Langkah Jokowi Menggenjot Infrastruktur Udara

Kamis, 29 Juni 2017, 17:00:00 WIB - Ekonomi

Petugas Bandara menyambut kedatangan penerbangan perdana NAM Air di Bandara Blimbingsari, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (16/6). Maskapai Penerbangan NAM Air resmi membuka rute baru dari Bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta ke Bandara Blimbingsari Banyuwangi, yang diharapkan dapat memudahkan akses menuju Banyuwangi dan sekitarnya seperti, Jember, Situbondo, Bondowoso dan Bali Barat. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Selain infrastruktur perhubungan darat dan tol laut yang digenjot pembangunannya oleh pemerintah Joko Widodo (Jokowi). Saat ini pemerintah juga tengah gencar menggenjot jalur perhubungan udara, dengan pembangunan dan pengembangan sejumlah bandara baru.

Bahkan hingga sepuluh tahun mendatang pemerintah telah merencanakan membangun 45 bandara baru. Pembangunan ini untuk meningkatkan laju pertumbuhan penumpang udara.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Herry Bakti S Gumay menyebut langkah pembangunan bandara baru itu dilakukan untuk mendukung pertumbuhan industri penerbangan yang sangat pesat. Menurutnya untuk tahap pertama, akan dibangun 24 bandara baru hingga tahun 2017. Sisanya akan akan dibangun bertahap hingga tahun 2022. Pembangunan bandara itu akan tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Pembangunan bandara-bandara juga sebagai langkah antisipasi bertambahnya jumlah pesawat yang dibeli dan beroperasi di Indonesia. Pembelian pesawat besar-besaran itu terlihat dari MoU (memorandum of understanding) sejumlah maskapai nasional dengan produsen pesawat seperti Boeing dan Airbus.



Lonjakan pertumbuhannya tidak hanya terjadi dari jumlah penumpang, tapi juga industri penerbangan.

Rencana pembangunan sejumlah bandara itu sudah dimulai sejak tahun 2011 dengan membangun dan relokasi 24 bandara. Sampai saat ini, tengah dilaksanakan pembangunan delapan bandara baru, yakni Bandara Muara Bungo (Jambi), Bandara Tual Baru (Maluku), Bandara Waisai Raja Ampat (Papua Barat), Bandara Enggano (Bengkulu), Bandara Sumarorong Tahap II (Mamasa), Bandara Waghete Baru (Papua), Bandara Kamanap Baru (Papua) dan Bandara Pekonserai (Lampung Barat).

Konsentrasi pembangunan bandara-bandara itu memang dikonsentrasikan di daerah-daerah pedalaman sebagai upaya untuk membuka keterisolasian daerah. Bandara di pedalaman itu rata-rata memiliki panjang dan lebar landas pacu (runway) 900 meter x 300 meter atau 1.400 meter x 300 meter yang hanya bisa didarati pesawat jenis ATR-42, DHC-7, dan Cassa 212, atau pesawat Hercules 130 dan ATR-72.

Untuk pembangunan satu bandara itu pemerintah akan mengalokasikan anggaran sebesar Rp200 miliar. Untuk tahun ini Kementerian Perhubungan memperoleh alokasi anggaran sebesar Rp3 triliun.

Pembangunan bandara baru terbesar untuk saat ini adalah Bandara Kertajati Jawa Barat. Dimana panjang landasanya mencapai 3000 meter dengan lebar 60 meter. Runway yang dimiliki tergolong sangat besar dan kategori bandara Internasional yang mampu menampung pesawat komersial jenis Airbus A380. Pembangunannya ditargetkan akan rampung pada 2017 ini.

Baca selanjutnya: 1 2

Komentar