Kejagung (Masih) Buru Mu´min Ali Gunawan di Kasus Korupsi Cessie Victoria

Kamis, 16 Maret 2017, 13:00:00 WIB - Hukum

Gedung Kejaksaan Agung (Gresnews.com/Edy Susanto)

AUDIT BPK - Untuk membawa empat tersangka kasus cessie Victoria ke Pengadilan Tipikor, penyidik menunggu hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk melengkapi berkas perkaranya. Untuk mempercepat hasil audit kerugian negara, ‎Arminsyah mengaku langsung terjun dengan berkoordinasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan

"‎Kita masih presentasi di BPK dalam hal menghitung kerugian negara, jadi belum ketemu angka fix-nya, menurut kita ada kerugian negara tapi belum fix angkanya," kata Armin.

Disinggung soal kendala yang dihadapi BPK dalam melakukan audit untuk mendapatkan nominal fix kerugian negara, Arminsyah mengatakan, ada kendala yang dihadapi BPK. "Dulu BPK minta floor price (harga dasar), tapi tidak mungkin BPK karena masalah itu tidak bisa menghitung, saya yakin BPK bisa," kata Armin.

Arminsyah tidak menepis kemungkinan mengadili tiga tersangka secara in-absentia (tanpa kehadiran terdakwa), mengingat sampai kini mereka belum ditentukan. "Tentu menjadi pertimbangan. Kita harus perhitungan secara matang, khususnya terkait dengan aset-aset tersangka," ujar Armin.

Kasus ini berawal saat PT Adyasta Ciptama (AC) mengajukan kredit senilai Rp469 miliar untuk membangun perumahan seluas 1.200 hektare di Karawang, Jawa Barat, ke salah satu bank pemerintah. Saat krisis moneter, bank yang memberikan pinjaman itu termasuk program penyehatan BPPN sehingga asetnya yang terkait kredit macet dilelang termasuk PT AC yang dibeli PT VS Indonesia senilai Rp26 miliar.

Namun, ketika PT AC akan membeli kembali, PT VS Indonesia menetapkan harga senilai Rp2,1 triliun. Akhirnya, PT AC melaporkan dugaan permainan dalam transaksi ini ke Kejaksaan Agung.

Dalam kasus Cessie ini terlihat jelas ada pidana korupsinya. Kasus ini mencuat setelah adanya penurunan nilai penjualan aset dari Rp69 miliar menjadi Rp26 miliar. Nilai Rp69 miliar diperoleh saat lelang aset di BPPN dan dimenangkan taipan Prajogo Pangestu.

Namun, karena surat tidak lengkap, Prajogo dalam kapasitas pemilik PT First Kapital membatalkan kemenangan. Lalu. Dilelang lagi, VSIC sebagai pemenang dengan harga Rp26 miliar. Padahal, menurut anggota tim penyidik harga tanah seluas itu, di pinggir jalan tol Karawang sudah mencapai Rp2,2 triliun. Taksiran penyidik kerugian negaranya mencapai Rp419 miliar.


Baca selanjutnya: 1 2

Komentar