Para pelanggan aplikasi ojek online khususnya Gojek banyak yang mendaftarkan lebih dari satu akun dengan menggunakan username berbeda-beda.

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Kemudahan memakai jasa ojek online lantaran promosi yang berlangsung terus menerus dan juga bonus kredit Rp50 ribu saat mempromosikan aplikasi tersebut ke orang lain memicu sejumlah pengguna berlaku curang. Para pelanggan aplikasi ojek online khususnya Gojek banyak yang mendaftarkan lebih dari satu akun dengan menggunakan username berbeda-beda.

Sebut saja MA, seorang pengguna Gojek yang berkuliah di salah satu perguruan tinggi negeri bilangan Jakarta Selatan. Ia telah menggunakan jasa Gojek sejak sebulan lalu tepatnya bulan Agustus 2015.

Pria berusia 24 tahun ini memilih menggunakan Gojek lantaran ada tarif promosi hanya sebesar Rp10 ribu dengan jarak tempuh maksimal 25 kilometer (km). Selain itu, untuk bisa memakai jasa Gojek, caranya juga mudah.

Pelanggan ojek online ini tinggal mengunduh aplikasi Gojek dan memasukkan kode tertentu dari satu akun untuk bisa mendapatkan kredit sejumlah Rp50.000. Hal yang sama juga berlaku saat kode dari akunnya digunakan orang yang baru memasang aplikasi Gojek.

Nah, cara inilah yang diakali pelanggan Gojek untuk meraup keuntungan pribadi. MA misalnya, menggunakan akun milik temannya untuk mendapatkan kredit itu. Akun MA tentu saja akun palsu sehingga temannya pada saat yang bersamaan juga bisa tetap menggunakan akunnya sendiri.

Caranya, MA membuat akun baru dengan email dan nomor telepon yang berbeda. Tak tanggung-tanggung, ada dua akun yang ia daftarkan ke dalam aplikasi Gojek.

"Total ada tiga akun, jika setiap promosi dapat Rp50 ribu, total kredit dari tiga akun tersebut Rp150 ribu," ujarnya kepada gresnews.com, Selasa (8/9).

MA yang sebelum ada jasa gojek mengendarai motor sendiri menuju kampus pun bisa meraup untung. Pasalnya, jarak tempuh rumahnya dengan kampus kira-kira sejauh 18 km. Dengan membawa motor sendiri jarak ini menghabiskan bensin minimal Rp15 ribu untuk pulang pergi.

Sedangkan dengan menggunakan akun Gojek yang dibuatnya dengan tiga akun palsu, MA dapat menggunakan jasa Gojek hingga 25 kali. Jadi dia bisa menghemat 12-13 perjalanan pulang pergi seharga Rp200 ribu uang bensinnya.

"Pakai kode gratis hitungannya jauh lebih hemat dibanding bawa motor sendiri," ujarnya.

PELANGGAN CULAS OJEK ONLINE TAK RUGI? - Pelanggan aplikasi ojek online yang bersikap culas semacam MA ini disinyalir tak hanya satu atau dua saja. Pihak Gojek sendiri telah mengkonfirmasi fenomena curang para pengguna jasa mereka.

Lalu, bagaimana pihak perusahaan Gojek menutupi kerugian yang dibuat para pelanggan curangnya ini? Pasalnya menurut penelusuran yang dilakukan gresnews.com, ternyata perusahaan Gojek membayarkan para drivernya sesuai jarak tempuh.

Artinya walaupun di saldo pelanggan hanya dikenakan Rp10 ribu, namun saldo para driver menyesuaikan jarak yang ditempuh. Semakin jauh jaraknya, semakin besar pula hitungannya.

Pengamat ekonomi Enny Sri Hartati menyatakan perusahaan ojek online semacam Gojek tak akan rugi dengan laku culas para pelanggannya ini. Alasannya, perusahaan itu telah menggandeng beberapa perusahaan untuk berinvestasi dan bekerja sama.

"Promosi ini bagian dari investasi jangka panjang, toh mereka tak mengeluarkan biaya seperti perusahaan transportasi lain," ujarnya kepada gresnews.com, Rabu (9/9).

Misalnya saja pada perusahaan taksi Blue Bird yang harus memiliki ribuan mobil dan ribuan pengemudi. Yang membedakan Gojek dengan perusahaan ini adalah Gojek menggunakan kendaraan orang lain dan pemilik kendaraan sebagai pengemudinya. Sementara Blue Bird harus membeli mobil dan merekrut pengemudi sebagai karyawan.

Jika Gojek meniru model transportasi layaknya Blue Bird maka paling tidak mereka harus membeli motor sebanyak 15.000 unit (disesuaikan dengan jumlah driver Gojek saat ini). Jika diasumsikan harga sebuah motor baru Rp15 juta per unit, maka Gojek harus merogoh dana hingga Rp225 miliar.

Gojek, kata Enny, saat ini memang harus memberi tunjangan-tunjangan dengan biaya minimal Rp5 juta per pengemudi per bulan. Maka perusahaan Gojek harus mengeluarkan dana untuk 15.000 pengemudi sebesar Rp75 miliar/bulan. Hanya saja, mereka tak perlu mengeluarkan uang depresiasi nilai kendaraan, sebab biaya service kendaraan, pajak dan lain lain sudah ditanggung driver.

Angka subsidi ini tentu masih jauh lebih kecil dibandingkan harus membeli kendaraan, bayar gaji, menanggung maintenance, depresiasi dan lain lain. "Mereka pasti memperkirakan, di tahun kesekian akan surplus juga investasi dari pengusaha dan kerjasama pasti menguntungkan," ujar Enny.

OJEK ONLINE TETAP MENARIK INVESTOR - Selain isu kecurangan yang dilakukan pelanggan, Gojek juga digoyang isu kecurangan yang dilakukan para pengemudinya. Modusnya mirip-mirip dengan modus yang dilakukan pelanggan yaitu menggunakan akun palsu.

Bedanya jika penumpang membuat akun palsu untuk mengejar keuntungan tarif promo, maka pengemudi membuat akun palsu untuk membuat order fiktif. Si pengemudi menggunakan dua nomor ponsel dengan dua aplikasi di dalamnya untuk "mengirim" dan "menerima" pesanan.

Dengan begitu, si pengemudi bisa "memesan" dirinya sendiri namun seolah-olah order itu datang dari orang lain atau pelanggan. Aksi-aksi ini memang berpotensi bakal merugikan perusahaan. Namun demikian, para investor sepertinya tak terlalu mempedulikan masalah ini.

Ada saja investor yang tertarik untuk mendanai bisnis ojek online semacam Gojek. Diketahui saat ini sudah ada pengusaha asal Amerika Serikat bernama Arthur Benjamin yang masuk di belakang Gojek. Selain itu juga NSI Ventures, perusahaan yang berinvestasi di bidang teknologi di Asia Tenggara.

Sedangkan, Gojek sendiri memasang iklan salah satu perusahaan asuransi yang bekerja sama di aplikasi mobilenya. Selain itu, mereka juga memakai salah satu bank (CIMB Niaga) untuk aktivitas para drivernya.

Bisa dibayangkan berapa rekening yang dibuka atas kerjasama ini. Tentu bank mempunyai keuntungan sendiri yang dibagi kepada perusahaan. Karena itulah, kata Enny Sri Hartati, perusahaan seperti Gojek akan tetap menarik bagi investor.

Belum lagi dengan alat komunikasi dan provider yang dipakai para driver, semua seragam. "Jika rugi maka tak mungkin mereka masih jalan sampai sekarang," ujarnya.

Corporate Officer Gojek Maulana Pandu mengatakan, perusahaan tak pernah menyiapkan anggaran bagi promosi yang dijalankan. Namun lantaran Gojek tak memasang iklan apa pun, dan hanya beriklan murni dari jaket para driver serta promosi mulut ke mulut, maka perusahaan menggunakan anggaran yang seharusnya untuk dana promosi atau iklan perusahaan untuk menyuplai para driver.

"Kami sudah tahu banyak pelanggan yang curang, karena jumlahnya sudah tak wajar," ujarnya kepada gresnews.com, Rabu (9/9).

Karena itu, kata Maulana, dia dan jajaran manajemen juga telah menyiapkan sanksi khusus kepada para pelanggan nakalnya. Jika diketahui melakukan kecurangan, maka tanpa pemberitahuan, perusahaan akan me-nol-kan kredit pelanggannya.

"Manajemen kita bisa deteksi kok, tenang saja sampai dia capek kita buat nol, pasti akan lebih capek dia berkali-kali buat akun," ujarnya.