Data Meragukan Berujung Impor Beras

Sabtu, 26 September 2015, 12:20:00 WIB - Ekonomi

Dua petani mengumpulkan gabah sisa panen padi atau ngasak di lahan persawahan kawasan Lingkar Timur, Candi, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (22/9). Dalam sehari mereka mampu mengumpulkan rata-rata dua sampai tiga kilogram gabah hasil panen padi yang tertinggal dan hasilnya di konsumsi sendiri. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Kementerian Pertanian (Kementan) yang dipimpin oleh Amran Sulaiman selama ini selalu menyatakan terdapat peningkatan produksi padi hingga 2,6 juta ton, bahkan berencana menghentikan impor dan mulai melakukan ekspor pada tahun 2015 ini. Namun, bertepatan dengan peringatan Hari Tani, di luar dugaan Wakil Presiden Jusuf Kalla justru menjelaskan pemerintah berencana untuk mengimpor beras sejumlah 1,5 juta ton untuk persediaan akhir 2015 dan awal 2016. Lalu siapa yang patut dipersalahkan atas kenyataaan yang kontradiktif ini?

Wapres Jusuf Kalla menyatakan, impor beras dari Thailand ini akan menyuplai kebutuhan beras di Bulog. Mengingat, kini Bulog hanya memiliki 1,7 juta ton cadangan beras yang terdiri dari beras premium dan medium. Langkah mengimpor beras dilakukan lantaran kekhawatiran akan musim kemarau berkepanjangan.

'Jika tidak mau krisis pangan, maka harus impor beras. Kami tidak boleh gambling (spekulasi) dengan stok beras,' kata JK sebelum menuju New York, Amerika Serikat, saat transit di Bandar Udara Internasional Dubai, Uni Emirat Arab, Rabu (23/9) pagi.

Menanggapi ketidakkonsistenan ini, pengamat pangan Andreas Santoso menyatakan walaupun Kementan menyatakan stok beras naik selama Oktober 2014-Maret 2015 sebanyak 2,6 juta ton, namun harga beras selalu naik dalam delapan bulan terakhir. Padahal secara logika, jika tak terdapat masalah dengan stok dan produksi nasional maka harga tak akan naik.



'Jadi memang menurut saya yang dilakukan pemerintah tak bisa dihindari, memang harus dilakukan impor,' katanya kepada gresnews.com, Minggu (26/9).

Jika langkah impor tak dilakukan maka konsekuensinya akan berimbas kepada seluruh rakyat Indonesia. Dimana stok beras akan menurun, dan produksi terbatas maka ancamannya akan terjadi krisis, harga beras sangat melesat pada akhir tahun 2015 dan awal tahun 2016.

Menurut data Kementan, produksi padi pada Oktober 2013-Maret 2014 sebanyak 41,3 juta ton, naik menjadi 43,9 juta ton selama Oktober 2014-Maret 2015. Namun data ini malah menjadi pertanyaan besar, jika data tersebut benar, maka mengapa bisa terjadi lonjakan harga dan kekurangan pasokan?

'Kementan menyatakan produksi meningkat luar biasa sampai 4,7 ton. Tapi kenyataannya berlainan, ini membuktikan data yang ada di Kementan tidak betul! Ada kesalahan produksi data!' katanya.

Seharusnya pemerintah memutuskan kebijakan berdasarkan data yang ada di Kementan dan Badan Pusat Statistik (BPS). Namun sayangnya, jika berpedoman pada data Kementan maka rakyat Indonesia akan menghadapi resiko pangan luar biasa.

Baca selanjutnya: 1 2 3

Komentar