Di Bawah Ancaman Racun Gas Metana




Pembuangan sampah sistem open dumping di lokasi pembuangan akhir sampah mengakibatkan gas hasil dekomposisi seperti gas Hidrogen Sulfida (H2S), Metan (CH4), dan Amoniak (NH3) lepas ke udara.


Suasana rumah milik Sumitra (38) dan Iin (35) di sudut perkampungan pemulung yang padat desa Ciketing Udik, kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, terlihat sepi. Beberapa anak, diantaranya tak bercelana, berlarian tanpa alas kaki di tanah becek yang dipenuhi ceceran sampah yang dihinggapi ratusan lalat hijau. Sebuah tenda ukuran kecil dan tumpukan kursi bekas tempat para pelayat masih berdiri di samping rumah sederhana berukuran kurang lebih 3x4 meter.

Kabar duka memang belum lama datang, Indah (5), buah hati dari empunya rumah harus meregang nyawa akibat sakit, batuk dan sesak napas berkepanjangan. "Terima kasih sudah datang, Senin lalu anak saya sudah enggak ada, doakan anak saya ya," ucap Iin kepada gresnews.com beberapa waktu lalu.

Raut kesedihan masih nampak di wajah wanita paruh baya ini karena harus merelakan kepergian anak ketiganya. Iin menceritakan anaknya menderita sakit sejak 5 bulan lalu. "Panasnya tinggi, sesak batuk-batuk terus sampai muntah, muntah air karena enggak mau makan dia cuma minum," cerita Iin.

Iin dan suaminya sudah berusaha membawa Indah anak ketiganya ini berobat ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan perawatan. "Ya cuma dibawa ke puskesmas aja, dikasih obat seadanya," ujarnya. Iin mengaku tidak mampu untuk memberikan perawatan yang lebih baik kepada anaknya akibat keterbatasan ekonomi.

Mahalnya biaya rumah sakit berikut biaya perawatan dan obat menjadi beban tersendiri bagi pasangan asal Banten ini yang hanya mengadalkan ekonomi keluarga dari hasil memulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang yang hanya berjarak beberapa meter saja dari tempatnya tinggal.

"Semoga dilapangkan jalannya, Indah lahir di hari Senin meninggal pun hari Senin," ucap Iin dengan mata nanar menahan haru. Iin mengakui bukan tidak mungkin sesak nafas dan batuk yang dialami anak nya semasa hidupnya ini akibat tertular dari suami dan dirinya sendiri yang memang sudah mengalami penyakit sesak nafas dan batuk terlebih dahulu.

"Suami saya udah batuk kadang sesek lama, dia kerja mulung di tempat buangan sampah," ucapnya. Hal tersebut dibenarkan oleh Sumitra suami Iin. Sumitra yang sudah menjadi pemulung di kawasan TPA Bantar Gebang selama hampir 6 tahun ini mengakui memang sering mengalami batuk dan kadang sesak. "Mulung nyari sampah malam sampe pagi biasanya," jawab lelaki berperawakan pendek ini.

Meski kerap merasakan sesak dan batuk namun hal ini tidak terlalu dihiraukan Sumitra. "Batuk biasa nanti juga sembuh sendiri," ujarnya.

Bagi Sumitra dan ratusan pemulung ataupun warga yang tinggal di kawasan Tempat Pembuangan Akhir Bantar Gebang Bekasi mungkin tidak menyadari bahwa profesi dan lingkungan tempat mereka tinggal sangat berisiko bagi kesehatan salah satunya adalah terpapar gas metan atau metana (CH4) yang terbentuk secara alami akibat proses pembusukan sampah organik di Tempat Pembuangan Sampah Akhir seperti di TPA Bantar Gebang.

TPA merupakan suatu tempat dimana sampah mencapai tahap terakhir dalam pengelolaannya. Saat ini TPA yang berada di sebagian besar kota di Indonesia masih menerapkan sistem open dumping, yaitu suatu cara pembuangan sederhana dimana sampah hanya dihamparkan pada suatu lokasi dan dibiarkan terbuka. Cara ini tidak direkomendasikan karena banyaknya potensi pencemaran lingkungan.

Dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah juga dinyatakan bahwa penanganan sampah dengan pembuangan terbuka terhadap pemrosesan akhir dilarang. Namun, TPA yang telah dirancang dan disiapkan sebagai lahan urug saniter dengan mudah berubah menjadi sebuah TPA sistem open dumping bila pengelola TPA tersebut tidak konsekuen menerapkan aturan-aturan yang berlaku TPA dapat menimbulkan dampak terhadap kualitas lingkungan.

Sampah kota yang diurug berpotensi menyebabkan pencemaran udara oleh gas yang dihasilkan dari proses dekomposisi anaerobik. Pembuangan sampah sistem open dumping di lokasi pembuangan akhir sampah mengakibatkan gas hasil dekomposisi seperti gas Hidrogen Sulfida (H2S), Metan (CH4), dan Amoniak (NH3) lepas ke udara. Akibatnya udara sekitar TPA menjadi bau dan kualitas udara ambien menurun.

Bau seperti telur busuk yang terdapat di TPA bersumber salah satu nya dari gas Metan (CH4) yang merupakan hasil samping penguraian zat organik. Gas metan merupakan suatu gas tidak berwarna, mudah terbakar, dan sangat beracun. Gas ini dapat dapat menyebabkan dampak yang buruk bagi kesehatan manusia, terutama jika terpapar melalui udara.

Gas Metan (CH4) dengan cepat diserap oleh paru-paru, pada konsentrasi rendah dapat menyebabkan iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, pada konsentrasi tinggi dapat menyebabkan hilangnya kesadaran bahkan kematian. (Gresnews.com/Edy Susanto)

Eskavator mengeruk gunungan sampah di TPA Bantar Gebang.

Truk-truk pengangkut sampah diharuskan melewati jembatan timbang terlebih dahulu sebelum memasuki TPA Bantar Gebang.

Aktivitas memulung dilakukan 24 jam.

Uap gas metana (CH4) dari proses pembusukan sampah terlihat jelas pada malam hari.

Dengan peralatan dan alat keselamatan seadanya, pemulung bekerja di lokasi TPA Bantar Gebang.

Asap gas metana(CH4) menguap dari tanah di lokasi TPA Bantar Gebang.

Pemulung beristirahat tepat di tengah lokasi gunungan sampah TPA Bantar Gebang. Bekerja nyaris 24 jam dengan risiko tinggi terpapar gas metana.

Pekerja tertidur di gubuk tepat di tengah lokasi TPA Bantar Gebang.

Gang-gang sempit di perkampungan pemulung yang berjarak hanya beberapa meter saya dari Lokasi TPA Bantar Gebang.

Sumitra (38) seorang pemulung dan istri Iin (35) memegang foto Indah (5) anak mereka yang meninggal akibat penyakit batuk dan sesak nafas.

Makam Indah (5) anak pemulung yang meninggal akibat penyakit batuk dan sesak nafas.