Pemerintah Berburu Investor dan Utang

Senin, 07 Desember 2015, 13:01:06 WIB - Ekonomi

Presiden Joko Widodo (kanan) bersama PM Australia Malcolm Turnbull (kedua kanan) berjabat tangan dengan warga saat melakukan ´blusukan´ di pasar Tanah Abang, Jakarta, Kamis (12/11). Dalam blusukan tersebut Jokowi bermaksud ingin menunjukkan kepada Turnbull mengenai Pasar Tanah Abang sebagai pasar terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sangat pro terhadap para pemodal untuk menggenjot pembangunan di dalam negeri. Selain gelontoran insentif untuk menarik investor luar negeri, pemerintah juga aktif menyambangi negara-negara di kawasan Asia Timur untuk menarik lebih banyak lagi investasi.

Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) layak mendapatkan perhatian khusus dalam rangka menarik investasi. Dari 20 negara dengan realisasi Foreign Direct Investment (FDI) tertinggi di Indonesia, 5 negara diantaranya berada di Asia Timur. Jepang berada di pering‎kat ke-2, Korea Selatan peringkat ke-4, Hong Kong di posisi 10, disusul China di peringkat 11, dan Taiwan di posisi 13.

Berdasarkan data tersebut tak mengherankan bila Presiden Jokowi kerap melakukan kunjungan ke negara-negara Asia Timur. Misalnya Maret 2015, Presiden Jokowi melakukan kunjungan ke Jepang dan China. Hasilnya, Jokowi berhasil membawa pulang komitmen investasi hingga US$ 73,46 miliar ‎alias sekitar Rp 955 triliun. Komitmen investasi Jepang sebesar US$ 10,06 miliar, sedangkan dari China US$ 63,4 miliar.

Sektor yang diminati oleh investor-investor asal Jepang masih seputar industri otomotif, logam dan industri olahan. ‎Sementara itu, sektor yang diminati investor asal China adalah sektor industri semen dan kawasan industri. China berminat untuk mendanai sejumlah proyek pemerintah dalam bidang penyediaan infrastruktur seperti pembangunan pembangkit listrik maupun proyek transportasi seperti tol maupun pembangunan pelabuhan.

Pertumbuhan investasi negara-negara Asia Timur meningkat drastis. Misalnya ‎Jepang pada 2010 lalu FDI yang direalisasikannya tercatat sebesar US$ 713 juta. Pada Kuartal III-2015 tercatat realisasi FDI dari Negeri Matahari Terbit ini sudah US$ 2,49 miliar. Total realisasi FDI Jepang sejak 2010 hingga Kuartal III-2015 sudah US$ 14,598 miliar.

Untuk Korea Selatan (Korsel), di 2010 realisasi FDI Negeri Ginseng ini US$ 329 juta, sekarang di Kuartal III-2015 sudah mencapai US$ 1,002 miliar atau 3 kali lipat realisasi FDI di 2010. Total realisasi FDI Korsel sejak 2010 sampai Kuartal III-2015 sudah US$ 7,83 miliar.

Sedangkan China, realisasi FDI mereka ke Indonesia pada‎ 2010 baru US$ 173 juta, lalu di Kuartal III-2015 sudah US$ 406 juta. Total FDI dari Negeri Tirai Bambu pada 2010 hingga Kuartal III 2015 sudah mencapai US$ 1,94 miliar.

Meski masih kalah dibanding Jepang dan Korea Selatan, potensi investasi dari China masih sangat besar. Untuk meningkatkan arus investasi dari 'raksasa baru' Asia Timur ini, Kepala BKPM Franky Sibarani secara khusus melakukan kegiatan promosi investasi Indonesia di Shanghai pada 27 November 2015 lalu.

Hasilnya, kegiatan promosi ini disambut antusias oleh China, ada 130 investor China yang memadati Ballroom Hotel Four Seasons di Shanghai saat promosi tersebut diselenggarakan oleh BKPM.‎ Franky Sibarani mengungkapkan bahwa investor potensial yang hadir dalam kegiatan tersebut 30% di atas dari target yang dicanangkan sebanyak 100 orang.

'Dari kegiatan forum bisnis, terlihat antusiasme yang tinggi dari peserta yang hadir. Beberapa pertanyaan yang disampaikan juga menunjukkan tingginya minat investasi dari investor China,' ujar Franky.

Investor yang hadir terdiri dari perusahaan-perusahaan yang bergerak di beberapa sektor di antaranya industri pangan, pertambangan, perdagangan, manufaktur, mesin, energi, telekomunikasi, solid waste water plant, industri kemasan, konsultansi, dan industri logam. Selain perusahaan-perusahaan China, beberapa perwakilan BUMN juga hadir di antaranya PT Garuda Indonesia, PT Aneka Tambang, dan Bank Mandiri.

Franky menambahkan, bahwa kegiatan yang dilaksanakan menunjukkan hasil yang signifikan dalam upaya pemerintah untuk meningkatkan arus investasi dari China.

'Dalam beberapa survei yang muncul, pusat pertumbuhan ekonomi memang mulai bergeser ke Asia Timur. Dari sisi investasi China mulai menggeliat menyusul Jepang dan Korsel yang telah mendominasi,' katanya.


Baca selanjutnya: 1 2

Komentar