Pasalnya kenyataan di lapangan kerap berkata lain, karena para operator derek nakal masih kerap bermain mencari celah di antara derek resmi yang disediakan Jasa Marga.

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Mudik atau pulang kampung saat Idul fitri agaknya menjadi semacam budaya yang tidak bisa lepas dari masyarakat Indonesia. Tradisi itu pun kerap menciptakan berbagai problematika di jalan raya baik saat arus mudik berlangsung maupun saat arus balik. Kepadatan arus lalu lintas yang luar biasa kerap membawa masalah pada para pemudik seperti kendaraan mogok akibat kerusakan mesin atau kehabisan bahan bakar.

Pada situasi seperti itulah para pemudik perlu waspada akan adanya oknum-oknum terutama di jalan tol yang tega memanfaatkan kesulitan orang lain untuk menangguk keuntungan pribadi. Modus mereka biasanya menawarkan jasa derek kendaraan dengan "label" resmi, namun ternyata layanan yang diberikan tak gratis bahkan cenderung "menguras" kocek pemudik.

Untuk arus mudik dan arus balik 2016 ini, pada jalur darat, jumlah kendaraan diperkirakan naik sekitar 4,5 persen. Ini membuat pemerintah harus bekerja lebih keras untuk meningkatkan fasilitas dan pelayanannya. Untuk soal mobil derek, pihak Jasa Marga selaku pengelola jalan tol, menyatakan, telah menyiagakan derek resmi tanpa pungutan biaya dan siap 1X24 jam.

Akan tetapi tetap saja kewaspadaan tinggi pemudik dituntut tetap tinggi. Pasalnya kenyataan di lapangan kerap berkata lain, karena para operator derek nakal masih kerap "bermain" mencari celah di antara derek resmi yang disediakan Jasa Marga. Pengalaman Royhan (29) pada musim mudik beberapa waktu lalu mungkin bisa menjadi peringatan.

Royhan (29), warga Kalimalang, Bekasi, Jawa Barat, setiap musim mudik selalu menggunakan mobil pribadi untuk berkunjung ke rumah sanak keluarganya di daerah Wonogiri, Jawa Tengah. Pada musim mudik tahun lalu, mobilnya mogok di ruas tol Kanci-Pejagan yang menghubungkan Kanci, Cirebon hingga Pejagan di Brebes. Jalan tol ini dioperatori oleh PT Semesta Marga Raya, anak usaha Bakrie Toll Road yang juga memiliki Esia dan dibangun oleh PT Adhi Karya dengan nilai investasi Rp2,2 triliun.

Namun sejak November 2012, jalan tol ini telah dioperatori oleh PT MNC Infrastruktur Utama, anak perusahaan MNC Group. Nah, ketika itu, Royhan melihat ada mobil derek menghampiri mobilnya yang tengah mogok. Di bodi mobil derek itu tertera logo "Jasa Marga". "Saat mobil saya mogok ada mobil derek yang bertuliskan Jasa Marga menghampiri," ujar Royhan kepada gresnews.com, beberapa waktu lalu.

Melihat derek yang datang "resmi" Royhan pun meminta operator derek agar menderek mobilnya sampai dengan pintu tol agar tidak dikenakan biaya. Itu merupakan prosedur resmi bagi mobil derek gratis yang dioperasikan Jasa Marga. Akan tetapi, keanehan dialami Royhan, saat operator derek tersebut menolak mengantarkan hanya sampai pintu tol.

Operator derek hanya mau mengantarkan mobilnya sampai bengkel dan mengancam tidak mau menderek jika hanya sampai pintu tol. Karena diancam tidak akan diderek, Royhan pun mengiyakan untuk diderek sampai dengan bengkel terdekat. Ia pun cukup kaget saat biaya yang diminta duit sampai dengan Rp700 ribu, padahal jarak antara bengkel dan pintu tol terdekat tidak lebih dari 7 kilometer. "Operator dereknya bilang karena jalan tol ini bukan milik pemerintah maka dikenakan biaya," ungkapnya.

Terpaksa, ia pun pasrah mobilnya diderek sampai dengan bengkel yang terdekat. Tidak berhenti sampai di situ, bengkel yang dituju ternyata tidak menjual spare parts mobil dan hanya menyediakan jasa perbaikan, padahal mobilnya harus mengganti seal kopling yang sudah rusak. Montir bengkel hanya menyediakan jasa ojek yang akan mengantarkan dirinya untuk membeli spare parts yang dibutuhkan dan dikenakan biaya sekitar Rp150 ribu sampai dengan Rp200 ribu.

Sekali lagi dengan terpaksa ia pun menyanggupi biaya ojek yang dibebankan. Setelah selesai membeli spare parts ia pun kembali dibuat tercengang dengan biaya perbaikan mobilnya yang mencapai Rp500 ribu. Padahal harga spare parts yang harus diganti tidak lebih dari Rp150 ribu dan ditotal biaya yang harus dikeluarkan sekitar Rp1,5 juta. "Ini sih sudah permainan antara derek dan bengkelnya untuk memeras uang pengemudi yang sedang mogok," tegasnya.

Karena kejadian itu, untuk musim arus balik dan arus mudik tahun ini, Royhan mengaku akan lebih waspada dan mengecek terlebih dahulu kesiapan kendaraannya sebelum menempuh perjalanan panjang. Dia juga meminta para pemudik lain waspada agar tak mengalami nasib seperti dirinya.

DEREK RESMI GRATIS - Atas kejadian yang dialami Rohyan, pihak Jasa Marga menegaskan, oknum derek yang melakukan aksi pemerasan seperti yang dialami Royhan dipastikan bukanlah petugas derek resmi Jasa Marga. Kepala Humas Jasa Marga Dwimawan Heru menyatakan, derek yang dioperasikan Jasa Marga gratis sampai dengan pintu tol terdekat atau bengkel terdekat.

Akan tetapi, kata dia, banyak juga para pengemudi yang minta diantarkan sampai tempat tujuan dan memang dikenakan biaya. Biaya yang dikenakan pun sesuai dengan peraturan yaitu Rp8 ribu per kilometer. "Pengenaan biaya harus sesuai prosedur dan persetujuan pengguna jasa derek," ungkap Heru kepada gresnews.com.

Ia pun menyatakan bahwa dalam situasi darurat seperti musim mudik, derek Jasa Marga bisa beroperasi di ruas tol milik swasta dikarenakan keadaan darurat. Hal itu dilakukan karena minimnya armada derek yang tersedia. Walaupun terkadang beroperasi di ruas tol swasta, derek Jasa Marga tetap memberlakukan tarif gratis sampai pintu tol atau bengkel terdekat.

"Kita tak membedakan di ruas tol mana kita beroperasi, derek Jasa Marga pasti gratis. Kalau Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) lain saya tak tahu," ungkapnya.

Ia pun mengatakan, sudah menjadi kewajiban BUJT untuk menyediakan kendaraan derek, sebab hal tersebut sudah menjadi peraturan yang dikeluarkan pemerintah terkait standar minimal pelayanan BUJT. Setiap ruas tol baik itu pemerintah maupun swasta harus mempersiapkan ambulance, mobil rescue dan mobil derek.

Dalam hal ini, Jasa Marga telah memenuhi standar tersebut, begitu pula dengan BUJT yang lain wajib memenuhi standar pelayanan yang telah diterapkan. Apabila hal tersebut tidak dipenuhi maka akan dikenakan sanksi oleh Badan Pengawasan Jalan Tol (BPJT). Jasa marga memenuhi itu dan BUJP lain juga harus seperti itu karena diaudit secara rutin oleh BPJT.

Terkait tentang pungutan liar yang dilakukan oleh operator derek dengan logo "Jasa Marga" Heru meminta kepada para pengguna jalan tol agar lebih jeli. Dia menjelaskan, banyak derek liar yang mengaku sebagai derek Jasa Marga. Mobil derek Jasa Marga selain berlogo Jasa Marga, selalu bertuliskan Derek Gratis Jalan Tol. "Kalau sampai minta uang dan lain-lain pasti itu bukan dari Jasa Marga," tegasnya.