FinSpy, ´Tentara Bayaran´ Diktator & Koruptor

Selasa, 19 Maret 2013, 12:01:00 WIB - Analisis_hukum

Memata-matai dengan FinSpy (wikileaks.org)

GRESNEWS.COM - Pada 13 Maret 2013, peneliti dari The Citizen Lab (sebuah laboratorium antardisiplin ilmu yang berbasis di Munk School of Global Affair University of Toronto Canada yang memfokuskan penelitian dan pengembangan mutakhir terhadap hubungan antara media digital, keamanan global dan HAM) yakni Morgan Marquis-Boire, Bill Marczak, Claudio Guarnieri, dan John Scott-Railton, menulis hasil analisis proses pemindaian (scan) terhadap server (command and control) secara menyeluruh di jaringan internet seluruh dunia. Server yang dimaksud adalah server yang mengoperasikan perangkat lunak (software) FinFisher.

Software FinFisher ini diidentifikasikan sebagai software mata-mata (surveillance software). Hasil yang mengejutkan adalah nama Indonesia masuk 25 nama negara dimana software FinFisher ini digunakan oleh server-server tertentu. Pemindaian yang dilakukan oleh para peneliti ini akhirnya menemukan lima alamat IP (Internet Protocol) di Indonesia. Alamat-alamat IP ini diidentifikasikan dimiliki oleh tiga penyedia jasa internet/Internet Service Provider (ISP) besar di Indonesia yaitu PT Telkom, PT Matrinex Global, dan Biznet ISP.

Hal ini langsung dibantah melalui pernyataan wakil-wakil perusahaan ISP tersebut. Head of Corporate Communication and Affair PT Telkom, Slamet Riyadi, menegaskan bahwa PT Telkom tidak memiliki server untuk melakukan monitoring atau mematai-matai pelanggan. Sementara itu Presiden Direktur Biznet network, Adi Kusuma, menyatakan bahwa pihaknya tidak memiliki policy semacam itu. Lebih lanjut Slamet Riyadi menyampaikan bahwa berdasarkan laporan The Citizen Lab tersebut diduga alamat IP yang dimaksud mungkin milik pelanggan Astinet/Transit Telkom. Walaupun untuk mengidentifikasinya perlu alamat IP yang lengkap. Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Komunikasi dan informasi (Kominfo) Gatot S Dewobroto memaparkan apabila penjabaran laporan penelitian tentang penggunaan software mata-mata ini sudah diverifikasi maka pelaku melanggar Pasal 40 Undang-Undang Telekomunikasi tahun 1999. Namun menurutnya hal ini memerlukan pembuktian melalui proses hukum yang lebih jauh.

Software mata-mata
FinFisher menjadi isu yang hangat dibicarakan oleh masyarakat internasional sejak para demonstran yang menggulingkan Hosni Mubarak berhasil mengungkap dokumen-dokumen di sebuah kantor intelijen kepolisian di Mesir. Dokumen-dokumen ini ternyata berisi kontrak antara perusahaan Gamma International dengan kepolisian rahasia Mesir senilai 287.000 Euro sebagai izin bagi kepolisian untuk menjalankan software FinFisher di Mesir.




Baca selanjutnya: 1 2 3

Komentar