Kunjungan Raja Salman dan Akses Dana tak Terbatas

Selasa, 28 Februari 2017, 11:00:00 WIB - Ekonomi

Wakapolri Komjen Pol Syafruddin (kedua kanan) dan Duta Besar Arab Saudi Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi (kedua kiri) bersiap memberikan keterangan pers terkait pengamanan Raja Salman di Mabes Polri, Jakarta, Senin (27/2). Polri menyatakan sebanyak 10 ribu personel gabungan Polri-TNI bakal dikerahkan di tiga lokasi yang dikunjungi Raja Salman yakni Jakarta, Bogor (Jawa Barat) dan Bali. (ANTARA)

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Kunjungan Raja Salman bin Abdulaziz Al-Saud dari Arab Saudi dinilai akan memberikan "berkah" ekonomi kepada Indonesia. Berkah itu berupa akses terhadap dana tak terbatas dari Timur Tengah yang bisa digunakan untuk mendanai pembangunan infrastruktur di Indonesia. Hal itu ditegaskan oleh Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi) Bahlil Lahadalia

Bahlil menilai, kunjungan Raja Salman dari Arab Saudi sangat strategis untuk pembangunan infrastruktur di Tanah Air. Menurut Hipmi, Arab Saudi dapat dijadikan pintu masuk mengakses dana-dana tak terbatas (unlimited fund) di Timur Tengah. "Dalam konteks Indonesia yang sedang membangun infrastruktur, Arab Saudi dapat menjadi pintu masuk untuk mengakses unlimited fund di Timur Tengah," ujar Bahlil dalam keterangan tertulis yang diterima gresnews.com, Senin (27/2).

Bahlil mengatakan, pemerintah membutuhkan dana yang besar untuk membangun infrastruktur. Selain Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), pemerintah telah mengeksplorasi pembiayaan non APBN atau PINA. Melalui skema PINA ini, pemerintah dapat juga mengoptimalkan sumber pembiayaan dari Timur Tengah melalui Arab Saudi.

Dia mengatakan, selain China, Jepang, sumber pembiayaan Timur Tengah dapat menjadi alternatif utama. Sebab potensi dana dari Timur Tengah sangat besar. Hipmi mengatakan, selama ini dana-dana investasi dari Timur Tengah masih sangat mahal. Sebab dana tersebut terlebih dahulu "tersangkut" di Malaysia dan Singapura.

"Sebab dua negara ini lebih gesit dari kita. Dia bilang investasi dia. Padahal dananya dari Timur Tengah. Makanya kita tidak boleh kalah gesit dari Malaysia dan Singapura. Kita optimalkan kedatangan Raja Saudi Arabia," tegas Bahlil.

Bahlil mengatakan, salah satu penyebab Timur Tengah belum melirik Indonesia sebab trust dan rasa nyaman investor negara-negara Arab belum tercipta. Hal itu terlihat dari masih sedikit perbankan Timur Tengah membuka cabangnya di Indonesia. "Coba ke Malaysia, Singapura dan Thailand, ada cabang-cabang bank terbesar asal Timur Tengah di mana-mana," papar Bahlil.

Bahlil mengatakan, hal ini didorong juga oleh keberhasilan negara-negara tetangga itu mengembangkan sistem keuangan syariah. "Bahkan Singapura bisa menjadi hub lembaga keuangan Timur Tengah di kawasan Asia Tenggara. Dia mampu menerbitkan sukuk berskala internasional. Sedangkan proyeknya yang akan dibiayai ada di Indonesia. Kenapa Singapura bisa, kita tidak?" tanya Bahlil.

Hipmi menilai sudah saatnya Indonesia melakukan upaya bypass agar dana-dana Timur Tengah langsung mengendap di Indonesia dan membiayai berbagai proyek infrastruktur, pertanian, dan pariwisata. Kunci dalam membangun hubungan dengan negara-negara kaya di Arab adalah membangun rasa nyaman.

"Terlebih Indonesia-Arab Saudi terdapat kesamaan hubungan emosional keagamaan. Hubungan historis yang sangat baik dengan pemerintah dan rakyatnya. Jadi ada pendekatan pribadi atau kultural, kemudian baru disusul pendekatan komersil atau industrialis. Ini bedanya dengan bangsa-bangsa barat," ujar Bahlil.

Sebab itu, Bahlil mengharapkan pemerintah mampu membangun hubungan kultural lebih erat dengan Arab Saudi.

Indonesia memang bisa berharap akan bernasib baik seperti Malaysia. Di negeri jiran itu, kunjungan Raja Salman selama empat hari sejak Minggu (26/2) lalu, menghasilkan kesepakatan investasi senilai US$7 miliar atau sekitar Rp93 triliun. Investasi ini dilakukan oleh BUMN perminyakan Arab Saudi, Saudi Aramco. Adapun investasi yang dikucurkan berupa proyek pembangunan kilang minyak yang dilakukan oleh Petronas.

Saudi Aramco bakal menanamkan investasi US$7 miliar ke proyek kilang minyak Petronas yang nilainya US$27 miliar. "Ini investasi yang sangat besar dan sangat signifikan," kata Perdana Menteri Malaysia Najib Razak, seperti dilansir dari AFP, Senin (27/2).

Kilang tersebut bakal membuat Singapura dan Johor Selatan sebagai pusat kilang minyak dan petrokimia di Asia Tenggara. Proyek ini disebut menciptakan ribuan lapangan kerja di Malaysia.


Baca selanjutnya: 1 2 3

Komentar