Tragedi ledakan di pabrik kembang api PT Panca Buana Cahaya Sukses, Kamis (26/10) yang menelan korban jiwa hingga 47 orang semakin membuat buram potret pekerja kelas bawah yang sudah buram.

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Tragedi ledakan di pabrik kembang api PT Panca Buana Cahaya Sukses, Kamis (26/10) yang menelan korban jiwa hingga 47 orang semakin membuat buram potret pekerja kelas bawah yang sudah buram. Bayangkan saja, para pekerja yang sehari-hari berhadapan dengan benda-benda berbahaya, bekerja dalam kondisi lingkungan kerja yang tak aman. Terbukti dari banyaknya korban yang jatuh akibat ruangan kerja mereka terkunci dan hanya dibuka saat jam tertentu seperti jam makan.

Belum lagi, belakangan diketahui, dari 47 pekerja yang jadi korban, satu diantaranya adalah pekerja anak yang diidentifikasi bernama Surnah. Dia diketahui sebagai pekerja anak karena usianya yang masih di bawah umur, yaitu 14 tahun.

"Hari ini ada satu jenazah dengan nomor kantong 1 dan nomor register polisi 344 terindikasi sebagai Surnah. Ini kami identifikasi berdasarkan pemeriksaan primer gigi dan pemeriksaan medis antara lain kita dengan penentuan usia, penentuan jenis kelamin, dan penentuan tinggi badan," Kabid Dokpol Polri Kombes Pramujoko dalam jumpa pers di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (27/10).

Jenazah Surnah sendiri telah diserahkan kepada keluarga oleh perwakilan Polda Metro Jaya hari ini. Jenazah Surnah, kelahiran Tangerang, 8 Mei 2003, terlebih dulu akan dipulasara dan dimasukkan ke peti.

Terkait masalah ini, Gubernur Banten Wahidin Halim mengakui adanya ada pelanggaran yang dilakukan pemilik PT Panca Buana Cahaya Sukses. Selain ada pekerja anak, upah buruh di pabrik juga rendah. "Hasil investigasi kita, kita lihat ada pelanggaran. Anak di bawah umur, upah rendah," ujar Wahidin usai menjenguk korban luka yang dirawat di RSUD Kabupaten Tangerang, Jumat (27/10).

Pabrik yang mempekerjakan 103 orang itu disebut sudah mengantongi izin. Sekda Kabupaten Tangerang Moch. Maesyal Rasyid menyebut kembang api yang diproduksi berjenis sparklers dengan kawat pegangan.

Wahidin mengakui, dirinya dan jajarannya selama ini kesulitan mengawasi pabrik dan industri di wilayah Banten. Pernyataan tersebut disampaikannya kepada wartawan usai menjenguk korban di RSUD Kabupaten Tangerang, Jumat (27/10).

"Yang jadi kesulitan, begitu banyak pabrik, begitu banyak industri. Banyak izin dikeluarkan tapi tidak diimbangi dengan evaluasi. Tidak hanya di kabupaten tapi di provinsi. Kadang pengusaha menyalahgunakan pelayanan pemerintah yang baik, yang berakibat sekarang ini," ujarnya.

Politikus Partai Demokrat ini juga mengakui, ketika dia dulu menjabat wali kota Tangerang, jajarannya pun sulit melakukan penertiban karena kerap berbenturan langsung dengan warga. "Memang ada persoalan di sana. Ketika saya wali kota, ada industri yang bersatu dengan kawasan permukiman. Ketika kita melakukan tindakan, memang berhadapan dengan tenaga kerja. Jadi memang pemerintah juga belum mampu terhadap penertiban ini karena memang ada konsekuensi masalah tenaga kerja," ujarnya.

Wahidin akan menjadikan kasus kebakaran pabrik petasan di Kosambi ini sebagai pelajaran. Dia tak mau kejadian serupa terulang. Wahidin mengaku, dia telah meminta agar pabrik yang berdiri atas nama PT Panca Buana Cahaya Sukses ini dievaluasi. Apalagi lokasinya jadi sorotan karena berada di lingkungan permukiman warga dan sekolah.

"Saya minta kepada bupati agar menertibkan dan evaluasi," ujarnya. "Kadang-kadang pihak pengusaha tidak perhatikan rekomendasi dan surat atau ketentuan atau SOP yang harus dimiliki. Misalnya instalasi dan pemadam kebakaran, pintu darurat. Ini kan menyangkut bahan berbahaya yang mudah kebakaran," sambungnya.

Fakta soal upah rendah juga disampaikan anggota Komisi IX DPR Irma Chaniago. Saat berbincang dengan korban luka, Irma mendapat informasi soal kondisi pekerja pabrik. "Hampir semua yang saya wawancara tadi itu buruh harian lepas, kerja dari jam 8 pagi sampai 5 sore. Rata-rata hanya digaji antara Rp20 ribu-Rp60 ribu per hari tanpa uang makan. Ini bukan lagi perbudakan ini ini zalim. Yang saya ingin sampaikan adalah disnaker tidak bertanggungjawab," tegas Irma.

Para korban yang ditemui menurut Irma tidak mengetahui penyebab terjadinya ledakan kuat disusul kebakaran. Banyak yang terjebak karena pintu pabrik terkunci. "Tidak ada pintu darurat dan pintu pun itu dikunci dan hanya boleh dibuka pas makan siang. Pada saat makan siang pintu dibuka," katanya.

USUT TUNTAS - Terkait tragedi Kosambi ini, Ketua DPR Setya Novanto mengungkapkan rasa duka cita yang mendalam kepada seluruh keluarga korban meninggal dunia dalam insiden itu. "Saya turut berduka cita atas kejadian ini. Doa saya menyertai para korban. Bagi yang meninggal dunia, Insya Allah diberikan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa," tutur Novanto Jumat (27/10).

Ia juga menyampaikan apresiasi atas tindakan cepat aparat kepolisian yang telah berusaha keras menyelamatkan para korban. "Bahkan saya dengar anggota Brimob sampai menjebol tembok untuk memberikan akses kepada para korban agar bisa menyelamatkan diri. Kerja keras aparat telah meminimalisir jatuhnya korban," ucapnya.

Selain itu, Novanto meminta aparat kepolisian untuk menindaklanjuti penyebab terjadinya ledakan tersebut. Novanto ingin ada kejelasan, sehingga kedepannya tidak terjadi lagi kejadian serupa. "Kita jangan main-main dengan keselamatan kerja. Apalagi ini gudang kembang api. Perlu dicari tahu, apakah prosedur keselamatan sudah dilakukan atau belum," ujar Novanto.

DPR, kata dia, tidak akan tinggal diam dalam menyikapi masalah ini, lanjutnya. "Komisi IX DPR sebagai mitra kerja Kementerian Ketenagakerjaan akan membahasnya dalam Rapat Dengar Pendapat. Kita juga ingin memastikan para pekerja disana, terutama keluarga yang menjadi korban meninggal dan luka-luka, terpenuhi haknya," paparnya.

Novanto menyatakan bahwa kejadian ledakan itu harus dijadikan peringatan bagi seluruh perusahaan agar tak main-main dalam menerapkan standar prosedur keselamatan dan kesehatan kerja (K3). "Kita tidak boleh menyepelekan standar prosedur keselamatan dan kesehatan kerja. Saya harap semua perusahaan yang beroperasi di Indonesia memperhatikan hal ini secara serius. Jika tidak, DPR bisa mendesak pemerintah menjatuhkan sanksi tegas. Nyawa manusia tak ternilai harganya," pungkasnya.

Sementara itu, anggota Komisi IX DPR RI Nihayatul Wafiroh minta Pemerintah Kabupaten Tangerang memastikan hak-hak pekerja korban kebakaran di pabrik mercon milik PT Panca Buana Cahaya Sukses terpenuhi. Ia juga meminta kepolisian mengusut tuntas penyebab kebakaran tersebut.

"Saya turut berduka pada korban. 47 pekerja tewas dan baru 1,5 bulan mereka bekerja. Sungguh menyedihkan, Peristiwa ini menunjukkan masih sangat rentannya keselamatan pekerja kita. Perlu perbaikan sistem keamanan, kesehatan dan  keselamatan selama bekerja," ungkap Nihayatul dalam rilisnya, Jumat (27/10).

Sebagaimana diketahui, tewasnya 47 pekerja di pabrik mercon menimbulkan duka mendalam bagi seluruh anak bangsa. Menurut Nihayatul, keluh kesah sulitnya pekerja keluar dari pabrik karena tidak menemukan  jalan keluar mengindikasikan belum adanya pelatihan keselamatan kerja dipabrik tersebut.

Ia menambahkan, dalam pasal 3 UU No 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja disebutkan bahwa keselamatan kerja pada point b tertulis mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran. Sedangkan point c menyebutkan mencegah dan mengurangi bahaya peledakan. "Artinya, UU kita telah melindungi hak-hak pekerja dan dalam pelaksanaannya perlu perbaikan," jelas anggota fraksi PKB ini.

Nihayah, sapaan akrabnya, juga mendukung sepenuhnya langkah-langkah kepolisian mengusut tuntas kasus ini. Dan meminta seluruh stakeholder segera melakukan perbaikan-perbaikan dalam sistem keamanan, kesehatan serta keselamatan dalam bekerja agar tidak terjadi hal serupa.

"Kasus ini menjadi alarm buat kita untuk memperhatikan sistem keamanan, kesehatan dan keselamatan di pabrik-pabrik, agar tenaga kerja kita benar-benar terlindungi dari kecelakaan atau musibah tak terduga,"  pungkas Nihayah.

MASIH DIPERIKSA - Polisi masih memeriksa Indra Liyono (40), pemilik pabrik kembang api yang meledak di Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten. Status Indra akan ditentukan dalam tempo 1x24 jam. "Dia kan baru datang siang. Kasih waktu penyidik 1x24 jam untuk menentukan statusnya, nanti setelah pemeriksaan 1x24 jam ini," kata Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Idham Azis, Jumat (27/10).

Idham mengatakan penyidik masih memeriksa Indra. Polisi menanyakan seputar SOP dalam operasional pabrik tersebut. "Yang jelas dia harus bertanggung jawab sebagai pemilik," imbuhnya.

Penyidik juga memeriksa beberapa karyawan pabrik tersebut. Polisi masih mendalami dugaan unsur pidana terkait peristiwa tersebut. "Sekarang sedang dilakukan pemeriksaan maraton, termasuk saksi-saksi," lanjutnya.

Sampai saat ini, Indra dan juga tiga karyawannya masih diperiksa di Polda Metro Jaya. Polisi juga telah memeriksa saksi-saksi lainnya terkait kejadian itu.

Pada kesempatan terpisah, Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Harry Kurniawan mengatakan olah tempat kejadian perkara (TKP) yang dilakukan di pabrik kembang api di Kosambi, Tangerang, sudah selesai dilakukan. Barang bukti dari olah TKP akan dibawa ke Mabes Polri.

"Hasil koordinasi tim olah TKP Puslabfor Mabes Polri dinyatakan bahwa untuk saat ini sudah cukup untuk dilakukan pengolahan TKP. Pada sore hari ini ditutup Puslabfor, barang bukti dan petunjuk-petunjuk lain sudah didapatkan dan dibawa ke Mabes Polri," kata Harry di area Pergudangan 99, Jalan Salembaran Raya, Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (27/10).

Olah TKP ini ditutup pada pukul 16.00 WIB. Harry mengatakan kembang api yang ada di dalam pabrik sudah banyak yang terbakar. Soal jumlah kembang api yang ada di dalam pabrik milik PT Panca Buana Cahaya Sukses itu akan dilakukan oleh Puslabfor Polri.

Dari olah TKP yang dilakukan, diketahui, ada dua alat pemadam kebakaran di dalam pabrik tersebut. Hanya saja, alat tersebut telah terbakar dan hancur. Dia tidak menutup kemungkinan bila alat pemadam kebakaran itu ditemukan kembali nanti. "Kemarin kita temukan alat pemadam ringan yang sudah terbakar dan hancur, kondisinya rusak. Kemarin kita sudah kumpulkan dalam proses penyelidikan," tuturnya.

Di lokasi yang sama, anggota Tim Puslabfor Polri Kompol Nurcholis mengatakan pihaknya akan melakukan uji laboratoris untuk mengetahui penyebab kebakaran. Tapi Nurcholis tak dapat menyebutkan barang bukti yang dibawa.

"Pada intinya olah TKP yang di lapangan kita anggap sudah cukup. Ada beberapa barang bukti yang kita lakukan pemeriksaan secara laboratoris untuk menentukan pasti penyebab kebakaran seperti apa. Belum bisa saya buka di sini karen harus melalui proses uji lab," tuturnya.

Olah TKP di pabrik ini telah dilakukan sejak kemarin. Nurcholis mengatakan, hasil uji lab rencananya akan disampaikan pada dua hari kn. "Mungkin maksimal 2 hari udah bisa kita kasih hasilnya," ucap dia. (dtc)