Industri Migas Tanah Air Menjerit

Kamis, 11 Mei 2017, 09:00:04 WIB - Ekonomi

Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) Migas Pertamina, Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (27/4). (ANTARA)


JAKARTA, GRESNEWS. COM - Indonesia Petrolium Association (IPA) menilai industri minyak dan gas (migas) tanah air dalam kondisi krisis. Selain kegiatan ekplorasi migas yang terus merosot, nilai investasi di bidang ini juga tengah terjun bebas.

Kondisi perminyakan tanah air telah terdampak krisis harga minyak global. Kondisi ini juga telah membawa efek domino ke berbagai sektor, antara lain melambatnya pertumbuhan ekonomi di beberapa daerah penghasil migas, hingga macetnya industri penunjang migas,

Efek lainnya, terjadinya pengurangan tenaga kerja hingga dampak-dampak sosial dalam masyarakat. Data dari SKK Migas menunjukkan angka investasi hulu migas di Indonesia terus menurun tajam, dari 15,34 miliar dollar AS di tahun 2015 menjadi 11,15 miliar dollar AS di tahun 2016, atau dalam setahun terjadi penurunan sebesar 27 persen.

IPA mendorong pemerintah dan semua pihak yang terkait dan memiliki peran penting dalam sektor ini untuk segera mengambil langkah-langkah yang tepat, sehingga Indonesia dapat
terhindar dari krisis energi yang berkepanjangan. Solusi yang tepat dan jangka panjang, maupun reformasi kebijakan yang sesuai tujuan sangat diperlukan.



"Saya harus menekankan betapa mendesaknya kondisi saat ini," ujar Marjolijn Wajong, Direktur Eksekutif IPA.

Ia menuturkan saat ini tidak ada penemuan ladang minyak baru. Sebab aktivitas eksplorasi saat ini sangat rendah, dan kondisi yang ada telah memukul kemampuan produksi migas Indonesia. "Penurunan produksi akan bertambah buruk bila kita hanya bergantung pada daerah produksi yang sudah berjalan. Kita perlu menemukan cadangan migas baru di lokasi baru. Namun hal itu membutuhkan investasi yang besar," ujarnya.

Untuk itu menurutnya, diperlukan upaya mendorong investasi migas dari luar untuk menanam modalnya di Indonesia.

Sementara itu Presiden IPA Christina Verchere mengatakan bahwa Indonesia harus bersaing secara regional dan global untuk mendapatkan pendanaan investasi, karena itu kondisi industri migas di luar juga tengah mengalanmi kondisi yang sama.

"Untuk itu kondisi investasi Indonesia harus lebih menarik bagi investor, agar mereka mau berinvestasi di Indonesia." ujarnya saat konfrensi pers di Hotel Darmawangsa, Jakarta Selatan, Rabu (10/5)

Dengan semangat tersebut Indonesia Petroleum Association (IPA), sebagai wadah perusahaan migas yang beroperasi di Indonesia, akan menggelar Konvensi dan Pameran IPA ke-41 pada tanggal 17-19 Mei 2017 di Jakarta Convention Center dengan tema "Accelerating Reform to Re-Attract Investment to Meet the Economic Growth Target".

Acara itu juga akan mempertemukan pemimpin industri, pelaksana dan pengambil kebijakan, pemerintah dan para tenaga ahli terkait industri migas, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Ajang itu akan menjadi wadah mencari solusi yang dapat dilakukan untuk mendorong pertumbuhan industri migas. Sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dalam berbagai sektor di Indonesia.

Baca selanjutnya: 1 2

Komentar