Geliat UMKM di Indonesia: Membawa Karya Hingga ke Mancanegara

Kamis, 09 Maret 2017, 15:00:00 WIB - Advertorial

Berbagai macam varian produk hasil kerajinan berbentuk lemari kecil, patung, wayang, dan topeng yang di-display di outlet Catur Batik Wood.

PANTANG MENYERAH DAN TOTALITAS. Itulah kunci keberhasilan dua pelaku UMKM Mitra Binaan Telkom, Catur Sugiyono dan Zulfian. Meski menemui tantangan dan keterbatasan, mereka tidak berputus asa. Bahkan produk mereka telah masuk ke pasar mancanegara.

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) saat ini menjadi salah satu penggerak roda perekonomian nasional. Peran penting UMKM bahkan disiratkan dalam salah satu poin Nawa Cita pemerintah mengenai kemandirian ekonomi dan sektor-sektor strategis domestik. Di era global ini, kemandirian ekonomi melalui UMKM diharapkan berdampak terhadap peningkatan daya saing bangsa.

Kerajinan Batu dan Kayu

Zulfian, salah seorang pelaku UMKM dari sektor kerajinan berbahan batu dan kayu, merupakan potret pahlawan ekonomi domestik yang sukses memperkenalkan keindahan batu alam Indonesia yang divariasikan di atas kayu kepada pembeli dari berbagai negara.

'Saya mulai menekuni kerajinan ini pada tahun 2003, awalnya Saya hanya ingin memanfaatkan limbah kayu dari pabrik meubel yang ada di dekat rumah,' cerita Zulfian mengenai gagasan produk usahanya. Selain memanfaatkan limbah ia juga ingin memberdayakan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya.

Setelah melalui berbagai percobaan memproduksi kerajinan tersebut, Zulfian akhirnya mendirikan usaha membuat bermacam-macam kotak diantaranya kotak perhiasan, kotak tissue, bahkan berbagai plakat penghargaan di bawah bendera V&V Craft.

Meski sambutan dari konsumen cukup menggembirakan, namun Zulfian tetap tersandung persoalan klasik, yaitu keterbatasan modal dan flow pemasaran yang belum jelas.

'Saya mendatangi berbagai perusahaan dan institusi untuk menawarkan produk. Ketika ada pesanan dalam jumlah besar, saya bukannya gembira. Malah pusing. Masalahnya modal untuk membeli bahan baku dan menggaji karyawan tidak cukup,' kenangnya. Akibatnya, peluang bisnis di depan mata dengan berat hati ia tolak.

Kesulitan sekaligus potensi Zulfian sebagai UMKM terdengar oleh PT Telkom Indonesia (Persero), Tbk (Telkom). Melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) Zulfian mendapat bantuan. Tidak hanya bantuan permodalan, ia juga mendapat bantuan pelatihan dan diberikan fasilitas pemasaran produknya melalui penawaran berbagai pameran. 'Saya kerap diajak mengikuti pameran bersama Telkom bahkan hingga ke luar negeri,' jelas Zulfian.

Dua kali ia mendapat bantuan permodalan dari Telkom dan berbagai pelatihan ia ikuti, mulai dari pelatihan produksi, manajemen, pemasaran dan packaging. Ia juga diikutsertakan dalam pelatihan ekspor di Pusat Pelatihan Ekspor Nasional (PPEN) Departemen Perdagangan RI di Jakarta.

'Alhamdulillah, berkat pendampingan dari Telkom usaha saya terus berkembang. Sekarang omset per tahunnya mendekati Rp 1 miliar,' ujar Zulfian senang. Saat ini tidak kurang lima belas orang menjadi karyawannya. Jumlah itu belum terhitung tenaga-tenaga paruh waktu ketika pesanan meningkat. Semua karyawan itu adalah kerabat dan tetangganya. Jadi secara tidak langsung Zulfian telah memberdayakan dan mensejahterakan lingkungannya.

Berkat keikutsertaannya mengikuti pameran, ia banyak memperoleh buyer potensial baik dari dalam maupun luar negeri. Beberapa perusahaan nasional hingga BUMN kini menjadi konsumennya. Sedangkan untuk pasar ekspor, ia sudah mengirim produksinya ke Malaysia, Singapura hingga Afrika Selatan.

Kerajinan Batik Kayu

Membatik umumnya dituangkan di atas kain. Namun bagi Catur Sugiyono, justru kayu merupakan media untuk menuangkan motif batik. Batik kayu sendiri merupakan produk dari kayu yang dibatik dengan berbagai motif sesuai dengan jenis dan model yang diinginkan. Bentuknya bermacam-macam, ada pigura, patung, tongkat, dan topeng. Daya tariknya terletak pada motif batiknya yang atraktif namun memiliki kesan klasik.

Batik Kayu yang dikenal dengan brand Catur Batik Wood ini, sudah tersebar di outlet-outlet Jakarta dan Bali, antara lain dua tempat di Sarinah-Thamrin, Jakarta Pusat, dua tempat di terminal E dan D Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng-Tangerang, dan tiga tempat di Bali. Tidak hanya dikenal di Indonesia, karya-karya batik kayu tersebut tak hanya beredar di Indonesia. Sejumlah negara, seperti Malaysia, India, Afrika Selatan dan Perancis sudah menjadi tujuan ekspor produknya. Omsetnya pun sudah mencapai ratusan juta rupiah per bulannya.

Catur memulai usahanya pada tahun 1996, mulanya ia hanya membuat topeng cat dengan modal sebesar Rp1,5 juta. Sumber bahan baku dan tempat produksi batik kayu terletak di sekitar tempat tinggalnya dahulu yaitu di kawasan Jogonalan, Bantul-Yogyakarta.

Seiring banyaknya hotel dan perumahan yang berdiri di Jakarta, produk batik kayu Catur mulai banyak dicari untuk dijadikan sebagai elemen dekorasi hotel dan rumah. Setelah berhasil menguasai pasar dalam negeri, pada tahun 1999 Catur mulai mengekspor produknya ke beberapa negara. Berbeda dengan konsumen dalam negeri, konsumen mancanegara lebih memilih produk yang dibuat secara handmade dengan memiliki tingkat kesulitan yang tinggi dan tentunya bernilai seni tinggi juga.

Uniknya, yang menjadi ketertarikan para konsumen mancanegara bukan terletak pada desain, tapi lebih pada pilihan warna. Jepang dan China menyukai warna cerah sedangkan kawasan Amerika lebih menyukai warna klasik seperti cokelat. Khusus untuk masyarakat Asia seperti China dan Jepang, produk itu akan semakin diminati kalau mengandung unsur hoki.

Catur berterima kasih kepada Telkom, pasalnya sebagai Mitra Binaan BUMN tersebut, ia sangat terbantu. Menurut Catur, peran Telkom tidak terbatas pada bantuan pemodalan saja, tetapi juga pelatihan dan pameran. Sejak mengikuti pelatihan manajemen bisnis & ekspor yang difasilitasi Telkom, usahanya semakin terkelola dengan baik dan kegiatan ekspor produknya semakin meningkat.

Catur meyakini media yang paling tepat adalah dengan mengikuti pameran baik di dalam maupun luar negeri, apalagi segmentasi pasarnya adalah menengah keatas. Dalam satu tahun, ia bisa mengikuti 4 pameran di dalam dan 4 pameran di luar negeri. 'Telkom juga memfasilitasi untuk mengikuti pameran baik di dalam maupun di luar negeri,' katanya.

Mengenai kiat usahanya, Catur mengatakan, baik sebagai perajin maupun pengusaha, ia harus jeli membaca tren dan senantiasa menjaga kualitas. 'Kita harus total, menyatu dengan produk kita. Kalau kita menyayangi produk kita, maka produk pun akan menyayangi kita,' ujarnya. Kedepan, ia dibantu oleh Telkom dalam mempersiapkan strategi pemasaran online agar produknya lebih dikenal secara global.

V&V Craft dan Catur Batik Wood merupakan dua UMKM binaan Telkom yang terpilih untuk menampilkan produknya di pameran kerajinan digital pertama, Telkom Craft Indonesia, pada 10-12 Maret 2017 di Hall A Jakarta Convention Center.

Komentar