- Mendagri: FPI jangan ancam Konser Lady Gaga
- Taufik buat Indonesia unggul sementara 2-1 atas Inggris
- KPK panggil Menpora terkait kasus Hambalang
- Tim DVI Polri persilakan keluarga menengok jasad korban Sukhoi
- Badan Kehormatan DPR panggil pakar Telematika periksa video syahwat politisi Senayan
- SAR temuka perangkat parasut dan ELT, Minggu malam
- Aburizal Bakrie bertemu anggota parlemen Australia
- Hamas-Fatah sepakat percepat rekonsiliasi
- 30 WN Malaysia ditahan di Indonesia karena tersangkut kasus narkoba
- Janji PM China pengaruhi bursa Asia
Pikirkan dulu sebelum nge-tweet, sesal kemudian tiada berguna
Survei terbaru menyebutkan bahwa banyak orang menyesali posting-nya di media sosial. Rasa sesal itu muncul setelah tahu kalimat yang di-tweet dinilai tidak pantas diketahui orang lain, bahkan menimbulkan kesumat.
Berita terkait :
SAAT ini orang lebih pandai 'menulis' ketimbang berbicara. Coba saja berada di tempat umum, hampir sebagian orang yang ada di situ sibuk bermain dengan jari-jarinya di atas keypad ponsel.
Survei terbaru menyebutkan bahwa banyak orang menyesali posting-nya di media sosial. Rasa sesal itu muncul setelah tahu kalimat yang di-tweet dinilai tidak pantas diketahui orang lain, bahkan menimbulkan kesumat.
Penelitian dilakukan Profesor Dunbar dari Magdalen College, Oxford. Survei di perguruan ternama di Inggris ini melibatkan 2 ribu responden dan 40% dari mereka mengaku memakai Twitter dan Facebook untuk 'curhat' terhadap sesuatu hal yang disukai atau sebaliknya.
Hampir setengahnya yakin bahwa postingan mereka membawa perubahan. Tapi, lebih dari seperempat mengaku bahwa posting-an mereka itu tak akan mereka katakan jika berhadapan dengan orang yang jadi sasaran posting.
Korban online bullying
Sepertiga dari responden juga mengaku pernah melihat atau menjadi korban 'online bullying' alias aksi premanisme di internet.
"Jejaring sosial membawa hal positif, antara lain orang bisa mengutarakan hal-hal yang sedang mereka senangi," ungkap Profesor Dunbar seperti dikutip telegraph.co.uk.
Kendati begitu, dia mengingatkan bahwa komunikasi tatap muka memberikan kita keterampilan sosial untuk menjalani kehidupan di dunia yang rumit ini.
"Temuan kami menunjukkan bahwa lewat jejaring sosial, orang lebih gampang mengutarakan sesuatu yang kemudian mereka sesali. Di lingkungan digital, kita tidak bisa mendapatkan respon seketika seperti jika melakukan interaksi tatap muka."
"Akibatnya, orang kadang men-tweet dengan tidak hati-hati, sembarangan, atau yang terburuk adalah melakukan premanisme internet."


.jpg)




Perdebatan mengenai artikel diatas diperbolehkan. Dilarang memberi komentar yang berupa iklan komersial. Komentar yang melanggar akan segera dihapus