Titik Nadir Nelayan Kerang Hijau Muara Angke




Pulau-pulau buatan reklamasi membuat kehidupan nelayan kerang hijau bertambah sulit akibat semakin sempitnya area untuk beternak kerang hijau.


Suasana kampung Nelayan Muara Angke siang itu terlihat lengang. Tidak banyak aktivitas di kampung yang terkenal dengan budidaya kerang hijaunya. Deretan terpal-terpal bolong dan reot tempat biasa para wanita di kampung ini berkumpul untuk mengupas kerang hasil tangkapan terlihat kosong, bersanding selaras dengan rumah-rumah kumuh nelayan.

Bahkan di beberapa titik, lapak-lapak pengupas kerang terlihat ambruk dan tidak terurus. Tungku-tungku kayu dan drum-drum yang biasanya penuh terisi rebusan kerang hijau kini terlihat kosong, terongok dibiarkan begitu saja di tumpukan kayu dan sampah. Sementara itu di bibir pantai tak jauh dari perkampungan, beberapa orang nelayan terlihat duduk termangu di depan rumah sederhana, pandangan mereka tertuju ke arah tengah laut dimana pulau-pulau baru bentukan hasil reklamasi semakin terlihat bentuknya.

Sedikit perbincangan dengan para nelayan ini dapat dirasakan kegundahan para nelayan kerang hijau akan nasib periuk ekonomi mereka yang kian hari kian terhimpit. Rasa cemas mengalir deras dari mulut mereka perihal semakin sulitnya mencari penghidupan dari hasil budi daya kerang hijau akibat adanya proyek reklamasi pantai utara Jakarta.

Profesi yang rata-rata telah mereka geluti selama turun temurun pun terancam punah. Pulau-pulau buatan reklamasi membuat kehidupan nelayan kerang hijau bertambah sulit akibat semakin sempitnya area untuk beternak kerang hijau.

Syarief (39) nelayan kerang hijau yang sekaligus berprofesi sebagai pedagang keliling kerang hijau menuturkan, semakin menurunnya pendapatan nelayan terjadi akibat semakin sulitnya mendapatkan kerang hijau di kawasan Muara Angke. "Makin sulit,dulu di bibir pantai ngambil kerang, sekarang ngambil kerangnya kadang di daerah Tanjung Kait Serang," kata Syarief kepada gresnews.com yang menemuinya di kawasan Muara Angke, beberapa waktu lalu.

Pria bertubuh gempal asal Indramayu ini menambahkan, jauhnya area untuk mencari kerang hijau hingga ke kawasan Serang terpaksa di lakukan demi menghidupi keluarganya. "Kan sekarang sudah gak boleh ambil kerang di sekitar Angke dilarang Pemda DKI, nggak apa-apa jauh yang penting keluarga bisa makan," ujar lelaki yang sejak tahun 2009 telah berprofesi sebagai nelayan kerang hijau ini.

Ingatan Syarief pun teringat akan kawasan Muara Angke yang beberapa tahun lalu pernah menjadi "ladang yang subur" untuk mendulang rupiah dari hasil tangkapan kerang hijau, jauh sebelum dimulainya proyek reklamasi pantai Utara Jakarta. Ber ton-ton kerang hijau pernah dengan mudah dia dapatkan di bibir pantai Muara Angke.

"Dulu tempat yang sekarang jadi pulau reklamasi itu tempat ternak kerang ijo, 3000 ternak kerang sekarang udah diurug begitu, dulu ton-ton-an kita dapat kerang sekarang kilo paling," ujarnya sembari menghela napas panjang.

Syarief mengakui pendapatannya dari hasil beternak kerang hijau menurun drastis, bahkan menurutnya banyak nelayan kerang hijau yang bangkrut dan beralih profesi menjadi pedagang, buruh bangunan dan lain-lain. "Paling 30% dapatnya dibandingkan dulu, dulu kita bisa ngirim kerang kemana-mana, ke Cirebon, Surabaya saking banyaknya hasil tangkapan kerang sekarang boro-boro, banyak yang pulang kampung, perahu dijualin sekarang pake perahu kecil," ucapnya sembari tersenyum kecut.

Hal yang lebih tragis di alami Samsudin (50) nelayan sekaligus pedagang kerang hijau sejak tahun 2000 yang tinggal di blok empang kawasan yang sama. Samsudin mengalami kebangkrutan akibat minimnya hasil tangkapan kerang hijau imbas dari proyek reklmasi. Samsudin sebelumnya dikenal sebagai nelayan kerang hijau yang terbilang berhasil dan mempunyai kapal besar dan beberapa tambak ternak kerang hijau.

"Ya bangkrut, jualan gak ada hasilnya, ke laut ya ga ada hasilnya, ternak kerang biasanya 1000-2000 ember sekarang paling 100 bahkan kosong," ucap pria asal Cirebon ini.

Hal ini membuat Samsudin kebingungan mencari penghasilan untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya. "Punya beberapa kontrakan terpaksa dijual satu-satu sekarang ya habis," tambahnya.

Akhirnya Samsudin terpaksa bekerja sebagai buruh di tempat pelelangan ikan yang tak jauh dari rumahnya untuk menghidupi keluarganya. "Sekarang jadi buruh, ada yang suruh ya saya kerjain, habis mau gimana lagi," ujarnya.

Samsudin kini tidak berharap banyak mengenai keberlangsungan hidupnya dan keluarganya di kawasan Muara Angke. Samsudin kini hanya berharap bisa memperoleh rejeki di luar profesinya sebagai nelayan kerang hijau. "Sekarang ngumpulin duit aja dari tempat pelalangan untuk pulang kampung," ujarnya pasrah.

Pembangunan reklamasi pantai yang mulai diadakan pada awal tahun 2016 perlahan tapi pasti menggerus kehidupan Nelayan kerang hijau Muara Angke seperti Syarief dan Samsudin. Hasil laut yang dulu berlimpah dan menjadi sandaran hidup kini mulai jauh dari harapan.

Mungkin hanya ada dua pilihan bagi nelayan kecil seperti mereka, bertahan di kondisi sulit sebagai nelayan kerang hijau atau kembali ke kampung halaman dan beralih profesi. Reklamasi Teluk Jakarta perlahan mengantar nelayan kerang hijau ke titik nadir. (Gresnews.com/Edy Susanto)

Suasana pengolahan kerang hijau yang masih aktif di kawasan Muara Angke.

Merebus kerang hijau hasil tangkapan

Gubuk tempat pengolahan kerang hijau yang hancur dan ditinggalkan.

Potret kehidupan nelayan kerang hijau di kawasan Muara Angke, Jakarta Utara.

Spanduk penolakan reklamasi Teluk Jakarta terpasang di rumah nelayan Muara Angke.

Sebagian rumah nelayan kerang hijau yang telah kosong karena ditinggalkan pemiliknya yang terpaksa pulang kampung akibat menurunnya pendapatan nelayan kerang hijau.

Akibat menurunnya pendapatan, banyak nelayan kerang hijau yang beralih profesi.

Nelayan kerang hijau menyeret dan membuang kulit kerang sesudah diolah. Perlahan tapi pasti akan menggerus kehidupan Nelayan kerang hijau Muara Angke