Musim Gugur Ritel, Bagaimana Mencegahnya?

Minggu, 29 Oktober 2017, 09:00:00 WIB - Ekonomi

Karyawan merapikan sisa busana yang dijual di Lotus Departement Store, Jakarta, Rabu (25/10). Pemerintah akan memonitor perubahan perekonomian seiring berjatuhannya gerai-gerai ritel di DKI Jakarta. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Musim gugur usaha ritel terus berlanjut. Setelah ambruknya 7-Eleven, Matahari di Pasaraya Manggarai dan Blok M, menyusul Lotus yang segera menutup gerai ritel mereka. Selanjutnya, akhir tahun nanti, giliran Debenhams di Senayan City akan tutup gerai.

Rontoknya usaha ritel ini, bukan sesuatu yang bisa dianggap enteng. Wakil Ketua Umum Kadin DKI Sarman Simanjorang meminta, pemerintah waspada karena penutupan toko ritel bisa memicu PHK. "Pemerintah harus sangat waspada, karena akan berdampak pada terjadinya PHK dan menambah angka pengangguran," ujar Sarman, Kamis (26/10).

Apalagi, persoalan daya beli yang melemah sedang jadi perbincangan hangat, meskipun pemerintah menyanggah hal itu tidak terjadi. Menurut Sarman, untuk membuktikan ada tidaknya kaitan penutupan toko ritel dengan daya beli lesu, pemerintah harus turun ke lapangan mencari tahu akar masalahnya.

Di sisi lain, pengusaha masih melihat terjadi perlambatan di sektor ritel. Hal ini, kata Sarman, salah satunya karena ada masalah daya beli di masyarakat. "Ini beda-beda tipis dengan daya beli. Daya beli masyarakat ini pasti pengaruh. Makanya, saya bilang pemerintah harus lihat realitas di lapangan," kata Sarman.



Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan sektor ritel modern sendiri berkontribusi pada pembukaan lapangan kerja langsung untuk sekitar 4 juta orang.

Jika toko ritel pada berguguran, kata Roy, bisa dibayangkan bagaimana dampaknya bagi para pekerja di sektor ini. "Kontribusi ritel itu kan 4 juta orang yang bekerja di dalamnya. Artinya kalau sampai banyak yang tutup, akan banyak orang kehilangan pekerjaan," kata Roy, Jumat (27/10).

Selain itu, jika banyak toko modern yang tutup, implikasinya bisa membuat perputaran uang di pusat perbelanjaan ikut meredup. "Otomatis banyak yang tutup, enggak bisa lanjutin sewa," tuturnya.

Roy menjelaskan, ritel yang mengalami kelesuan sendiri kebanyakan di segmen fashion. Itu pun tak semuanya mengalami penurunan penjualan. Selain itu, penutupan beberapa gerai ritel juga dilakukan karena strategi memperkuat bisnis.

"Jadi bukan karena online, kalau dikatakan karena pergeseran perilaku konsumen iya. Orang mengurangi belanja. Hanya beberapa saja kan yang ritel tutup. Buka-tutup toko sudah biasa, sudah diperhitungkan. Kaitannya ini terkait pengaturan atau redefinisi ulang toko, diformat ulang penjualan ritelnya," ujar Roy.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Hariyadi Sukamdani, meminta pemerintah tidak tinggal diam terkait masalah rontoknya bisnis ritel ini, melainkan segera turun lapangan mencari tahu penyebabnya. Pasalnya, selama ini para pengusaha ritel mengatakan pembeli sepi.

Menurut Hariyadi PR pemerintah adalah mencari tahu kenapa pembeli sepi. "Jangan diam saja. Mesti dicari sepinya karena apa, apakah karena daya beli turun? Atau karena orang memang menahan belanja, atau pindah ke online," tutur Hariyadi. "Dilihat saja penyebabnya apa, fact finding, melakukan pengecekan di lapangan, apakah karena daya beli turun," lanjut Hariyadi.

Hariyadi menambahkan, selama ini pengusaha ritel mengeluh toko-toko mereka sepi. Alhasil, penjualan mereka turun dan ujungnya mengurangi jumlah gerai. "Di ritel ini memang berat situasinya, pembelinya turun. Penjualan mereka turun, dengan situasi ini enggan mungkin jual rugi terus-terusan sehingga akhirnya mengurangi outlet," tutur Hariyadi.

Baca selanjutnya: 1 2 3

Komentar