Sepekan menjelang pendaftaran bakal calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, dinamika politik Ibu Kota semakin seru. Koalisi Kekeluargaan yang dideklarasikan satu bulan lalu oleh PAN, PKB, PKS, PPP, Demokrat, Gerindra dan PDIP mulai pecah kongsi.

Gerindra dan PKS mendeklarasikan duet Sandiaga Salahudin Uno-Mardani Ali Sera sebagai kandidat bakal cagub-cawagub DKI 2017. Sikap Gerindra dan PKS tersebut memantik munculnya Poros Alternatif di Pilgub DKI.

Poros alternatif yang digagas PKB itu berencana memajukan Yusril Ihza Mahendra sebagai bakal Cagub DKI. Wakil Ketua Majelis Syura PKS Hidayat Nur Wahid mengaku pihaknya menghormati sikap empat partai lain yang berencana menghadirkan Poros Alternatif di Pilgub DKI.

"Menurut saya ini dinamika politik saja. Secara prinsip kami menghormati sikap kawan-kawan (Poros Alternatif). Kami mendoakan kawan-kawan di poros itu bisa satu kata sehingga nantinya bisa menghadirkan Pilgub DKI yang berkualitas," kata Hidayat kepada wartawan, Minggu (11/9).

PKS, kata Hidayat, memiliki sejumlah alasan untuk mengajukan Mardani berduet dengan Sandiaga. Mardani adalah orang Betawi asli yang masih melestarikan budaya nenek moyang. Ayah Mardani merupakan seorang tokoh dan pelestari budaya silat Betawi.

Menurut Hidayat, Mardani juga merupakan seorang doktor yang terkenal santun dan antikorupsi. "Jika kita menginginkan pemimpin yang santun, cerdas dan antikorupsi pak Mardani Ali Sera memenuhi kriteria itu," kata Hidayat.

Hidayat berharap partai-partai lain yang sepakat untuk melawan petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bisa ikut mendukung duet Sandiaga-Mardani.

"Tentu kami memahami kawan-kawan yang lain, syukur-syukur mendukung (duet Sandiaga-Mardani)," kata Hidayat. (mon/dtc)