Arus Mudik-Arus Balik, Waspada Penderek Nakal

Jum'at, 08 Juli 2016, 09:00:00 WIB - Ekonomi

Oknum derek liar ditangkap aparat kepolisian (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Mudik atau pulang kampung saat Idul fitri agaknya menjadi semacam budaya yang tidak bisa lepas dari masyarakat Indonesia. Tradisi itu pun kerap menciptakan berbagai problematika di jalan raya baik saat arus mudik berlangsung maupun saat arus balik. Kepadatan arus lalu lintas yang luar biasa kerap membawa masalah pada para pemudik seperti kendaraan mogok akibat kerusakan mesin atau kehabisan bahan bakar.

Pada situasi seperti itulah para pemudik perlu waspada akan adanya oknum-oknum terutama di jalan tol yang tega memanfaatkan kesulitan orang lain untuk menangguk keuntungan pribadi. Modus mereka biasanya menawarkan jasa derek kendaraan dengan "label" resmi, namun ternyata layanan yang diberikan tak gratis bahkan cenderung "menguras" kocek pemudik.

Untuk arus mudik dan arus balik 2016 ini, pada jalur darat, jumlah kendaraan diperkirakan naik sekitar 4,5 persen. Ini membuat pemerintah harus bekerja lebih keras untuk meningkatkan fasilitas dan pelayanannya. Untuk soal mobil derek, pihak Jasa Marga selaku pengelola jalan tol, menyatakan, telah menyiagakan derek resmi tanpa pungutan biaya dan siap 1X24 jam.

Akan tetapi tetap saja kewaspadaan tinggi pemudik dituntut tetap tinggi. Pasalnya kenyataan di lapangan kerap berkata lain, karena para operator derek nakal masih kerap "bermain" mencari celah di antara derek resmi yang disediakan Jasa Marga. Pengalaman Royhan (29) pada musim mudik beberapa waktu lalu mungkin bisa menjadi peringatan.

Royhan (29), warga Kalimalang, Bekasi, Jawa Barat, setiap musim mudik selalu menggunakan mobil pribadi untuk berkunjung ke rumah sanak keluarganya di daerah Wonogiri, Jawa Tengah. Pada musim mudik tahun lalu, mobilnya mogok di ruas tol Kanci-Pejagan yang menghubungkan Kanci, Cirebon hingga Pejagan di Brebes. Jalan tol ini dioperatori oleh PT Semesta Marga Raya, anak usaha Bakrie Toll Road yang juga memiliki Esia dan dibangun oleh PT Adhi Karya dengan nilai investasi Rp2,2 triliun.

Namun sejak November 2012, jalan tol ini telah dioperatori oleh PT MNC Infrastruktur Utama, anak perusahaan MNC Group. Nah, ketika itu, Royhan melihat ada mobil derek menghampiri mobilnya yang tengah mogok. Di bodi mobil derek itu tertera logo "Jasa Marga". "Saat mobil saya mogok ada mobil derek yang bertuliskan Jasa Marga menghampiri," ujar Royhan kepada gresnews.com, beberapa waktu lalu.

Melihat derek yang datang "resmi" Royhan pun meminta operator derek agar menderek mobilnya sampai dengan pintu tol agar tidak dikenakan biaya. Itu merupakan prosedur resmi bagi mobil derek gratis yang dioperasikan Jasa Marga. Akan tetapi, keanehan dialami Royhan, saat operator derek tersebut menolak mengantarkan hanya sampai pintu tol.

Operator derek hanya mau mengantarkan mobilnya sampai bengkel dan mengancam tidak mau menderek jika hanya sampai pintu tol. Karena diancam tidak akan diderek, Royhan pun mengiyakan untuk diderek sampai dengan bengkel terdekat. Ia pun cukup kaget saat biaya yang diminta duit sampai dengan Rp700 ribu, padahal jarak antara bengkel dan pintu tol terdekat tidak lebih dari 7 kilometer. "Operator dereknya bilang karena jalan tol ini bukan milik pemerintah maka dikenakan biaya," ungkapnya.

Terpaksa, ia pun pasrah mobilnya diderek sampai dengan bengkel yang terdekat. Tidak berhenti sampai di situ, bengkel yang dituju ternyata tidak menjual spare parts mobil dan hanya menyediakan jasa perbaikan, padahal mobilnya harus mengganti seal kopling yang sudah rusak. Montir bengkel hanya menyediakan jasa ojek yang akan mengantarkan dirinya untuk membeli spare parts yang dibutuhkan dan dikenakan biaya sekitar Rp150 ribu sampai dengan Rp200 ribu.

Sekali lagi dengan terpaksa ia pun menyanggupi biaya ojek yang dibebankan. Setelah selesai membeli spare parts ia pun kembali dibuat tercengang dengan biaya perbaikan mobilnya yang mencapai Rp500 ribu. Padahal harga spare parts yang harus diganti tidak lebih dari Rp150 ribu dan ditotal biaya yang harus dikeluarkan sekitar Rp1,5 juta. "Ini sih sudah permainan antara derek dan bengkelnya untuk memeras uang pengemudi yang sedang mogok," tegasnya.

Karena kejadian itu, untuk musim arus balik dan arus mudik tahun ini, Royhan mengaku akan lebih waspada dan mengecek terlebih dahulu kesiapan kendaraannya sebelum menempuh perjalanan panjang. Dia juga meminta para pemudik lain waspada agar tak mengalami nasib seperti dirinya.


Baca selanjutnya: 1 2

Komentar