Lika-Liku Asinnya Impor Garam

Selasa, 01 Agustus 2017, 14:00:00 WIB - Ekonomi

Petani memanen garam di lahan garam desa Santing, Losarang, Indramayu, Jawa Barat, Senin (31/7). Menurut petani, harga garam di daerah tersebut masih tinggi yakni kisaran Rp3.500 per kilogram akibat minimnya produksi garam karena cuaca yang tak menentu. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Pemerintah akhirnya memutuskan untuk melakukan impor garam sebesar 75 ribu ton, dari Australia melalui PT Garam, BUMN produsen garam untuk mengatasi kelangkaan garam dalam negeri. Garam impor didatangkan sebelum 10 Agustus 2017. Australia dipilih karena lokasinya yang dekat dengan Indonesia, sehingga pengiriman tak makan waktu lama. Senin (31/7), garam-garam impor tersebut sudah mulai memasuki pasar dalam negeri.

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan, garam impor tersebut masuk secara bertahap dan akan sampai dalam sepekan ini. 'Ini proses sedang berjalan impornya. Dalam minggu ini impor sudah mulai masuk,' ujar Enggar, sapaan akrabnya, di Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Senin (31/7).

Menurut Enggar, impor garam lewat PT Garam sudah disepakati dengan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. 'Setiap peraturan yang membagi-bagi seperti ini, maka ada potensi terjadi dispute. Saya dan Ibu Menteri KP bersama-sama kita kan melaporkan. Jadi hari jumat lalu saya undang Bareskrim, Dirjen KKP dan Dirjen Daglu yang menyatakan bahwa kami siap rekomendasi untuk impor garam konsumsi kepada PT Garam sebesar 75 ribu ton,' kata Susi.

Enggar mengatakan, kebijakan membuka impor garam tersebut sudah dibicarakan jauh-jauh hari dan dibicarakan di tingkat rapat koordinasi antar menteri. Kemendag sendiri bisa menerbitkan izin impor garam kepada PT Garam (Persero) selaku BUMN untuk mencukupi kebutuhan garam nasional. Hal ini setelah dilakukan penyesuaian Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 125 Tahun 2015 tentang Ketentuan Impor Garam.

Sementara aturan garam impor juga diatur dalam UU 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam. 'Sebelum saya pergi ke Afrika, di bawah koordinasi Pak Menko saya sudah mengirim surat kepada Ibu Menteri Kelautan dan Perikanan, yang menyampaikan bahwa ini ada UU, untuk itu saya minta rekomendasi,' terang Enggar.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan, kelangkaan garam terjadi karena produksi garam lokal yang kurang. Ini terjadi karena panen garam terganggu karena curah hujan tinggi di daerah-daerah penghasil garam, padahal sekarang memasuki musim kemarau. 'Kelangkaan garam itu kan karena panen tidak baik. Itu saja,' katanya singkat saat ditemui di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Senin (31/7).

Buntut dari kelangkaan ini, harga garam melonjak. Contohnya di Jepara bahkan harga garam rakyat mencapai Rp3.500 per kilogram dari harga sebelumnya yang hanya Rp500 per kilogram. Namun, menurut Susi, kenaikan harga garam justru bagus untuk petani. 'Kalau harga naik, untuk petani garam bagus, itu kerja kita. Berarti baik toh,' tutur Susi.

Soal impor garam, bagi Indonesia memang bukan barang baru. Indonesia sudah sejak lama impor garam. Dalam sebulan, garam impor yang masuk ke Tanah Air bisa mencapai 100 ribu-300 ribu ton yang didatangkan dari Australia, India, China, hingga Jerman. Pada November 2013 tercatat Indonesia mengimpor garam sebesar 217 ribu ton. Akumulasi 11 bulan pada tahun tersebut, impor mencapai 1,8 juta ton dengan nilai US$85,6 juta.

Kemudian pada Januari 2014 pemerintah juga mengimpor garam mencapai 278 ribu ton, Februari mencapai 218.131 ton dan Maret 123.876. Pada 2015, garam juga diimpor. Tercatat pada Februari 2015, garam impor yang masuk 101.622 ton. Kemudian Oktober 2015, volume garam impor mencapai 143.071 ton. Keseluruhan tahun, impor garam mencapai 2,1 juta ton.

Selanjutnya Maret 2016, impor garam adalah 276.299 ton dan April mencapai 95.263 ton. Mei 2016 impor garam berlanjut dengan volume 152.366 ton dan Juni sebesar 179.195 ton. Pada April 2017, impor garam tercatat mencapai 319,9 ribu ton atau tumbuh 52,2% dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 210,1 ribu ton.

Garam impor yang masuk ke Indonesia pada periode itu, paling banyak berasal dari Australia dengan volume 213,5 ribu ton yang nilainya US$ 7,95 juta. Disusul oleh India dengan 106,2 ribu yang nilainya US$2,41 juta. Adapula yang berasal dari Selandia Baru sebanyak 100,5 ton dengan nilai US$46,8 ribu, selanjutnya Jerman yang sebesar 66 ton dengan nilai US$28,7 ribu, serta Thailand yang sebesar 4,6 ton senilai US$3,8 ribu.


Baca selanjutnya: 1 2 3

Komentar