Mencari Format Subsidi Listrik Tepat Sasaran

Kamis, 25 Mei 2017, 11:00:00 WIB - Ekonomi

Pekerja konveksi menyelesaikan pembuatan celana olahraga di Kampung Bantargedang, Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (3/5). Pencabutan subsidi tarif daya listrik berdaya 900 Volt Ampere (VA) berdampak pada produksi pelaku usaha kecil menengah bidang konveksi yang menurun dari sebelumnya mampu memproduksi 1.500 potong celana menjadi 600 potong celana per hari. Permasalahan ini juga mengancam dikuranginya jumlah pekerja. (ANTARA)

CEK PELANGGAN LAYAK - Terkait kebijakan ini, PLN sendiri mulai melakukan pengecekan kesesuaian kondisi pelanggan 450 VA dengan data TNP2K. 'Mulai di Februari-Maret lalu, pencocokan data sudah jalan. Kita tidak hanya mencocokan identitas, tapi juga melihat kondisinya,' kata Kepala Satuan Komunikasi Korporat PLN, I Made Suprateka, beberapa waktu lalu.

Berbeda dengan listrik 900 VA, kata Made, sebagian besar pelanggan 450 VA benar-benar golongan tidak mampu. Hanya minoritas saja yang tidak tepat sasaran. 'Sedikit saja yang tidak match. Bisa nyalain apa pakai 450 VA? Beda dengan 900 VA yang sudah bisa punya kulkas, televisi, dan sebagainya,' papar Made.

Ia menambahkan, dimulainya pendataan ini bukan berarti subsidi tepat sasaran untuk pelanggan 450 VA akan segera dijalankan. Prosesnya masih panjang. Setelah verifikasi data pelanggan selesai, PLN akan menyerahkan hasilnya ke pemerintah. Pemerintah yang akan memutuskan tindak lanjutnya bersama DPR. 'Prosesnya masih panjang, harus dengan persetujuan Presiden, persetujuan DPR, dan sebagainya,' tutupnya.

Sementara itu, kenaikan tarif dasar listrik per 1 Mei 2017 menurut pihak DPR dilakukan tanpa kajian matang. Anggota Komisi VI Khilmi mengatakan, kenaikan TDL tersebut akan menimbulkan berbagai persoalan, terutama bagi penduduk miskin.

'Saya mempertanyakan tentang kenaikan listrik bagi masyarakat kecil. Banyak pertanyaan dari masyarakat tentang kenaikan listrik ini. Jadi pemerintah ini memukul rata kenaikan listrik antara masyarakat yang tidak punya dengan yang punya,' ungkap Khilmi.

Kenaikan tarif listrik dinilai akan memberatkan masyarakat dan mengancam tumbuhnya masyarkat miskin baru. Setiap kali terjadi kenaikan TDL, maka akan dibarengi dengan kenaikan harga kebutuhan pokok dan tentunya akan menyebabkan menurunnya daya beli masyarakat. Kenaikan TDL akan menyebabkan biaya produksi meningkat.

Ketidaksetujuan Khilmi dengan kenaikan listrik sangat beralasan, saat reses banyak keluhan masyarakat di daerah pemilihannya. Di Jawa Timur X meliputi Lamongan, Gresik dan sekitarnya yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai buruh dan tani, merasa terbebani dengan kenaikan tarif listrik.

Kebijakan menaikkan tarif listrik yang tanpa kajian mendalam dibarengi dengan kondisi perekonomian masyarakat yang masih dalam kondisi tidak menentu, terlebih lagi masyarakat akan dihadapkan dengan bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri. Kenaikan TDL tersebut, akan menimbulkan berbagai persoalan, terutama penduduk miskin akan bertambah yang disebabkan daya beli masyarakat yang masih melemah. (dtc)


Baca selanjutnya: 1 2

Komentar