SIMALAKAMA RUMAH PENJAGALAN ULAR




Semua ini menjadi buah simalakama bagi warga, karena jika rumah penjagalan ular serta industri yang membutuhkan bahan baku kulit ular terus berjalan tanpa adanya pengawasan, tentu akan berakibat pada rusaknya ekosistem dan keseimbangan alam.


Ular adalah binatang yang dianggap menakutkan dan berbahaya bagi kebanyakan masyarakat. Alasanya jelas karena sebagian besar ular yang hidup di alam liar memiliki bisa yang sangat mematikan. Namun tidak bagi warga Desa Kertasura, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Sebagian besar warga desa ini setiap harinya sudah terbiasa melihat banyakan tumpukan ular-ular yang siap dikuliti dan dibersihkan dari berbagai kotoran yang ada di dalamnya. Bagi warga desa ini, ular memiliki daya ekonomis yang tinggi, terlebih kulitnya.

Oleh sebab itu ular di desa ini dijadikan sebagai sumber mata pencaharian. Mereka menangkap, menguliti lalu menjual kulit-kulit ular tersebut kemudian dijual ke pengrajin untuk seperti tas dan sepatu. Seperti yang terlihat di rumah penjagalan ular milik Wakira atau orang biasa sebut "BOS KOBRA".

Di rumah penjagalan yang berdiri sejak tahun 1987 ini, berbagai macam ular mulai dari ular kobra, ular sawah dan lainnya betumpuk setiap harinya siap untuk dikuliti. Harga kulit ular pun berbagai macam, tergantung jenis ular. Dalam menjualnya pun bisa secara satuan atau pun per kilo.

Satu ular yang berukuran panjang 85 cm saja bisa dihargai sekitar Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per ekornya, beda lagi dengan ular kolam yang dihargai perkilonya sekitar Rp25 ribu sampai Rp30 ribu rupiah. Setiap harinya ular datang dari berbagai daerah sekitar 17 kwintal atau sekitar 2 ton ular.

Ular-ular tersebut terlebih dahulu dibersihkan kotoran dalamnya lalu di kuliti dan dipisahkan kulit dengan dagingnya. Setelah itu baru di proses pengeringan dengn mengunakan open atau dipanaskan selama sehari semalam dalam ruang pemanas khusus. Daging ular diyakini oleh beberapa orang mampu bisa mengobati penyakit kulit dan asma, serta untuk meningkatkan kejantanan dan juga untuk dijadikan makanan berupa abon ular.

Sedangkan kulit ular biasa digunakan untuk membuat tas, sepatu, dompet dan ikat pinggang. Harga dari daging ular tersebuat sekitar Rp300 ribu rupiah per kilogram sedang kulit ularnya Rp150 ribu rupiah perkilonya. Hasilnya langsung dikirim ke Surabaya untuk diekspor ke berbagai negara seperti China, Jepang, Hongkong dan lainnya.

Miris melihat ribuan ular tersebut terus diburu, dikuliti dan kemudian dijadikan barang-barang bernilai ekonomis tinggi yang menguntungkan sebagaian masyarakat yang memiliki gaya hidup konsumtif. Namun di sisi lain rumah penjagalan dan penjualan kulit ular ini juga dijadikan mata pencaharian bagi warga desa.

Semua ini menjadi buah simalakama bagi warga, karena jika rumah penjagalan ular serta industri yang membutuhkan bahan baku kulit ular terus berjalan tanpa adanya pengawasan, tentu akan berakibat pada rusaknya ekosistem dan keseimbangan alam.

Ular merupakan predator utama hama seperti tikus yang kerap merusak tanaman pertanian milik petani. Memusnahkan ular dengan cara yang tak terkendali sama saja membiarkan hama-hama semakin berkembang biak. (Edy Susanto/Gresnews.com)

Setiap harinya ular datang dari berbagai daerah sekitar 17 kwintal atau sekitar 2 ton untuk kemudian dikuliti.

Pekerja memilah-milah ular sebelum dikuliti.

Pekerja menguliti ular-ular yang sudah mati. Kulit-kulit ular tersebut kemudian dijual ke pengrajin untuk seperti dibuat tas dan sepatu.

Kulit-kulit ular ditaruh di sebatang bambu agar memudahkan proses penjemuran.

Pekerja merapikan kulit-kulit ular yang sedang dijemur, membolak-balik batang-batang bambu tersebut agar kulit ular yang dijemur dapat kering secara merata.

Kulit-kulit ular yang telah mengering disimpan rapi, siap untuk dijual ke pengrajin.