Heboh Konten Porno Aplikasi WhatsApp

Senin, 06 November 2017, 10:00:00 WIB - Hukum

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo (tengah), Menkominfo Rudiantara (kiri), dan Ketua Komisi II DPR Zainuddin Amali (kanan) berbincang saat akan mengikuti rapat kerja di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (16/10). (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Jagat maya kembali dihebohkan dengan adanya penyusupan konten porno dalam format GIF di WhatsApp. Beredar kabar kalau dengan melakukan pencarian di WhatsApp dengan cara tertentu, dapat ditemukan gambar bergerak berbentuk GIF yang mesum. Ketika dicoba di perangkat Android maupun iOS, ternyata kabar tersebut benar. Ada sejumlah emoticon berkonten pornografi dengan format Gif yang tersedia pada layanan WhatsApp. Gambar-gambar porno tersebut berupa video animated pendek.

Memang fitur itu tersembunyi dan perlu dicari sendiri di WhatsApp. WhatsApp agaknya juga tidak pernah mengumumkannya. Namun jika sudah menemukan caranya, tentu menjadi masalah jika digunakan oleh anak di bawah umur.

Pesan yang beredar di internet pun sudah meminta agar mewaspadai soal fitur tersebut. Terutama orang tua agar lebih mengawasi anak-anaknya dalam menggunakan internet dan layanan pesan instan.

Terkait hal ini, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengatakan telah menerima laporan dari masyarakat terkait konten pornografi dalam Rudiantara menuturkan bahwa saat ini laporan tersebut tengah diurus atau diproses, baik ke Facebook selaku induk perusahaan maupun langsung ke WhatsApp.



Adanya laporan konten porno di WhatsApp dari masyarakat, Rudiantara mengatakan pihak Facebook maupun WhatsApp diharapkan dapat bertindak cepat untuk menapis konten di layanan pesan instan dengan pengguna 1,2 miliar di seluruh dunia tersebut.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah melaporkan dan kami mengharapkan kerjasama dari Facebook/WhatsApp/GIF untuk dapat melakukan filtering secepatnya," tegas Rudiantara, Minggu (5/11) malam .

Ia menambahkan, pihaknya juga tengah berkomunikasi dengan penyedia layanan aplikasi tersebut. "Sekarang sedang berkomunikasi dengan FB (WA)," lanjut Rudi.

Hal ini memang mengkhawatirkan mengingat WhatsApp menjadi layanan messaging terbesar dunia dengan pengguna sekitar 1,2 miliar karena kemudahannya dan juga bebas iklan. Dengan diketahuinya fitur semacam itu, WhatsApp mungkin telah melanggar peraturan.

Pihak Kominfo mengaku telah mulai melakukan tindakan terkait persoalan ini. "Sudah dikirim ke timnya siang tadi," kata Noor Iza, Plt Kabiro Humas Kementerian Kominfo melalui pesan singkat. Tim dimaksud mengarah ke pihak WhatsApp.

Sebelumnya, Direktur Reskrimsus Polda Metro Jaya Kombes Pol Adi Deriyan juga mengatakan akan menyelidiki hal ini. "Kami masih menyelidikinya dan tentunya karena ini berkaitan dengan aplikasi, kami berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo)," ujar Adi.

Dari penelusuran lebih jauh, animasi berkonten porno tersebut tak cuma muncul di jejaring pengiriman pesan, melainkan di jejaring lain seperti Facebook dan Twitter. Dengan metode pencarian yang sama dengan di aplikasi WhatsApp, animasi GIF pornografi juga bisa ditemukan di Twitter dan Facebook. Rupanya, ada satu situs sama yang digunakan oleh ketiga jejaring tersebut sebagai database GIF-nya, yaitu Giphy.

Dalam pernyataannya, WhatsApp menyatakan kalau mereka menggunakan menggunakan database GIF milik Giphy dan Tenor, sementara Twitter mengambil databasenya dari Giphy dan Riffsy. Giphy sendiri adalah layanan yang menjadi favorit banyak pengguna GIF di dunia maya. Database GIF yang ada di di Giphy sangatlah besar, dan sayangnya konten pornografi juga ada di dalamnya.

Banyaknya database GIF itu bisa dimungkinkan karena platform Giphy mempunyai banyak alat untuk membuat konten GIF. Dan konten-konten tersebut belakangan memang digandrungi banyak pengguna internet, karena sifatnya yang bisa memperkaya percakapan di aplikasi pesan instan atau pun media sosial. Jadi bisa dikatakan konten porno itu bukan murni berasal dari WhatsApp ataupun Facebook. Meski tentu mereka turut bertanggungjawab.

Baca selanjutnya: 1 2

Komentar