Upaya Alot Turunkan Harga Gas Industri

Minggu, 01 Januari 2017, 17:01:36 WIB - Ekonomi

Pekerja mengoperasikan kompor dapur melalui jaringan pipa gas Perusahaan Gas Negara (PGN) di salah satu restoran di Jalan KH Noer Ali, Kalimalang, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (27/12). Perusahaan Gas Negara (PGN) Area Bekasi melalui jaringan pipa gas itu selain telah menyalurkan gas ke sektor industri 11 kawasan industri, juga memperluas distribusi pasokan gas ke sejumlah sektor komersil diantaranya restoran, pusat belanja, hingga rumah sakit di wilayah tersebut. (ANTARA)

JAKARTA,GRESNEWS.COM - Hingga kini pemerintah masih belum mampu mengatasi harga jual gas bumi ke industri dalam negeri yang masih saja tinggi. Salah satu penyebab utama harga gas bumi khususnya ke industri mahal karena membeli dari trader gas yang tidak memiliki infrastruktur gas alias calo gas.

Pemerintah melalui Kementerian Koordinator (Kemenko) bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan bakal menindak tegas para calo gas yang masih banyak di Indonesia. Menurutnya calo gas di Indonesia akan diberantas. "Kami ingin beresin calo gas, karena mereka tidak punya alokasi gas,atau pipa," kata Luhut dalam keterangan tertulis yang diterima gresnews.com, Kamis (29/12).

Dia menyebutkan, akibat ulah para calo gas tersebut membuat industri di Medan, Sumatera Utara harus membayar gas bumi dengan harga mahal dari seharusnya. Berdasarkan data Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM). Di Medan, ada sekitar 45 industri besar yang membeli gas bumi dengan harga sebesar US$ 12,22 per MMBTU. Berikut rincian harga gas di Industri khususnya di Medan:

Pertama, pasokan gas ke industri di Medan terbagi atas dua sumber yakni dari LNG dari Kilang LNG Bontang, Kalimantan Timur dan Sumut pipa gas dari Pertamina EP di Sumatera. Untuk sumber pertama dari LNG Bontang, LNG tersebut merupakan alokasi gas yang ditetapkan Kementerian ESDM dan SKK Migas untuk industri di Medan. Harganya US$ 7,8 per MMBTU. Hampir 63% komposisi harga gas ke industri di Medan berasal dari harga gas di hulu. Artinya harga gas bumi ke industri sejak awal sudah mahal.

Kedua, LNG dari Bontang tersebut kemudian di regasifikasi di Terminal Regasifikasi Arun, Lhokseumawe, Aceh. Biaya proses regasifikasi atau menjadikan gas alam cair jadi gas bumi dikenakan US$ 1,5 per MMBTU. Lalu ditambah dengan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yakni US$ 0,15 per MMBTU, jadi total US$ 1,65 per MMBTU.

Ketiga, gas bumi dari Terminal Regasifikasi Arun diangkut melalui pipa trasmisi Arun-Belawan milik PT Pertamina Gas (Pertagas) sepanjang 350 km. Pertagas mengenakan biaya angkut gas sebesar US$ 2,53 per MMBTU dan ditambah PPN sebesar US$ 0,25 per MMBTU, sehingga total US$ 2,78 per MMBTU.

Keempat, setelah dari Pertagas, gas bumi tersebut harus melalui 'keran' perusahaan trader gas. Masalahnya perusahaan ini tidak memiliki fasilitas pipa sama sekali. Trader gas tak bermodal fasilitas ini memungut biaya margin sebesar US$ 0,3 per MMBTU.

Lalu, trader gas tak bermodal ini mengenakan lagi biaya yang namanya Gross Heating Value (GHV) Losses sebesar US$ 0,33 per MMBTU. Tak cukup sampai disitu, trader gas tak bermodal ini juga mengenakan Own Used & Boil Off Gas (BOG) sebesar US$ 0,65 per MMBTU serta Cost of Money sebesar US$ 0,27 per MMBTU. Total, trader tak bermodal tersebut memungut US$ 1,55 per MMBTU.

Lalu, sumber gas dari produksi Pertamina EP dikenakan US$ 8,24 per MMBTU, kemudian diangkut melalui pipa transmisi gas bumi Pangkalan Susu-Wampu yang dikelola Pertagas dengan biaya US$ 0,92 per MMBTU termasuk pajak.

Dengan dua sumber gas tersebut di campur menjadi satu, lalu dibagi volume gas masing-masing pasokan, maka harga rata-rata gas bumi sebelum dibeli oleh PGN sebesar US$ 10,87 per MMBTU. Kemudian oleh PGN diteruskan ke pelanggan industrinya dengan biaya yang dikenakan US$ 1,35 per MMBTU. Sehingga ujungnya industri-industri di Medan membeli gas bumi dengan harga US$ 12,22 per MMBTU.


Baca selanjutnya: 1 2

Komentar