Keraguan Soal Target Pertumbuhan Ekonomi Merebak

Sabtu, 08 Oktober 2016, 12:00:37 WIB - Ekonomi

Sejumlah pekerja menyelesaikan pembangunan gedung bertingkat di Jakarta, Selasa (13/9). Kementerian Keuangan memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2016 akan berada di level 5,0 persen, hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya yaitu pemangkasan anggaran dalam APBN-P 2016. (ANTARA)

JAKARTA,GRESNEWS.COM - Target pemerintah bisa menggenjot pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2016 sebesar 5,2 persen, seperti asumsi dalam APBN Perubahan 2016 diragukan. Pasalnya kondisi fiskal yang ketat akan sangat memberatkan pemerintah bisa mencapai target tersebut.

Wakil Ketua Komisi XI DPR RI dari Fraksi PAN, Hafisz Tohir, mengatakan, target pemerintah untuk mengejar pertumbuhan ekonomi pada tahun 2016 sebesar 5,2 persen akan jauh dari harapan.

Menurutnya melihat kondisi fiskal yang masih ketat, diperkirakan ekonomi tak akan bisa tumbuh 5.2 persen seperti yang disampaikan Menko Bidang Perekonomian, Darmin Nasution. "Paling ekonomi akan tumbuh di 5.0 persen," kata Hafisz kepada gresnews.com, Jumat (7/10).

Menurutnya jika pun pemerintah bersikeras untuk mengajar target pertumbuhan ekonomi dalam kondisi saat ini. Maksimal yang bisa tercapai 5,1 persen. Itu pun dengan syarat Tax Amnesty harus bisa menyetorkan pemasukan senilai Rp165 triliun ke kas negara.



"Pak Darmin terlampau over optimis tapi tidak cukup didukung kondisi yang ada saat ini," ujarnya.

Sementara itu peneliti Institute for Development of Economics and Finance, Mohammad Reza Hafiz mengatakan, target pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 persen jangan hanya dilakukan di tingkat pusat, tetapi harus dimonitor dan terlaksana hingga pemerintahan tingkat bawah.

"Saya pikir perlu ada evaluasi dampak jangka pendek dari paket kebijakan itu, sehingga bisa menjadi stimulan bagi dunia usaha dan investor asing/domestik," kata Reza kepada gresnews.com, Jumat (7/10).

Selain itu, jika melihat dari geliat kredit yang menuju single digit, bisa dilihat bahwa prospek ekonomi masih lemah. "Perlu ada koordinasi fiskal-moneter agar atmosfer kredit perbankan, khususnya kredit investasi dan modal kerja dapat lebih meningkat, sehingga dunia usaha bisa ekspansi," ujarnya.

Dia menyebutkan, bahwa pertumbuhan ekonomi memang perlu didongkrak, tetapi jangan hanya mencapai target semata.

"Pertumbuhan harus berkualitas agar elastisitas terhadap peningkatan tenaga kerja dan reduksi kemiskinan semakin meningkat," tegasnya.

Baca selanjutnya: 1 2

Komentar