Pemerintah melalui Kementerian Koordinator (Kemenko) bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan bakal menindak tegas para calo gas yang masih banyak di Indonesia.

JAKARTA,GRESNEWS.COM - Hingga kini pemerintah masih belum mampu mengatasi harga jual gas bumi ke industri dalam negeri yang masih saja tinggi. Salah satu penyebab utama harga gas bumi khususnya ke industri mahal karena membeli dari trader gas yang tidak memiliki infrastruktur gas alias calo gas.

Pemerintah melalui Kementerian Koordinator (Kemenko) bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan bakal menindak tegas para calo gas yang masih banyak di Indonesia. Menurutnya calo gas di Indonesia akan diberantas. "Kami ingin beresin calo gas, karena mereka tidak punya alokasi gas,atau pipa," kata Luhut dalam keterangan tertulis yang diterima gresnews.com, Kamis (29/12).

Dia menyebutkan, akibat ulah para calo gas tersebut membuat industri di Medan, Sumatera Utara harus membayar gas bumi dengan harga mahal dari seharusnya. Berdasarkan data Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM). Di Medan, ada sekitar 45 industri besar yang membeli gas bumi dengan harga sebesar US$ 12,22 per MMBTU. Berikut rincian harga gas di Industri khususnya di Medan:

Pertama, pasokan gas ke industri di Medan terbagi atas dua sumber yakni dari LNG dari Kilang LNG Bontang, Kalimantan Timur dan Sumut pipa gas dari Pertamina EP di Sumatera. Untuk sumber pertama dari LNG Bontang, LNG tersebut merupakan alokasi gas yang ditetapkan Kementerian ESDM dan SKK Migas untuk industri di Medan. Harganya US$ 7,8 per MMBTU. Hampir 63% komposisi harga gas ke industri di Medan berasal dari harga gas di hulu. Artinya harga gas bumi ke industri sejak awal sudah mahal.

Kedua, LNG dari Bontang tersebut kemudian di regasifikasi di Terminal Regasifikasi Arun, Lhokseumawe, Aceh. Biaya proses regasifikasi atau menjadikan gas alam cair jadi gas bumi dikenakan US$ 1,5 per MMBTU. Lalu ditambah dengan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yakni US$ 0,15 per MMBTU, jadi total US$ 1,65 per MMBTU.

Ketiga, gas bumi dari Terminal Regasifikasi Arun diangkut melalui pipa trasmisi Arun-Belawan milik PT Pertamina Gas (Pertagas) sepanjang 350 km. Pertagas mengenakan biaya angkut gas sebesar US$ 2,53 per MMBTU dan ditambah PPN sebesar US$ 0,25 per MMBTU, sehingga total US$ 2,78 per MMBTU.

Keempat, setelah dari Pertagas, gas bumi tersebut harus melalui ´keran´ perusahaan trader gas. Masalahnya perusahaan ini tidak memiliki fasilitas pipa sama sekali. Trader gas tak bermodal fasilitas ini memungut biaya margin sebesar US$ 0,3 per MMBTU.

Lalu, trader gas tak bermodal ini mengenakan lagi biaya yang namanya Gross Heating Value (GHV) Losses sebesar US$ 0,33 per MMBTU. Tak cukup sampai disitu, trader gas tak bermodal ini juga mengenakan Own Used & Boil Off Gas (BOG) sebesar US$ 0,65 per MMBTU serta Cost of Money sebesar US$ 0,27 per MMBTU. Total, trader tak bermodal tersebut memungut US$ 1,55 per MMBTU.

Lalu, sumber gas dari produksi Pertamina EP dikenakan US$ 8,24 per MMBTU, kemudian diangkut melalui pipa transmisi gas bumi Pangkalan Susu-Wampu yang dikelola Pertagas dengan biaya US$ 0,92 per MMBTU termasuk pajak.

Dengan dua sumber gas tersebut di campur menjadi satu, lalu dibagi volume gas masing-masing pasokan, maka harga rata-rata gas bumi sebelum dibeli oleh PGN sebesar US$ 10,87 per MMBTU. Kemudian oleh PGN diteruskan ke pelanggan industrinya dengan biaya yang dikenakan US$ 1,35 per MMBTU. Sehingga ujungnya industri-industri di Medan membeli gas bumi dengan harga US$ 12,22 per MMBTU.

HULU DAN HILIR ADA CALO - Anggota Komisi VII DPR RI, Kurtubi mengatakan sikap pemerintah untuk menghilangkan trader gas adalah langkah tepat untuk menyederhanakan sistem distribusi dari produsen gas di hulu hingga pemakai gas dihilir. "Semakin banyak trader makin tidak efisien dan harga gas disisi konsumen semakin mahal," kata Kurtubi kepada gresnews.com, Jumat (30/12) malam.

Sementara itu, ditempat terpisah, Anggota Komisi VII DPR RI, Zulkieflimansyah menilai sikap yang di lakukan Menko Bidang Kemaritiman adalah terobosan luar biasa dan harus diapresiasi.

Beliau berani memperbaiki praktik memilukan yang membuat banyak industri kita tidak kompetitif karena persoalan calo gas ini," kata Zulkieflimansyah kepada gresnews.com, Jumat (30/12) malam.

Dia mengaku, jika masalah ini sudah diketahui lama tetapi karena yang bermain juga hampir tahu semua. "Jadi semua serba salah. Jadi apa yang di lakukan pak Luhut ini bagus sekali," ujarnya.

Sebelumnya anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Tumiran menilai salah satu penyebab harga gas bumi untuk industri tinggi karena keberadaan calo gas alias trader gas yang tidak memiliki infrastruktur. Sayangnya, keberadaan calo gas ini makin eksis setiap tahunnya.

"Harga gas di Indonesia itu mahal karena terjadi penjualan bertingkat, hulu ada calo, hilir ada calo," ungkap Tumiran, di Jakarta, Jumat (23/12).

Tumiran mengungkapkan, pengguna gas bumi terutama industri terpaksa membeli, bahkan sebagian tidak mengetahui bila gas bumi mereka berasal dari calo gas. Mereka terpaksa beli dari calo gas karena calo gas ini memiliki alokasi gas dari pemerintah. "Ini kan aneh calo gas kok bisa dapat alokasi gas. Pemerintah kasih izin calo gas, ya sudah atur saja bagaimana mekanismenya jangan sampai calo ambil untung banyak," katanya.

"Kalau kita lihat kan sekarang ini justru banyak alokasi gas bumi dari Pertamina masuknya ke calo gas. Kalaupun calo ada pemerintah harus atur tegas. Karena pertamina juga pasti susah salurkan langsung. Trader harus punya infrastruktur dan berkualifikasi baik dalam penyalurannya dan dikontrol pemerintah agar harga jelas," jelas Tumiran.

Bahkan keberadaan calo-calo gas ini makin eksis dan jumlahnya terus bertambah karena di fasilitasi anak usaha Pertamina yakni Pertamina Gas (Pertagas).

Berdasarkan data Laporan Keuangan Pertagas 2013, 2014, hingga 2015, anak usaha Pertamina ini terus memasok gas bumi ke para calo gas. Berikut daftarnya:

PT Bayu Buana Gemilang TS sebesar 6.516 BBTU
PT Java Gas Indonesia 5.095 BBTU
PT Sadikung Niagamas Raya 6.239 BBTU
PT Surya Cipta Internusa 3.134 BBTU
PT Walinusa Energi 6.389 BBTU
PT Alamigas Mega Energy 350 BBTU
PT Dharma Pratama Sejati 445 BBTU
PT IGAS 30 BBTU
PT Surya Energi Parahita 20 BBTU
PT Bayu Buana Gemilang 1.910 BBTU
PT Mutiara Energi 1.210 BBTU