Kasus La Nyalla Makin "Istimewa"

Kamis, 12 Januari 2017, 11:00:00 WIB - Hukum

Terdakwa kasus dugaan korupsi dana hibah Kadin Jawa Timur periode 2011-2014, La Nyalla Mattalitti (tengah), berjalan memasuki mobil tahanan usai sidang putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jakarta, Selasa (27/12). La Nyalla Mattalitti divonis bebas oleh majelis hakim, tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana dakwaan primer maupun subsidair. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Putusan bebas yang didapatkan mantan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) provinsi Jawa Timur La Nyalla Mahmud Mattalitti memang membuat Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur cukup geram. Mereka terus melakukan perlawanan dengan melakukan langkah hukum kasasi ke Mahkamah Agung.

Untuk menindaklanjutii hal tersebut, Kejati tidak berusaha sendiri. Mereka menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk membahas memori kasasi yang dimaksud. Terlepas dari unsur lain atas putusan ini, KPK memang mempunyai rekor sempurna membuktikan dakwaannya di pengadilan sehingga tidak ada satupun terdakwa yang lolos dari hukum.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah tetap yakin, Kejati Jawa Timur mempunyai bukti kuat dalam menjerat La Nyalla. Pria lulusan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada ini pun optimis memori kasasi yang diajukan Kejati Jatim akan diterima MA, meskipun La Nyalla disebut merupakan keponakan dari Ketua MA Hatta Ali.

'Kita yakin buktinya (sudah cukup untuk menjerat La Nyalla). Kita harap MA ketika proses ini melihat lebih dalam, tidak hanya aspek formalitas tetapi mempertimbangkan substansi dan rasa keadilan publik dalam penanganan tindak pidana korupsi,' kata Febri di kantornya, Rabu (11/1).



Saat ditanya apakah koordinasi ini hanya sekadar membicarakan tentang memori kasasi atau justru ada indikasi penerimaan uang oleh majelis hakim, Febri enggan membicarakan ini lebih jauh. Menurutnya, untuk saat ini pihaknya dan Kejati Jatim masih fokus pada penyusunan memori kasasi. 'Terkait upaya hukum yang dilakukan,' ujarnya.

Febri mengatakan, tim jaksa pada Kejati Jatim menganggap, putusan bebas La Nyalla tidaklah murni. Tetapi ada argumentasi tentang vonis itu sendiri apakah lepas dari segala tuntutan hukum, tidak terbukti melakukan pidana atau memang bebas murni.

'Sementara tim meyakini konstruksi hukum yang dibangun sejak awal dan bukti yang ada ketika kasus ini diajukan ke pengadilan. Kita harap MA ketika proses ini lihat lebih dalam,' ujarnya.

KPK memang turut memantau penanganan kasus La Nyalla itu dari awal. Febri menyebut KPK dari awal yakin kasus itu bisa lanjut ke persidangan karena konstruksi perkaranya cukup kuat.

'Di proses supervisi kita cukup yakin, ketika kita koordinasi dengan pihak kejaksaan, kami cukup yakin bahwa perkara ini konstruksinya cukup kuat. Sehingga dapat dilanjutkan pada proses di persidangan,' jelasnya.

La Nyalla didakwa melakukan tindak pidana korupsi dengan memperkaya diri Rp1,105 miliar. La Nyalla didakwa mengambil keuntungan dari penjualan initial public offering (IPO) Bank Jatim yang dibeli menggunakan dana hibah Pemprov Jatim.

Jaksa penuntut umum kemudian menuntut La Nyalla dengan tuntutan 6 tahun penjara dan denda Rp500 juta subsider 6 bulan kurungan. La Nyalla juga dituntut membayar uang pengganti Rp1,1 miliar, setara dengan keuntungan yang diraup La Nyalla terkait penjualan IPO Bank Jatim.

Namun majelis hakim yang diketuai Sumpeno membebaskan La Nyalla. Salah satu alasan putusan bebas adalah pengembalian uang yang dilakukan La Nyalla.

Baca selanjutnya: 1 2 3

Komentar