 2016, 13:00:00 WIB - Hukum

Ilustrasi, petugas teller Bank DKI. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta telah merampungkan penyidikan terhadap empat tersangka kasus kredit fiktif di Bank DKI Jakarta yang merugikan negara Rp230 miliar. Namun meski telah melimpahkan berkas perkara ke tahap penuntutan, tidak berarti kasus ini dianggap selesai. Penyidik justru kian gencar membidik keterlibatan direksi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI Jakarta ini.

'Berdasarkan bukti-bukti yang ada sudah ditemukan siapa-siapa yang bertanggung jawab dari jajaran direksi,' kata Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati DKI Waluyo dalam keterangannya yang diterima gresnews.com, Jumat (8/4).

Kamis (7/4), Kejati DKI telah melimpahkan berkas perkara kasus kredit fiktif modal kerja ke PT Likotama Harum ke tahap penuntutan. Antara lain berkas tersangka Dulles Tampubolon selaku Group Head Kredit Komersial Korporasi Bank DKI dan tersangka Hendri Kartika Andri sebagai Acccount Oficer Korporasi Bank DKI. Kedua berkas tersangka itu diserahkan ke Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat. Sementara satu tersangka lainnya yakni pimpinan Divisi Risiko di Grup Manajemen Risiko Bank DKI Gusti Indra Rahmadiansyah juga kini telah ditahan.

Waluyo mengatakan, mereka diduga melakukan penyimpangan dalam pemberian kredit modal kerja pada saat PT Likotama Harum mengajukan permohonan kredit modal kerja. Padahal Likotama tidak memenuhi persyaratan sesuai pedoman pemberian kredit perusahaan, tetapi persetujuan diloloskan oleh dewan direksi sehingga kredit dicairkan. Setelah pencairan kredit dana bukan untuk permodalan pekerjaan tetapi disalurkan kepada pihak lain. Ternyata PT Likotama juga tidak pernah mengerjakan proyek-proyek seperti dalam pengajuan kredit sehingga pekerjaan tersebut tidak selesai.



'Dan saat ini Kejati sedang mendalami peranan jajaran direksi,' jelas Waluyo.

Sebelumnya, Corporate Secretary Bank DKI, Zulfarshah mengatakan pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum yang saat ini disidik Kejati DKI Jakarta. Pihaknya menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Termasuk pemeriksaan para direksi Bank DKI.

Perlu diketahui, kasus pembobolan Bank DKI Jakarta yang terjadi pada 2013 silam itu ternyata ikut berdampak pada likuiditas Bank DKI. Kesehatan Bank DKI saat itu terganggu. Hal itu bisa dilihat dari persentase kredit macet atau nonperforming loan Bank DKI yang meningkat.

Pada kuartal pertama 2015, kredit macet Bank DKI hampir menyentuh 5 persen atau Rp 1,3 triliun, meningkat dibandingkan kuartal pertama tahun lalu yang hanya 2 persen.

Baca selanjutnya: 1 2

Komentar